Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Konsultasi Harian dengan Al-Qur’an

Konsultasi Harian dengan Al-Qur’an

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (kaskus.us)

dakwatuna.com“Apakah dalam hidup ini kita lebih sibuk daripada Rasulullah dan para salafushshalih sehingga tidak mempunyai waktu lagi untuk Al-Qur’an?

Saat ini secara umum umat Islam sudah sangat jauh meninggalkan Al-Quran. Jangankan mentadabburi, membacanya saja terkadang sudah tidak sempat lagi lantaran ‘kesibukan’ sehari-hari. Sudah barang tentu setiap kita memiliki kesibukan masing-masing, mulai dari bekerja mencari nafkah, belajar, mengurus rumah tangga dan keluarga, aktivitas sosial dan masih banyak lagi yang lainnya. Namun betulkah di tengah atau di antara sekian banyak kesibukan tersebut kita benar-benar tidak mempunyai lagi waktu untuk (sekadar) membaca Al-Quran?

Jika kita mengatakan ya untuk pertanyaan di atas, mungkin kita perlu berkaca kepada kehidupan Rasulullah dan para salafushshalih. Mereka senantiasa berinteraksi secara intensif dengan kitab suci ini di sepanjang kehidupan. Bagi mereka, Al-Quran adalah wirid (bacaan) harian, ibarat ‘makanan’ yang wajib dikonsumsi  setiap hari sehingga ada yang mengkhatamkan bacaan Al-Quran setiap sepuluh hari sekali, seminggu sekali, atau tiga hari sekali. Imam Syafi’i bahkan menuntaskan 60 kali bacaan Al-Quran di setiap bulan Ramadhan. Tingkat minimal bacaan Al-Quran para sahabat adalah sebanyak 3 juz sehari, yaitu ketika mereka dalam keadaan futur (semangat beramal menurun).

Komitmen mereka terhadap Al-Quran terbentuk sedemikian rupa karena keyakinan yang mendalam bahwa kunci kesuksesan, rahasia kemenangan dan kebahagiaan hidup tersimpan di dalam kitab suci tersebut. Untuk menyingkap kunci dan rahasia tersebut tentu saja harus diawali dengan banyak membacanya (QS. 29:45; 33:34), baik pada waktu malam maupun siang (ana’allail wa athrafannahar). Intensitas membaca yang tinggi juga akan sangat memudahkan seseorang dalam menghafal Al-Quran. Langkah berikutnya adalah memahami bacaan tersebut (QS. 3:7) dengan membaca terjemah dan tafsirnya. Selanjutnya, mengimplementasikan ajaran Al-Quran dalam kehidupan nyata (QS. 2:121; 3:31) dengan cara berusaha ‘berkonsultasi’ dengan kitab pedoman hidup itu dalam menghadapi dinamika dan problematika kehidupan.

Untuk membangun kedekatan dengan Al-Quran diperlukan perjuangan, kesabaran tingkat tinggi (tashabbur), dan istiqamah karena penghalang dan godaannya memang tidak sedikit, baik yang berasal dari faktor internal, yaitu jiwa yang lemah  dan malas maupun faktor eksternal, yaitu syaithan yang senantiasa berusaha menjauhkan kita dari Al-Quran dan lingkungan yang tidak kondusif.

Namun dengan niat ikhlas karena Allah, usaha terus menerus, dan banyak berdoa, maka kedekatan itu akan tercipta. Kesungguhan kita mendekatkan diri kepada Al-Quran akan mengundang datangnya ma’unah (pertolongan) dari Allah. Hingga pada satu titik tertentu, semua kesulitan dalam perjuangan membangun kebersamaan dengan Al-Quran itu akan berubah menjadi kenikmatan. Bahkan, hal tersebut akan menciptakan efek ‘ketagihan’ yang positif dimana seorang muslim akan merasa ada yang kurang atau hilang jika satu hari saja tidak berinteraksi dengan Al-Quran dan dia pun akan selalu berusaha untuk menambah intensitas interaksinya dari waktu ke waktu.

Tiada hidup yang lebih indah dari senantiasa berinteraksi dengan Al-Quran, mendapatkan taujih rabbani, dan mereguk hikmah ilahiyah di setiap hari yang kita lalui. Dan untuk mencapai kenikmatan ini di tengah tumpukan kesibukan kita, maka satu-satunya cara adalah dengan mengalokasikan waktu khusus dari hari kita untuk berinteraksi dengan Kalam Mulia ini, sebagaimana kita mengalokasikan waktu untuk berbagai kegiatan duniawi yang lain. Wallahul musta’an.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (17 votes, average: 8,71 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
  • Astaghfirullah, kalimat pembukanya mengena sekali..

Lihat Juga

Ilustrasi. (lensaindonesia.com)

Menghidupkan Sunnah Dalam Berhari Raya