Home / Pemuda / Cerpen / Pertemuan di Bandara Casablanca

Pertemuan di Bandara Casablanca

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

dakwatuna.com “Ide dan pemikiran Ente itu bener-bener cemerlang Nif… Andai saja kamu hidup di zaman Imam Syafi’i, Imam Hambali atau Imam Malik dan Imam Khanafi  tentu kamu akan menjadi fuqoha terkenal yang kedudukannya gak jauh beda dengan mereka” Begitulah temanku mencoba bercanda pagi itu.

Saat aku selesai memakai sepatu dan merapikan bajuku, dua madah pelajaran pagi ini sudah kupersiapkan di dalam tasku, Hadits shahih muslim dan kitab Bidayatul Mujtahid. Kitab Bidayatul Mujtahid adalah salah satu kitab favoritku, begitu juga dengan syekh Muhammad Romli pengajar kitab tersebut adalah salah satu dosen yang aku segani. Hampir semua penjelasannya aku catat rapi dalam bukuku dan ku abadikan, beliau betul-betul menguasai isinya sehingga ketika beliau menjelaskan begitu luwes seolah yang berbicara di hadapan mahasiswa bukanlah Syekh Muhammad Romli lagi melainkan salah satu dari empat mazhab yang hadir di tengah-tengah mahasiswa.

Di dalam kitab tersebut pembahasannya terfokus pada seputar hukum fiqih yang terus berubah mengikuti perkembangan zaman. Perbedaan pendapat di tengah-tengah para ulama adalah suatu hal yang biasa dan tidak asing lagi bagi para pelajar yang memperdalam kajian kitab tersebut. Meski mereka berbeda pendapat dalam suatu pokok permasalahan namun mereka tetap berjalan beriringan dan bergandengan di atas ajaran kitab suci al Quran dan sunah RasulNya. Sungguh suatu rahmat yang sangat besar bagi saya bisa mengkaji dan memperdalamnya. Minimal kita paham terhadap hujah atau dalil yang dijadikan landasan mereka dalam menentukan ijtihadnya sehingga kita tidak mudah menyalahkan perbedaan pendapat orang lain ketika sudah kembali di tengah masyarakat yang semakin kompleks. Setelah semuanya siap kami pun segera turun dari asrama menuju kampus, sesekali kami saling melempar tanya jawab mengenai pelajaran yang sudah dipelajari.

“Apa hukumnya wali nikah menurut Imam Maliki?’’ Andi teman sekelasku mengawali tanya jawab itu dengan memberikan pertanyaan yang simple kepadaku.

Setiap langkah terukir indah bersama lembaran cerita bersama teman-temanku di tanah para wali yang penuh sejarah nan sejuk dan tenang ini. Keindahan pagi dengan kehangatan cahaya mentari yang tak bisa ku ungkapkan dengan kata-kata semakin menambah kenikmatan perbincangan kita. Subhanallah maha suci Allah kuasa sang pencipta yang maha indah, seniman yang maha agung, raja dari segala raja.

Setiap hari aktivitasku disibukkan dengan sebatang pena dan berkelahi dengan buku-buku pelajaranku, belajar berorganisasi adalah salah satu kegiatan yang kutekuni untuk mengisi kekosongan waktu sembari sesekali bersilaturahim dengan para asatidz mahgriby untuk mempererat tali silaturahim antara pelajar dan pengajar. Di sisi lain untuk menjaga keharuman nama pelajar Indonesia di mata mereka. Saya, teman-teman dan semua pelajar Indonesia yang menghabiskan waktunya untuk menggali ilmu di negeri para wali ini terkenal dengan kepintaran, kecerdasan, kebaikan dan kesopansantunannya, hampir semua pelajar di sini bisa dikatakan unggul dan berprestasi sehingga semua dosen sangat bangga. Seiring berputarnya waktu tanpa terasa teman-temanku telah menyelesaikan program master dan doktornya, karena merasa sudah mendapatkan modal yang cukup, banyak di antara kami yang pulang ke tanah air mengabdikan dirinya di tengah masyarakatnya dengan meninggalkan keharuman jejak-jejak langkah kakinya yang mulia.

