Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Tak Perlu Tukar Kelamin

Tak Perlu Tukar Kelamin

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – “Alhamdulillah, kamu sudah ceria lagi.” Itu awal obrolanku dengan Fulan, kemarin siang.

“Iya, berkat nasihat ustadz Arif,” jawab Fulan. Raut mukanya bersemu merah.

“Kau curhat dengan beliau?”

“Maaf, bukan aku tak menganggap nasihatmu. Tapi hatiku baru sempurna terbuka setelah mendengar nasihat dari beliau.”

Aku mengangguk, maklum. Tentu saja, ustadz Arif adalah guru ngaji yang pintar dan bijak. Maka meminta nasihat pada beliau adalah keputusan yang tepat.

“Kalau boleh aku tahu, apa nasihat beliau padamu?”

“Tidak banyak. Beliau hanya memberiku beberapa pertanyaan dan menyuruhku merenungkan jawabannya.” Fulan memperbaiki duduknya. “Dan kau boleh menjadikannya sebagai bahan tulisanmu” tambahnya.

“Hanya yang mengandung manfaat.” Aku tersenyum, menegaskan.

Fulan mengangguk, sepakat.

Apa pertanyaan dari beliau? Aku bertanya melalui tatapan mata.

Lima detik berikutnya, Fulan mulai bercerita. “Ustadz Arif memberiku pertanyaan yang sederhana, tak terpikir sebelumnya, namun sungguh telah menggugah kesadaranku. Beliau memintaku untuk merenungkan jawaban atas pertanyaan siapa orang yang bangun pertama kali di rumah? Siapa yang memasak, menyeduhkan kopi, menghidangkan sarapan pagi? Siapa yang menyiapkan pakaian kerjaku, juga seragam sekolah anak-anakku? Siapa yang membereskan bekas makanku, menyapu, mengepel, membenahi rumah dan mencuci pakaianku? Siapa yang menjaga harta dan keluarga saat aku tinggal bekerja? Siapa yang selalu siaga, merawat dan menjaga ketika anak-anak sakit?”

Sejenak Fulan menghentikan ceritanya, menelan ludah. Dan dengan takzim aku menyimak tanpa sekalipun menyela ceritanya.

“Beliau juga bertanya, siapa orang yang terakhir bergabung dengan kami di meja makan? Siapa yang terakhir menyendok nasi dan sayur di piring? Siapa yang rela berbagi dan memberikan lauknya, berhenti makan meski perutnya belum kenyang? Siapa yang dengan lembut memijit badanmu, mendengarkan keluh kesahmu? Siapa yang terakhir tidur di rumahmu? Bukankah seringnya kau lebih dulu tidur tanpa sempat berucap terima kasih padanya yang telah melayanimu dengan sepenuh cinta?” Fulan menambahkan

“Kau tahu kan semua jawabannya?” tanya Fulan padaku yang masih serius menyimak ceritanya.

“Ya!” Aku tergagap. Meski aku tak tinggal serumah dengan Fulan, tapi aku tahu siapa yang ustadz Arif maksudkan. Dan aku juga tahu, apa maksud dari semua pertanyaan itu.

Romantika berumah tangga, tak selamanya dihiasi canda dan tawa. Kadang diselingi pertengkaran yang dipicu oleh perbedaan pandangan. Hampir semua yang telah lama berumah tangga pernah mengalaminya, dengan penyebab berbeda, dan penyelesaian yang berbeda pula.

Pun dengan rumah tangga Fulan. Dua hari sebelumnya, wajah Fulan bagai terlipat. Dan itu bermula ketika pulang kerja, Fulan mendapati sang istri masih tertidur pulas di kamar, sementara kondisi rumah belum rapi dan anak-anak masih bermain di luar, belum mandi. Fulan yang memang seminggu terakhir sedang stress dengan pekerjaan di kantor, terpancing emosi. Tanpa merasa perlu bertanya, Fulan langsung memarahi istrinya. Percuma panjang lebar sang istri menjelaskan, ia agak kurang enak badan, lelah seharian mengurus anak, membenahi rumah yang selalu berantakan. Semua itu tak Fulan dengarkan, setan terlanjur mengendalikan hati Fulan. Astaghfirullah!

Meski ustadz Arif memberikan pertanyaan-pertanyaan itu pada Fulan, sesungguhnya ini juga mengingatkan kita, para suami. Seringkali pertengkaran muncul akibat suami – istri kurang saling memahami. Salah satunya, seorang suami terkadang menuntut istrinya selalu sempurna, dalam hal pelayanan dan pengurusan keluarga, menganggap ringan tugas dan pekerjaan seorang ibu rumah tangga. Hanya berkutat di sumur, dapur dan juga kasur. Padahal kenyataannya tidak sesederhana dan tak seringan yang dibayangkan. Tidak selalu mudah memang untuk memahami hal ini, kecuali bagi seorang yang bijak seperti ustadz Arif dalam cerita ini, atau seorang laki-laki yang karena satu hal menuntut ia menjadi ayah sekaligus ibu bagi anak-anaknya.

Saling menghargai, saling memahami, bukan saling meremehkan, merasa diri lebih dan paling dalam setiap hal, lalu menuntut pasangannya selalu sempurna. Itu pelajaran yang kupetik dari nasihat ustadz Arif kepada Fulan. Betapapun pekerjaan seorang istri di mata suami sering terlihat ringan, sederhana, tapi sesungguhnya tidaklah demikian adanya. Kita bisa merasakannya ketika istri sedang sakit atau karena satu hal penting memaksa kita mengurus rumah dan anak-anak seorang diri. Tak perlu menunggu ini terjadi, untuk bisa merasakan bagaimana tugas dan tanggung jawab seorang istri. Atau seperti sebuah pesan yang disematkan dalam sebuah guyonan yang pernah kudengar, tak perlu ‘bertukar kelamin’ untuk seorang suami bisa merasakan tugas dan tanggung jawab seorang istri.

Jadi, baik suami maupun istri masing-masing mempunyai tugas dan peranan yang penting dalam rumah tangga, karenanya saling menghargai, saling membantu dan mendukung adalah satu keharusan, demi terwujud keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (21 votes, average: 8,90 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Abi Sabila
Seorang pembaca yang sedang belajar menulis.

Lihat Juga

Ilustrasi. (gallery.naslno.com)

Merasa Bersalah Telah Mengkhianati Suami, Mohon Saran atau Masukan

Organization