Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Pilihan Bagi Orang-Orang Terpilih

Pilihan Bagi Orang-Orang Terpilih

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.comTidak ada yang gratis di dunia ini. Karena selalu ada harga yang harus kita bayar manakala hendak mewujudkan setiap keinginan, sehingga sudah sepantasnya sebuah kemenangan dibayar dengan perjuangan. Sudah seharusnya keberhasilan ditebus dengan pengorbanan. Dan sudah semestinya kesuksesan ditempuh dengan keteguhan.

Betapa tidak, selalu akan ada rintangan berat manakala kita menjalaninya. Namun itu semua sebenarnya mengukur sejauh mana kesungguhan kita dalam mewujudkan keinginan tersebut. Mundur atau tetap maju adalah pilihan yang harus kita tempuh demi menuju mimpi-mimpi itu.

Begitu pula dengan dakwah ini. Allah telah memberikan pilihan kepada kita, apakah ikut menjadi pelaku sejarah kemenangan, atau duduk terdiam menanti kematian. Hingga akhirnya Allah pun memilih mereka, yang sebelumnya telah memutuskan untuk tetap menjadi orang-orang yang terpilih.

Sama halnya seperti seorang guru yang menyajikan sebuah soal di papan tulis. Lalu kepada para muridnya, ia menanyakan siapa saja di antara mereka yang dapat menjawab soal itu. Kemudian pada akhirnya, guru tersebut akan menunjuk mereka yang mengacungkan tangan, bukan mereka yang diam. Guru tersebut memilih mereka karena acungan tangan mereka adalah bukti bahwa mereka siap untuk dipilih.

Mereka terpilih bukan karena dipilih. Tetapi mereka terpilih karena mereka memilih. Memilih dirinya agar selalu terpilih. Karena dakwah adalah pilihan bagi orang-orang terpilih, sehingga hanya mereka yang teguh serta kuatlah yang dapat bertahan hingga titik akhir perjuangan. Tidak ada tempat bagi orang-orang lemah, penakut, apalagi peragu.

Bagaimanapun, Surga itu tidaklah murah. Kenikmatan besar itu baru akan kita raih setelah membayar dengan harga yang pantas. Maka bukan lagi menjadi masalah jika nantinya kita menemukan kekurangan pada organisasi dakwah, rekan yang kurang setia, atau pun hambatan eksternal lainnya. Semua menjadi kurang penting manakala kita telah yakin kepada Allah. Jika mereka memilih untuk lemah dan tersisih, maka kita tetap memilih kuat dan bertahan. Menjadi tangguh bukan hanya tentang bisa atau tidak, melainkan mau atau tidak.

Betapa indah apa yang disampaikan Muhammad Nursani pada bukunya, Berjuang di Dunia Berharap Pertemuan di Surga, “Sebab penderitaan terbesar adalah jiwa yang cepat goyah dan bimbang saat menghadapi sesuatu yang sebenarnya remeh. Penderitaan paling berbahaya adalah ketika tujuan hidup kita yang demikian agung, terbentur oleh keadaan hidup yang sesungguhnya sepele. Persoalan remeh, yang kita lihat secara keliru, kemudian mengakibatkan sempitnya dada, nafas tersengal, kesal hati, murung wajah, hati yang bergemuruh duka cita, bahkan air mata dan dendam. Hingga istirahat terganggu, pikiran tidak tentu arah.”

Sekali lagi, ini soal pilihan. Bukankah yang pilihan itu memang sedikit? Bukankah yang juara itu memang segelintir orang saja? Lantas, buat apa kita berlemah dan bersedih? Banggalah karena telah menjadi yang sedikit itu!

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (20 votes, average: 9,10 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Deddy Sussantho
Mahasiswa Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Staf Ahli Kaderisasi Lembaga Dakwah Kampus Syahid UIN.

Lihat Juga

Berat Albayrak (kanan jas hitam) saat mendampingi Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pasca percobaan kudeta sekelompok militer, di Bandara Ataturk, Istanbul, Sabtu (16/7/2016). (marebpress.net)

Siapakah Orang Kepercayaan Erdogan yang Selalu Tampil dalam Situasi Genting Ini?