Tibalah saatnya para generasi baru menggantikan kedudukan selanjutnya, meneruskan perjuangan kakak-kakak kelasnya, sementara aku masih betah di situ meneruskan program masterku bersama teman-teman baru. Jumlah pelajar Indonesia tahun ini mengalami penurunan 10 persen, tahun sebelumnya mencapai 80 pelajar dan sekarang hanya 72 pelajar. Sementara pelajar  baru yang menempuh master ada 10 semuanya sepakat dan satu tujuan untuk mendaftar di fakultas yang sama pula yaitu di “Universitas Oranggenah’’ Tetuan. sebuah kampus impian dan kebanggaan bagi para pelajar yang ingin melanjutkan program masternya, di samping terkenal juga telah teruji mampu mencetak sarjana-sarjana yang handal, berkualitas dan siap di terjunkan di tengah masyarakat. Aku adalah salah satu dari 10 pelajar tersebut.  Alhamdulillah beasiswa yang kami dapatkan cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Kami memiliki sebuah asrama di kota ini, tepatnya di Martil. Orang-orang di sini sangat ramah. Tetangga-tetangga satu komplek biasanya berkumpul sore-sore. Selalu ada aja hal menarik yang dibahas.

Sore itu, ada seorang tetanggaku, namanya Mr. Robert, lelaki setengah baya yang masih giat dalam lembaga social, Ia juga salah satu dosen bahasa prancis di kampus kami. Ia adalah seorang yang alim. Selalu menenteng kitab sucinya ke mana pun ia pergi. Berkata seperti Nabi, hampir tak ada cacat dalam setiap perkataannya. Apapun masalah yang menimpanya Ia tetap sabar.

Sore itu cuaca masih menyisakan panas. Jalanan berdebu, Mr. Robert berjalan di sekitar halaman rumahnya. Di antara ratusan anak didiknya Ia memiliki dua mahasiswa kesayangan. Keduanya berasal dari Negara yang berbeda, Ahmad Nurhuda adalah salah satu pelajar yang baik nasibnya meski kecerdasan berpikirnya lambat dan minimnya nilai prestasi yang diraihnya namun Ia sangat di perhatikan dan disayangi oleh Mr. Robert karena perangainya yang baik dan memiliki akhlaq yang terpuji. Satunya lagi adalah seorang pemuda berkulit putih dan berambut lurus berbadan tinggi namanya Abdullah, di samping mendapatkan beasiswa tinggi dari negaranya Malaysia dia juga mendapatkan beasiswa dari Maroko yang sama tingginya. Itu semua berkat kecerdasan dan keunggulan prestasinya selama belajar di Maroko, namun ada yang disayangkan dibalik kepandaiannya, ia sering acuh tak acuh dengan temannya, sombong di depan dosen dan meremehkan teman. Meski keduanya memiliki kekurangan dan kelebihan yang berbeda namun Mr. Robert sangat menyayangi mereka, ia tidak pernah membeda-bedakan dan membanding-bandingkan di antara mereka semuanya mendapatkan kasih sayang dan perhatian yang sama oleh Mr. Robert.

Rutinitas sehari-harinya mengajar di kampus dan malamnya memberikan pelajaran bahasa prancis secara cuma-cuma kepada dua pemuda tersebut karena masih sulitnya mereka berdua untuk berbicara prancis dan seminggu sekali ia pergi ke gereja untuk beribadah.

Tapi alangkah kagetnya dia sore itu mendapat kabar kalau salah satu dari murid kesayangannya telah pergi meninggalkan kampus entah ke mana perginya, tanpa memberikan pesan ataupun kabar sebelumnya.

“Bagaimana dengan kuliahnya, bagaimana dengan kursus bahasa prancisnya dan bagaimana dengan tanggung jawabnya terhadap pelajaran yang Ia tinggalkan’’ gumamnya dalam hati dengan penuh kekhawatiran.

