Home / Pemuda / Cerpen / Burung, Monyet, dan Siput

Burung, Monyet, dan Siput

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (cintabahari.com)

dakwatuna.comDi sebuah hutan, tinggallah seekor burung, monyet, dan siput. Setiap pagi burung berkicau merdu, terbang ke sana kemari. Dia bebas mengepakkan sayapnya dan menjelajahi seisi hutan itu. Dia terlihat begitu bahagia. Si monyet pun demikian, ia tampak begitu lincah. Melompat dari satu pohon ke pohon lainnya. Hidupnya terlihat begitu mengasyikkan.

Lain halnya dengan siput, ia memandang iba pada dirinya sendiri. Dia menangisi dirinya yang terlahir tanpa sayap seperti yang burung miliki, dia menyayangkan dirinya yang tidak tercipta selincah monyet. Setiap hari siput hanya berdiam diri, meratapi nasib dan sesekali memandang indahnya hidup burung dan monyet.

Hingga kemudian, di suatu pagi…

Sang burung datang mengepakkan sayapnya sampai terengah-engah. Dia tampak begitu panik dan khawatir. Monyet yang merasa heran melihat tingkah burung yang berbeda dari biasanya pun menyapa burung seraya bertanya,

“Hai burung, ada apa? Mengapa kau terlihat begitu panik?”

“Hei monyet, aku mendengar berita buruk. Ada sekelompok manusia yang hendak menangkap semua hewan di hutan ini untuk diperjualbelikan.”

Siput yang turut mendengar jawaban dari burung tersentak, “hah, apa aku termasuk salah satu hewan yang akan di tangkap itu?”

“Ya siput, semua hewan termasuk kau!”

“Lantas kau mau pergi ke mana burung?” tanya monyet.

“Aku ingin terbang sejauh mungkin sampai mereka tak bisa temukan aku.”

“Baiklah aku juga ikut bersamamu, aku akan melompat dari satu pohon ke pohon lain sampai di tempat yang kurasa mereka tak dapat menemukanku”

Burung dan monyet bergegas pergi. Siput semakin menciut karena ia sadar bahwa dirinya tak dapat ikut bersama mereka. Lantas siput berteriak, “Hei, bagaimana denganku? Aku tak bisa terbang dan melompat. Apa yang harus kulakukan agar selamat? ”

“Kau punya cangkang kawan!” jawab burung singkat lalu meneruskan perjalanannya.

Siput tertegun mendengarnya.

“Cangkang?! Cangkang?!” pikirnya melambung.

“Ya kau benar kawanku, aku punya cangkang.” Ucapnya lirih. Sang siput pun segera bersembunyi di dalam cangkangnya.

Saudaraku…

Betapa sering perhatian kita terpusat pada apa yang tidak kita miliki, sehingga kita lupa bersyukur atas apa yang telah kita miliki. Betapa sering perhatian kita terpaut pada kekurangan yang ada pada diri, sehingga kita lupa bahwa ada kelebihan yang harus di sikapi dan di syukuri. Kita sibuk menghitung-hitung bahkan membangga-banggakan kelebihan dan kehebatan orang lain hingga mengerdilkan bahkan merendahkan diri sendiri.

Tidak perlu kau membanding-bandingkan dirimu dengan orang lain. Karena Allah telah menciptakan manusia dengan segala kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Allah Maha Adil, sobat. :)

Sekarang baliklah semua inti perhatianmu…

Mulailah untuk memperhatikan apa yang sudah kau miliki, kemudian syukuri!

Mulailah untuk memperhatikan kelebihanmu, kemudian sikapi dan syukuri!

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (30 votes, average: 9,60 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

  • Assalammualaikum wr wb..
    Wah hebat sekali substansi artikelnya..
    Saya mohon izin share ya..
    Jazikillah Khoiron Katsiron…
    Wassalammualaikum wr wb.

Lihat Juga

Kenapa Burung Unta Benamkan Kepalanya di Pasir? Benarkah Untuk Sembunyi dari Musuh?