Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Impianku tak Kenal Batas

Impianku tak Kenal Batas

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (syahrulsila.wordpress.com / dasraldesign)

dakwatuna.com – Jika kita pernah menyaksikan jejak petualangan seseorang yang ditayangkan di televisi, maka seolah kita sedang menyaksikan sebuah roda kehidupan ini. Betapa hidup sebenarnya adalah kerja keras yang bertujuan untuk mendapatkan kesuksesan. Tentu saja dengan melakukan hal-hal yang terbaik yang bisa kita lakukan. Seorang petualang akan melakukan hal apa saja demi mencapai sebuah tujuannya.

Jika ia adalah seorang pendaki gunung, maka batu terjal, hutan rimba, cuaca yang dingin sudah barang tentu menjadi hambatan untuk dilewati agar sampai ke puncak yang ia tuju. Jika ia adalah seorang pembalap motor yang ulung, tentu saja tikungan-tikungan tajam menjadi tantangan, agar bisa melewati lap demi lap dengan kecepatan tercepat. Jika ia seorang petinju handal maka ia akan berusaha mengalahkan lawan dengan sebaik mungkin. Dan masih banyak hal yang lainnya yang membuat seseorang mempertaruhkan dirinya untuk sebuah kesuksesan.

Dengan demikian salah satu dari barometer keberhasilan adalah kerja keras. Maka wajar saja ada pepatah mengatakan, “Seberapa besar usahamu maka sebesar itu pulalah keberhasilan yang akan kamu peroleh”. Tolak ukur untuk sebuah keberhasilan adalah kerja keras dan usaha yang lebih. Lantas bagaimanakah kita bisa menghadirkan semangat kerja keras kita dalam mencapai sebuah kesuksesan?

Yang pertama Jawabannya adalah Berani bermimpi. “Al-kullu yubda’u bil ahlam” semua itu dimulai dari mimpi. Seberapa besar impian Anda dan seberapa besar Anda untuk mimpi itu. Sejarah telah mengukir jejak para petualang kehidupan yang sukses. Bahwa banyak di antara mereka adalah orang yang fokus terhadap impian mereka. Siapa yang tak kenal dengan sosok imam besar yang satu ini, imam Syafi’i.

Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa beliau sangat ingin sekali pergi ke Mesir untuk bisa belajar kepada ulama-ulama Mesir terutama kepada Imam Al-laisi, namun karena hidup dengan kondisi kekurangan ketika itu, akhirnya setelah bertahun-tahun barulah impian beliau untuk bisa ke Mesir terwujud. Impian memang tak mengenal batas, dengan mimpi orang dapat melakukan apa saja yang ia Inginkan walau harus melakukan hal yang terpahit sekalipun, tak ada yang dapat menghalangi usahanya jika impian sudah ditetapkan.

Kemudian, jadikan kesulitan itu sebagai energi untuk menuju sukses. Bagi orang yang memiliki impian yang kuat maka halangan dan rintangan bukan lagi menjadi penghambat, justru keduanya menjadi energi positif yang dapat menghantarkan dirinya kepada impian yang ia inginkan. Seorang imam Malik sebelum beliau menjadi ulama besar, dikisahkan bahwa beliau pernah menjual atap rumahnya untuk bekal menuntut ilmu, dengan kondisi kekurangan seperti itu justru imam Malik muncul sebagai sosok ulama darul hadits yang termasyhur di kalangan Madinah ketika itu. Demikian pula imam Syafi’i karena kemiskinannya beliau terpaksa harus mengais-ngais sampah untuk mendapatkan kertas, namun beliau sangat sabar dan mampu melewati masa-masa itu sehingga nama beliau dikenang sampai saat ini. Terbukti bahwa semua kesulitan itu telah menghantarkan mereka untuk merubah mimpi menjadi kenyataan.

Selanjutnya, kesuksesan yang tertunda itu bukan berarti kegagalan selama-lamanya. Mungkin masing-masing kita pernah merasakan hal yang satu ini. Misalnya gagal ketika mengikuti ujian nasional (UN), gagal untuk mendapatkan beasiswa di universitas yang ada di Indonesia, atau rosib (tidak naik tingkat) dalam imtihan di Al-Azhar. Namun siapa yang menyangka justru semua kegagalan itu kini berakhir dengan hikmah yang luar biasa. Misalnya yang dulunya tidak lulus beasiswa di Indonesia, namun kini mendapatkan kesempatan belajar di universitas Al-Azhar, universitas Islam tertua di dunia. Demikian pula halnya yang tahun lalu rosib, justru kini najah (naik tingkat) dengan nilai terbaik. Semua Itu mungkin hanya sebagian hikmah yang bisa kita petik dari sebuah keberhasilan yang tertunda. Dan tentunya Allah pasti jauh lebih tau terhadap apa yang kita butuhkan.

Semua hikmah itu akan terasa manis ketika kita tahu bahwa kesuksesan yang tertunda bukan berarti kegagalan untuk selama-lamanya. Ingat kesuksesan yang tertunda, bukan berarti impian kita telah berakhir, ketahuilah bahwa akan ada hikmah dan kesuksesan selanjutnya. Dalam sejarahnya imam Syafi’i yang gagal untuk bertemu dengan imam Al-laisi (Mesir) ketika itu dikarenakan kekurangannya tidak lantas membuat imam Syafi’i patah semangat, bahkan beliau mampu mendapatkan yang lebih baik dari itu semua, hingga akhirnya beliau bisa menetap di Mesir sampai akhir hayatnya.

“Yakinilah, bahwa bagaimanapun Impian tak akan mengenal batas, siapa pun ia yang ingin sukses harus berani bermimpi dan berani bekerja keras untuk mewujudkan impiannya. Jangan khawatirkan batas antara impian dan kenyataan. Jika kita dapat memimpikannya, maka insya Allah kita dapat mewujudkannya. Tapi ingat kawan kita tidak dapat hanya duduk dan menunggu seseorang hadir kemudian memberikan mimpi emas. Kita harus keluar dan membuatnya terjadi pada diri kita sendiri”.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (21 votes, average: 8,10 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Syafni Agmal
Nama asliku Novrinaldi.S, panggilan akrab Novri, atau aldi juga boleh..heheh lahir 1 November 1990, sekarang sedang melanjutkan studi di Al-Azhar University Cairo. "Tak ada yang istimewa dalam hidup ini, kecuali bisa saling berbagi manfaat terhadap sesama" perubahan itu sangat dibutuhkan maka milikilah jiwa dan mental sebagai agent of change...

Lihat Juga

Ilustrasi. (Dena Fadillah)

Melihat Kondisi Pendidikan di Perbatasan: Puluhan Anak Terancam Putus Sekolah