Sambil mengusap air matanya ia mendekatiku yang dari tadi memperhatikannya dan tiba-tiba ia berkata.

“Bersabarlah terhadap ujian Tuhan yang datang menimpa kita karena ujian Tuhan bukan hanya berupa kesedihan, kekurangan ataupun penyakitan namun kesenangan, kepintaran dan kemegahan juga merupakan ujian dari Tuhan, mampukah kita menghadapinya, mengembannya dan menggunakan kelebihan-kelebihan yang Tuhan berikan kepada kita kepada jalan yang semestinya.’’ Jelasnya kepadaku…

Melihat keadaan itu tak terasa mataku mendung ingin menitikkan air mata, di tengah-tengah keheningan tiba-tiba datanglah Abdullah mahasiswa kesayangannya asal Malaysia. Ia mendekati dosennya dengan terburu-buru dan mencoba menanyakan peristiwa yang tengah terjadi.

“Ada apa Pak?”

“Ahmad telah pergi”

“pergi ke mana pak?”

“Aku juga tak tahu pastinya, tiba-tiba aku di telfon oleh teman yang sekampus dengannya dan memberitahukanku tentang keadaannya”

Matanya tak henti menitikkan air mata. Sesekali ia batuk karena memang Mr. Robert sudah lama mengidap penyakit batuk dan asma. Ia tampak sedih sore itu.

“Apakah tuan mau mencoba untuk menjelaskan peristiwa ini ke pihak kampus?” Aku mencoba menawarinya solusi supaya tidak terjadi salah paham antara Ahmad Nurhuda dengan pihak kampus. Ia kemudian menatapku dan perlahan beranjak berdiri. Ia memegang pundakku.

“Mr. Anif, segala sesuatu kejadian sudah ada dalam pikiran Tuhan. Ia telah lama merancang segalanya. Tuhan itu penyayang. Tuhan itu penyabar. Ia mungkin sedang menguji kesabaranku, kesabaranmu dan kesabarannya jua. Yakinlah, Tuhan selalu memberi yang terbaik. Tuhan tak pernah salah. Akan ada rancangan terbaik untuk kita. Termasuk pula untuk mahasiswa kesayanganku. Namun satu hal yang perlu kau tahu bahwa Ahmad adalah seorang yang baik budinya, baik akhlaqnya dan terpuji sifatnya. Sebelumnya Ia juga tidak pernah melakukan hal semacam ini dan aku yakin kepergiannya itu pasti mempunyai alasan tersendiri, alasan yang terbaik baginya. Namun sebaik-baik alasannya tetap saja ini adalah sebuah aib di mata para dosennya karena telah meninggalkan kampus tanpa izin dan secara otomatis bisa berdampak pada teman-teman lainnya khususnya yang dari Indonesia. Aku berharap semuanya kan baik-baik saja, semoga program mastermu cepet selesai dengan hasil yang memuaskan minimal bisa menutupi kekhilafan temanmu” jelasnya panjang lebar

“ya Pak’’ tanpa jeda waktu yang lama kujawab perbincangan itu dengan simpel

Begitulah Mr. Robert, betapa Ia adalah seorang yang baik, dia selalu membantu kami, selama sepengetahuanku sekalipun Ia tak pernah membuat orang sakit hati. Ia sangat rukun dalam bertetangga. Segala sesuatu yang terjadi selalu Ia yakini adalah keinginan Tuhan. Sehingga dengan itu ia bisa ikhlas dan selalu tersenyum.

Begitu pula dengan tetangga-tetangga yang lain. Semua baik-baik saja, semua sangat ramah dan tak pernah menggunjing kami ataupun Mr. Robert. Meskipun kami adalah pendatang mereka tak pernah menyinggung dan menyepelekan kami.

