Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Mengelola Rasa Cinta “Ilegal”

Mengelola Rasa Cinta “Ilegal”

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.comSebenarnya tak salah kita memiliki rasa cinta. Karena kita manusia yang dibekali dengan rasa ini. Mungkin ada yang bertanya, bisa gak ya aktivis dakwah jatuh cinta? Hah… pertanyaan yang sangat mendiskreditkan aktivis dakwah. Bukankah mereka manusia biasa, sama seperti manusia lainnya. Bukankah mereka juga manusia normal yang hanya berusaha jalani kehidupan dengan aturan-aturan syariatNya. Sekali lagi mereka hanya manusia biasa yang juga memiliki rasa cinta.

Namun rasa cinta seorang aktivitas dakwah hendaknya hanya dimekarkan semekar-mekarnya saat telah dibingkai dengan ikatan suci (pernikahan). Karena nikah dalam Islam adalah ibadah maka wajar dalam perjalanannya pasti melewati rintangan godaan syaitan laknatullah. Mereka tak ikhlas jika manusia menikahnya mulus-mulus saja tanpa disertai kemaksiatan. Maka mereka mekarkan rasa cinta yang menggelayuti hati manusia dengan fatamorgana keindahan. Mereka goda dua insan yang memiliki rasa itu untuk menikmatinya dalam kesendirian. Sungguh wajar akhirnya banyak kita temui orang-orang yang sebelum memasuki jenjang pernikahan melewatinya dengan pacaran yang berlangsung lama bahkan ada yang kebablasan berzina lantaran ketidakmampuan menahan gejolak nafsu syahwat yang semakin membara. Tidak sedikit kita dengar pernikahan mereka yang dibumbui dengan kemaksiatan pada awal perjalanannya berakhir tragis di tengah jalan atau bahkan saat memulai perjalanan itu dalam bingkai pernikahan.

Apa yang menyebabkan ini semua? Jawaban sederhananya adalah, saat berpacaran setiap pasangan hanya menampilkan keindahan-keindahan dan berusaha sekuat-kuatnya menutupi aib diri yang dimiliki. Mereka hanya ingin memberikan yang terbaik pada pasangannya. Maka wajar ketika awal membangun biduk rumah tangga keindahan-keindahan dulu yang dirasakan seakan-akan berputar 180 derajat. Mereka yang tidak siap menerima kenyataan ini akan berontak hatinya. Karena sudah tak mampu menerima kenyataan yang ada terjadilah sesuatu yang halal namun sangat dibenci Allah itu ”perceraian”. Dan inilah akhir tragis yang sangat menyesakkan kehidupan dua Bani Adam yang membangun biduk rumah tangga.

Sungguh ajaran Islam sangat indah, syariat nikah dihadirkan untuk memuliakan manusia. Ketika rasa “illegal” itu tiba maka Islam telah menyiapkan solusinya melalui pernikahan. Ketika belum mampu untuk menikah maka perbanyaklah puasa sunnah dan menyibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaat. Jika hal ini dilakukan peluang melakukan maksiat akan terkikis habis dan syaitan akan pergi dengan perasaan putus asa. Peluangnya menggoda sudah tak ada , walaupun kita harus yakin syaitan planner kejahatan terbaik. Mereka pasti punya rencana lain yang akan menjerumuskan manusia kepada kubangan kemaksiatan dan lumpur-lumpur dosa yang menyesakkan jiwa.

