Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Bagaikan Katak Dalam Tempurung

Bagaikan Katak Dalam Tempurung

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com “Bagaikan katak dalam tempurung”, mungkin peribahasa ini sering kita dengar, tapi sedikit kita yang memahaminya. Sekedar mengingatkan kita kembali bahwa jangan pernah membatasi kemampuan dan pemikiran kita. Jangan selalu merasa cukup dengan apa yang kita miliki sekarang terutama ilmu pengetahuan. Karena ilmu tidak akan pernah habisnya dan tidak terbatas, semakin kita gali, semakin kita temukan, semakin kita serap dan kuras, bukan semakin kering dan habis, tapi justru semakin deras dan mengalir, itulah ilmu pengetahuan.

Orang yang selalu membatasi kemampuan dan pengetahuannya, yakinlah ia tidak akan mempunyai banyak ilmu dan pengalaman. Perasaan untuk membatasi diri itulah sebenarnya dinding penghambat kita, maka itu harus kita hancurkan. Hijrah, pergi, dan perpetualang lah di bumi Allah yang luas ini untuk mencari ilmu pengetahuan “Safir tajid ‘iwadan ‘an man tufariquhu, fansab fa inna ladzidzal ‘ilmi fin nasabi” tuntutlah ilmu, tinggalkan rumahmu, keluargamu, teman-temanmu, kesenangan mu, maka kamu akan mendapatkan ganti atas semua itu dan bersakit-sakitlah dahulu, karena manisnya ilmu akan terasa setelah bersusah payah.

Berbicara tentang ilmu pengetahuan, sedikit yang tergambar adalah sejuta keutamaan yang terdapat padanya, di antaranya adalah membebaskan manusia dari belenggu kebodohan, mengangkat derajat manusia baik di dunia maupun di akhirat dan lain sebagainya. Tidak hanya sekedar memahami keutamaan ilmu itu sendiri, akan tetapi kita mencoba untuk bagaimana kita menumbuhkan semangat dan kesadaran terhadap diri kita untuk bisa mengejar dan meraih ilmu tersebut.

Kita ini bisa diibaratkan bagaikan permata yang berada di dasar laut, yang belum bernilai tinggi kecuali setelah ia dikeluarkan dan diangkat ke darat, kemudian di bentuk seindah mungkin sehingga memiliki harga jual yang sangat mahal, yang mungkin hanya orang-orang yang ber-duit saja yang bisa memilikinya atau hanya bisa dipakai oleh pembesar-pembesar negara dan kerajaan saja. Begitulah kita, kebanyakan dari kita tidak tau potensi dan kapasitas keilmuan kita, terkadang juga selalu merasa cukup dengan keadaan sekarang sehingga kemampuan yang ia miliki pun menjadi benar-benar terbatas disebabkan karena perasaannya sendiri.

Ada ibrah yang bisa kita ambil dari sebuah permata. Lihat proses perubahan permata di atas, yang awalnya berada di bawah dasar laut, sampai kemudian bernilai tinggi yang diminati banyak orang. Ada proses perpindahan, selayaknya kita juga seperti itu. Jika kita ingin menjadi orang yang bernilai, maka jangan hanya berdiam diri saja, kita harus melakukan perubahan, hijrah dan lakukan perjalanan terutama dalam menuntut ilmu.

Abu Ishak Al-gazzi (Ulama yang berasal dari negeri Gaza) mengingatkan kita, jangan kamu merasa ta’jub kepada orang yang hanya belajar dengan satu guru saja, atau menetap di tempat tinggalnya saja, tidak mau memperluas diri dalam menuntut ilmu, seolah mengajarkan kita untuk berani melangkahkan kaki menuju pusat-pusat keilmuan yang lain,
pergilah lepaskan semua kebiasaan-kebiasaan yang menjadikan kita kerdil terhadap ilmu pengetahuan dan kemampuan.

Perumpamaan orang yang tidak mau mencari dan memperluas keilmuannya, ibarat orang buta yang tidak membutuhkan cahaya sebagai penerang dirinya. Kita bisa mengetahui bagaimana orang buta sebenarnya, ada atau tidak ada cahaya dan lentera, ia tetap tidak akan bisa melihatnya. Sikap manusia yang seperti itu sama dengan manusia buta. Sungguh jika sikap kita benar demikian maka sangat merugilah kita karena tidak bisa melihat indahnya cahaya sedangkan kita masih memiliki mata yang sempurna.

Perumpamaan di atas secara tidak langsung menyindir kita yang masih suka membatas-batasi pengetahuan maupun kemampuan kita. Sungguh dunia Allah ini sangatlah luas, di bumi ini terdapat banyak Negara yang di sana terbentang luas berbagai macam ilmu pengetahuan. Itu juga yang pernah dilakukan oleh imam Nakha’i, ia tidak pernah merasa puas dengan apa yang orang katakan, sampai ia benar-benar tau dari mana sumbernya. Dengan kata lain, untuk menghilangkan rasa penasarannya terhadap ilmu, imam Nakha’i selalu melakukan rihlatul ilmi (perjalanan mencari ilmu) sampai ia benar-benar menemukan orang yang menjadi sumber terhadap ilmu tersebut.

Kesungguhan dan ketamakan ulama-ulama terdahulu dalam mencari ilmu telah terbukti dengan lahirnya banyak karya di antara mereka yang masih kita rasakan sampai pada saat sekarang ini. Sudah sepantasnya kesungguhan dan kesabaran mereka dalam menuntut ilmu menjadi cerminan bagi kita untuk semakin bersemangat lagi. Karena semua kebaikan yang kita lakukan terhadap ilmu itu bernilai ibadah. Inilah yang pernah disampaikan oleh Mu’adz radiyallahu ‘anhu, “Pelajarilah ilmu pengetahuan, karena mempelajarinya adalah sebuah kebaikan, menuntut ilmu itu adalah sebuah ibadah, mengulang-ulang ilmu (pelajaran) itu adalah tasbih, pergi mencari ilmu adalah jihad, mengajarkannya kepada orang lain adalah sedekah.

Imam ‘Ali karamallahu wajhah juga pernah mengatakan “Al-‘ilmu khairun minal mal, al-‘ilmu yahrusuka, wa anta tahrusul mal”. Ilmu itu lebih baik dari pada harta, karena ilmu akan menjagamu, sedangkan harta, engkau yang akan menjaganya. Sungguh luar biasa keutamaan yang kita dapatkan terhadap ilmu, mulai dari usaha mencarinya sampai kita mendapatkannya.

Saya rasa kita sepakat bahwa tidak ada alasan lagi untuk menolak dan berpangku tangan terhadap ilmu, kita butuh usaha untuk meraihnya, jangan belenggu diri kita dengan membatasi pemikiran dan kemampuan kita, serta jangan hanya merasa puas dengan keadaan dan ilmu yang kita miliki sekarang, tapi selalulah merasa haus dan tamak terhadap ilmu dan pengetahuan.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (11 votes, average: 8,91 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Syafni Agmal
Nama asliku Novrinaldi.S, panggilan akrab Novri, atau aldi juga boleh..heheh lahir 1 November 1990, sekarang sedang melanjutkan studi di Al-Azhar University Cairo. "Tak ada yang istimewa dalam hidup ini, kecuali bisa saling berbagi manfaat terhadap sesama" perubahan itu sangat dibutuhkan maka milikilah jiwa dan mental sebagai agent of change...

Lihat Juga

Pembentukan Moral Mahasiswa melalui Integrasi Ilmu Pengetahuan