Tapi seketika itu semua berubah. Para dosen di kampusku tak lagi ramah kepada kami. Pelajar pribumi juga mulai mengernyitkan dahi setiap melihat pelajar Indonesia. Orang di sini mulai enggan berteman dan menjauh dari kami. Semua berawal dari tragedi kepergiannya Ahmad yang menghilang tanpa jejak. Para dosen beranggapan bahwa Ia manusia yang tidak tau terima kasih dan tidak mau menggunakan waktu sebaik-baiknya, semua dosen paham betul bahwa Ahmad adalah pelajar yang prestasinya rendah namun mereka telah memberinya sesuatu yang terbaik baginya agar belajarnya terus semangat. Namun sebagai balasannya Ia malah kabur dari kampus seolah tidak punya tanggungan dan beban. Perbuatannya telah mengecewakan hati para dosennya karena telah menyepelekan perhatiannya kepada Ahmad.

Semenjak itulah para dosen sakit hati karena merasa kampusnya telah dibuat mainan oleh pelajar yang kurang sungguh-sungguh… Bagaikan kilat berita tersebut menyebar begitu cepat ke berbagai kampus ternama di Maroko. Imbasnya para pelajar Indonesia kini tak lagi mendapatkan perhatian dan kepedulian dari mereka dan kampusnya.

Waktu yang terus berputer seperti boneka yang telah meninabobokanku tanpa terasa 1 tahun telah berlalu. Sore itu matahari menyingsing di ufuk barat  membuat bayangan semu memantul melewati celah-celah jendela asramaku, angin berhembus syahdu memberikan seribu makna, sesekali ranting-ranting pohon di belakang asramaku saling menyentuh karena belaian angin yang malu-malu,  aku tertunduk seorang diri di kamar asramaku menyelami kata demi kata kitab yang aku baca, Al Hikam karya Ibnu Ato`ilah adalah kitab yang selalu menemani hari-hari sepiku.

Meski ribuan doa telah kupanjatkan namun hasilnya tetap aja nihil, di sana sini pelajar Indonesia menjadi buah bibir di tengah kalangan para dosen, setiap kali ada mahasiswa baru yang ingin mendaftar ke universitas oranggenah prosesnya selalu di persulit dan menyebalkan. Seolah mereka sedang membalas kekecewaannya tentang peristiwa 1 tahun yang silam. Aku sendiri tak tahu kenapa orang yang beriman, memiliki pendidikan dan beragama Islam sifatnya kurang bisa toleran, sulitnya memaafkan dan dengan mudahnya mengklaim orang lain.

“Jika sudah ketahuan jeleknya maka semua juga pasti jelek, sudah mending gak usah menerima pelajar Indonesia lagi yang hobinya bermalas-malasan dan tidak mau menggunakan kesempatannya dengan sebaik-baiknya’’ cetus salah satu dosen di depan dosen lainnya.

Karena sulitnya memasuki kampus tersebut, banyak dari teman-temanku yang putus asa hingga akhirnya mengurungkan niatnya dan lebih memilih untuk mendaftar ke kampus lain yang tentunya lebih aman dan nyaman. Sementara teman-temanku yang satu kampus denganku di universitas orangenah juga mulai merasakan kejenuhan karena nilai yang didapat selalu kurang dari targetnya padahal mereka sudah belajar semaksimal mungkin dan yakin seyakin-yakinnya kalau jawaban yang ditulis sesuai dengan soalnya. Di antara mereka pun akhirnya banyak yang memilih untuk pindah ke kampus lainnya kecuali Slamet ia memutuskan pulang ke tanah air karena ibunya sakit-sakitan dan tidak ada yang merawatnya karena dialah anak semata wayang di keluarganya.

Besoknya Slamet sudah bersiap-siap menuju bandara dengan menenteng koper hitamnya, aku dan Zainal membawakan bungkusan dan tas gendongnya mengantarkannya ke Bandara Casablanca. Di bandara, izin dan passport semuanya sudah beres tibalah detik-detik perpisahan kami dengan Slamet.

“Met hati-hati dan salam buat ibu dan bapakmu di rumah’’ ucapku sambil memeluk tubuhnya yang kurus dan tinggi

“Kalo ada salah yang disengaja atau tidak tolong di maafin yah Met, hati-hati dijalan’’ susul Zainal setelah ku melepaskan pelukannya.