Lalu bagaimana seharusnya aktivis dakwah menyikapi kehadiran rasa “illegal” dalam hatinya kepada lawan jenis. Satu hal yang mesti dipahami, tidak ada yang salah dengan rasa illegal itu. Rasa itu adalah fitrah yang Allah hadirkan dalam setiap hati manusia. Mencintai dan dicintai adalah kata yang tidak bisa dipisahkan dalam keseharian menjalani kehidupan. Ketika rasa ”illegal” itu hadir maka aktivis dakwah wajib mengelolanya dengan benar. Jangan sampai rasa itu menjerumuskannya dalam jurang kemaksiatan. Jangan sampai rasa itu menjauhkannya dari kecintaan hakiki kepada Allah. Tetap tancapkan tiang tertinggi cinta kita kepada Allah SWT. Ingat keindahan yang kau rasakan pada orang yang telah menyebabkan kau memiliki rasa “illegal” itu sebelum dibingkai dengan pernikahan adalah keindahan semu yang boleh jadi dihiasi oleh nafsu dan polesan godaan syetan. Yakinlah keindahan hakiki dalam mengelola rasa “illegal” adalah dengan pernikahan. Maka ketika rasa itu tiba persiapkan dirimu sebaik-baiknya. Tingkatkan kualitas amal, persiapkan bekal financial, perbaharui mental dan tanamkan keyakinan sedalam-dalamnya dalam relung hatimu, bahwa Allah telah menyediakan jodoh terbaik untukmu. Berharaplah hanya kepada Allah agar orang yang telah menumbuhkan bijih cinta di hatimu itu adalah manusia pilihan yang memang disiapkan Allah untukmu. Sabarlah dalam penantian, jadikan Allah teman setia dalam penantian. Kelak ketika tiba saatnya harus bersama maka engkau akan mendapati indahnya surga dunia dalam keseharianmu sampai Allah memisahkan melalui takdirnya.

Surga dunia hanya diperuntukkan kepada orang-orang yang telah sukses mengelola rasa cintanya. Orang-orang yang telah lulus dalam masa penantian. Dan orang-orang yang menempatkan rasa cinta kepada Allah jauh melebihi rasa cinta kepada siapapun. Cinta kepada Allah lah yang mendatangkan rasa cinta hakiki pada pasangan yang kita dambakan surga itu bisa dinikmati bersamanya. Jika engkau menjaga Allah maka Allah akan menjagamu dan menjaga jodoh yang Allah siapkan untukmu.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (38 votes, average: 9,61 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Sardini Ramadhan
Staf di Bappeda Kabupaten Ketapang. Alumni FKIP Universitas Tanjungpura Pontianak.
  • pendakwah tidak selamya benar,.salah teap salah benar tetap benar, jangan membenarkan apa yang salah.

    aktivis dakwah yang bercinta tetap salah karna iman nya yang kurang,zaman sudah berubah, jadi jangan membenarkan yang salah, pembnaran artikel ini merupakn pintu untuk membolehkan berpacaran.

    “Mereka tak ikhlas jika manusia menikahnya mulus-mulus saja tanpa disertai kemaksiatan” pendapat yang salah, manusia zaman sekarang yang seperti itu. dan masi ada juga manusia yang baik.

    • mohon dibaca secara seksama artikel ini mas…
      didalamnya tidak ada KAta MEMBOLEHKAN PACARAN BAGI AKTIFIS ….!!!

      didalamnya adalah , Aktifis adalah manusia biasa yang bisa juga merasakan cinta.
      tUGAS UTAMA dia adalah bagaimana mengolah cinta itu dengan sebaik-baiknya,,,
      agar tidak salah dalam melkukan tindakan…
      dan jelas dikatakan :
      ‘Sungguh ajaran Islam sangat indah, syariat nikah dihadirkan untuk memuliakan manusia. Ketika rasa “illegal” itu tiba maka Islam telah menyiapkan solusinya melalui pernikahan. Ketika belum mampu untuk menikah maka perbanyaklah puasa sunnah dan menyibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaat. Jika hal ini dilakukan peluang melakukan maksiat akan terkikis habis dan syaitan akan pergi dengan perasaan putus asa. Peluangnya menggoda sudah tak ada , walaupun kita harus yakin syaitan planner kejahatan terbaik. Mereka pasti punya rencana lain yang akan menjerumuskan manusia kepada kubangan kemaksiatan dan lumpur-lumpur dosa yang menyesakkan jiwa.”

      semoga bermanfaat

  • Sebenarnya itu bagaimana antum/antumna mencerna isi dari ARTIKEL nya,

    menurut ana pribadi sudah baik dalam penyajian tutur bahasa nya,
    dan pesan2 nya pun sudah JELAS di sampaikan,
    penulis tidak meLARANG secara langsung yg namanya PACARAN, namun memberi lampu MERAH terhadap ITU, dan menyalakan lampu HIJAU dengan ikatan PERNIKAHAN, dan sekali lagi  dengan penggunaan dan cara bahasa yang berbeda …

    shukran informasi nya akhi, 
    semoga bermanfaat bagi ana pribadi ….
     

Lihat Juga

Ilustrasi. (ridwansyahyusufachmad.wordpress.com)

Medan Perang Intelektual Dakwah Kampus