Kami berdua mengucapkan salam perpisahan dan melambai-lambaikan tangan kepadanya sampai bayangan Slamet menghilang dari pandangan mata kami.

“Duduk dulu Nif ane mau minum’’ ujar Zainal yang dari tadi bibirnya kering menahan haus untungnya Ia membawa minuman yang di beli sebelum berangkat. Sambil menunggu Ia minum aku pun duduk di sebelahnya. Sebuah kursi terbuat dari aluminium yang panjangnya memuat lima orang berjejer. Beberapa kemudian seorang perempuan duduk di sampingku. Perempuan kulit putih dengan tinggi sedikit lebih dari badanku. Rambutnya berwarna hitam tebal, matanya lebar dan bibirnya agak tipis. Aku seksama memperhatikannya karena Ia duduk hanya beberapa senti saja di sebelahku. Ia tersenyum tatkala pandangan kami tepat berhadapan. Senyumnya manis sekali.

“Hello” Ia menyapaku. Aku pun tersenyum dan membalas “Hello”. Kami pun mulai berbincang-bincang dengan bahasa Inggris. Ia orang Mongol dan nampaknya juga masih belum bisa berbahasa Inggris dengan baik.

“Mau ke mana Tuan?”

“Mau kembali ke Tetuan, baru saja kami berdua mengantarkan temanku balik ke tanah air Indonesia”

“Ow, kenapa harus balik?”

“Mungkin sudah saatnya Ia harus balik Non, masalahnya hanya gara-gara merasa kesulitan dan dipersulit belajarnya akhirnya ia memutuskan pulang melanjutkan kuliahnya di Indonesia sekalian merawat Ibunya yang sedang sakit. Kalo Nona mau ke mana?” aku mencoba bertanya.

“Saya mau balik ke Mongol. Saya seorang pelajar juga di sini, tapi saya mengambil jurusan Koki alias masak memasak dan sekarang sudah selesai” Ucapnya sambil tersenyum.

“kamu temannya Arif?” Ucapnya lagi sambil memandang wajahku

Aku bingung kenapa ia tahu Arif

“Arif yang mana?” Aku pura2 tidak tahu.

“Arif yang badannya tinggi agak gemuk, mukanya bundar, Ia orang Indonesia” Ia nampak polos dalam berbicara.

Namun aku kaget kenapa ia bisa tahu nama temenku? Sepengetahuanku Arif itu kuper, suka berdiam diri di kamar dan paling ogah berteman dengan cewek non muslim kenapa Arif bisa kenal? Penasaranku terjawab setelah ia menyatakan dirinya kalau dia itu muslim.

“Memang aku sebelumnya beragama Kristen namun semenjak mengenal Arif banyak sekali perubahan pada diriku terutama pada agamaku”

Aku kaget mendengar penjelasannya, tak menyangka kalau Arif bisa menunjukkan jalan hidupnya ke arah yang benar.

“Meski Arif keliatan kuper dan pendiam tapi Ia sangat baik padaku. Dia sering membantuku membayarkan tagihan listrik dan mengajariku cara menawar ketika belanja di pasar kebetulan asramaku juga dekat dengan asrama kalian hanya saja kita baru kali ini bertemu. Aku pun tahu kalau sekarang dia juga berhenti kuliah lantaran dosennya yang killer dan kurang toleransi, makanya Ia memilih pindah ke kampus lain. Ternyata Ia pindah karena menjadi korban kekecewaan akibat ulah kakak kelasnya yang dulu pernah meninggalkan kampus tanpa sepengetahuan dosennya. Tentunya bukan hanya Arif yang jadi korban semua ini tapi aku yakin kamu dan temen2mu juga termasuk bagian dari korban kekecewaan tersebut… iya kan?” Jelasnya panjang lebar. Sambil meyakinkan pembicaraannya bahwa apa yang dikatakannya adalah benar.

“Dan begitulah orang di sini. Terlalu cepat menyimpulkan sesuatu dan mudah mengklaim orang lain. Apakah hanya gara-gara satu murid jelek terus semuanya juga jelek? Apakah setiap orang yang datang dari Negara yang sama juga sudah pasti kelakuannya sama? Kalau memang benar bukankah memaafkan adalah hal yang lebih mulia? Bukankah sesama muslim itu saudara dan harus saling hormat menghormati? Namun kenapa mereka tetap saja menyimpan rasa kebencian dan kekecewaan dalam hatinya? Aku selalu bertanya seperti itu. Bahkan aku pernah membuat artikel seperti itu di koran. Aku dikritik oleh banyak pihak. Tapi sesungguhnya aku hanya mencari sebuah kebenaran. Kebenaran yang sulit sekali di sini. Kebenaran yang mungkin hanya dimiliki Tuhan. Itulah sebabnya aku memilih kembali ke Mongol setelah aku selesai belajar dari pada membuka restoran di sini.’’ Tuturnya lagi dengan nada emosi.

Aku hanya tertegun mendengar penjelasannya. Matanya berkaca-kaca. Ia nampak sedih harus meninggalkan kekasihnya dan cita-citanya yang berencana ingin membangun restoran di tengah kota ini setelah selesainya dari kuliah…

Ia pun melanjutkan pembicaraannya, “Buat apa agama dipertaruhkan kalo toh pada akhirnya perpecahan terjadi karena agama. Apa lebih baik tidak ada saja agama tersebut. Cukup kita meletakkan Tuhan di hati kita dan berdo’a dalam kamar sendiri. Mengunci pintu rapat-rapat? Meski aku baru masuk Islam kemaren tapi aku selalu mendapatkan pelajaran agama dari semenjak kecil. Kebetulan ayah saya adalah seorang pendeta yang taat. Ia selalu menjunjung tinggi Tuhan. Ia selalu mengajarkan bahwa Tuhan itu baik, Tuhan itu selalu tersenyum dan Tuhan tak pernah diam. Lantas apakah dengan ada kejadian seperti ini kita lantas menyalahkan semuanya. Karena saya pun sekarang begitu tau tentang Islam. Saya banyak belajar membaca di buku-buku. Islam itu agama yang baik. Semua agama juga baik.’’

Matanya berkaca-kaca, waktu pun harus memisahkan kami. Sebelum meninggalkan kami dia memberikan kartu identitasnya kepadaku. Sungguh sosok yang begitu tegar dan berpandangan luas. Seandainya setiap orang berpikiran seperti Nona ini dan berkelakuan seperti Mr. Robert tentunya dunia ini akan damai, tak ada kekecewaan dan tak ada tangis yang akhirnya merobek hati. Semua saling rangkul, mendukung dan melengkapi antara satu dengan yang lainnya. Hidup pun pasti terasa indah dan bahagia. Aku pun berjalan meninggalkan Nona itu dan berharap semoga usahanya tak ada yang sia-sia.  Dan semoga ia baik-baik saja.

Catatan: Ini adalah sebuah cerpen yang diambil dari kisah nyata di tengah pelajar Indonesia yang sedang belajar di maroko, hanya nama dan tempatnya saja yang menggunakan nama lain.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (8 votes, average: 5,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Kusnadi El-Ghezwa
Mahasiswa S1 Universitas Talimul Alim,Tanger, Maroko.
  • hhmm…ini agak bertentangan dengan aqidah yang selama ini saya pahami. Pada paragraf kedua terakhir.

    “…..Apa lebih baik tidak ada saja agama tersebut……..”

    sama yang ini yah gan.

    “….Islam itu agama yang baik. Semua agama juga baik.’’

    Mohon tanggapannya.

  • kayaknya berbau apa gituh….

    *tutup idung.

  • sepi banget dah…

Lihat Juga

kabut asap

Bandara Pekanbaru Kembali Lumpuh, BNPB Harus Desak Pemerintah Tetapkan Bencana Nasional