Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Kalkulasi Amal dan Dosa

Kalkulasi Amal dan Dosa

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.comHidup adalah sebuah kompetisi antara memilih menjadi manusia pengabdi atau pembangkang. Setiap hari menghadirkan tawaran mengerjakan kebaikan atau keburukan. Memang kita berbeda dengan malaikat yang selalu taat. Kita juga berbeda dengan iblis yang selalu membangkang. Kita bebas memilih menjadi taat atau sebaliknya. Setiap apa yang kita pilih selalu menghadirkan catatan-catatan. Ketika memilih melakukan dosa dan kemaksiatan, maka ada malaikat Atid yang istiqamah menuliskan catatan dosa tersebut. Ketika memilih mengerjakan kebaikan maka ada malaikat Raqib yang tidak pernah tidur mencatatnya. Semua yang kita pilih menghadirkan konsekuensi amal dan dosa, sekecil apapun. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula.”

Seandainya sudah 20 tahun umur kehidupan kita di dunia ini. Maka kita telah menghabiskan jatah hidup sebanyak 7.300 hari lamanya. Kemudian kita kurangi saat kita belum baligh (belum diperhitungkan di catatan dosa atau amal), misalnya dari 0 tahun-10 tahun. Berarti ada 10 X 365 hari= 3650 hari dimana ada catatan dosa dan amal dari yang kita lakukan. Kalau kita melakukan dosa hanya satu setiap harinya, maka kita telah memiliki catatan dosa sebanyak 3650 kali. Padahal setiap hari kehidupan kita tidak pernah terlepas dari godaan dan rayuan maut syaitan durjana. Dia goda kita dengan memandang yang haram, mengingkari janji, menggibahi saudara, mengucapkan kata-kata yang menyakiti, membantah perintah orang tua, riya dengan amal yang dilakukan dan tawaran lain yang menjauhkan kita dari Allah. Lalu seandainya kita setiap harinya melakukan 5 perbuatan dosa, maka kita telah memiliki catatan raport dosa sebanyak 31.750 kali. Sekarang mari kita bandingkan dengan amal kebaikan kita. Misalnya shalat wajib yang kita lakukan sebanyak 5 kali dalam satu hari. Artinya amal kebaikan kita dari shalat wajib saja setiap harinya telah cukup mengimbangi dosa yang kita lakukan, sebanyak 10 tahun x 365 hari x 5 = 31.750 kali. Pertanyaannya dari shalat yang kita lakukan tersebut apakah kita bisa menjamin semuanya diterima Allah? Coba ingat bagaimana kualitas shalat yang kita lakukan? Apakah dalam shalat yang kita lakukan kita telah benar-benar mengingat Allah. Betapa banyak kita tidak khusyuk dalam shalat. Betapa banyak saat shalat kita memikirkan yang lain. Memikirkan pekerjaan yang belum selesai, memikirkan bagaimana cara menyelesaikan tugas yang sulit, memikirkan dimana dan bagaimana menemukan barang yang hilang. Betapa banyak shalat kita dilandasi keinginan dipuji dan disanjung manusia. Kalau sudah seperti ini apakah shalat kita bakal diterima? Ketahuilah Allah hanya menerima ibadah hambaNya yang Ikhlas. Kalau shalat yang merupakan tiang agama dan amal pertama yang dihisab di akhirat nanti saja kualitasnya diragukan, rasa-rasanya kita tidak perlu capek-capek mengkalkulasikan kebaikan yang lain. Sementara dosa yang kita lakukan setiap harinya pasti selalu diperhitungkan. Bagaimana kalau kita bertobat setelah melakukan dosa? Bukankah taubat kita mengurangi atau menghapus catatan dosa kita?

Memang benar taubat menghapus catatan dosa kita. Tapi coba kita tanya kepada diri kita sendiri. ”Apakah kita benar-benar tulus bertobat kepada Allah atas dosa yang kita lakukan? Betapa banyak kita yang bertobat, yang kumat melakukan dosa itu lagi. Betapa banyak taubat kita hanya sebatas di bibir saja, tidak diikuti dengan tobat di hati dan perilaku kita. Kalau sudah tobat seperti ini, apakah catatan dosa itu terhapus? Sekali lagi dapatkah kita menjamin taubat kita diterima?

Belum lagi ditambah perilaku kita yang sering menganggap remeh dosa kecil.

Suatu hari Rasulullah melakukan perjalanan bersama sahabat-sahabatnya di sebuah daerah yang dipenuhi dengan hamparan pasir, tak ada satu pun pepohonan yang tumbuh ditempat mereka berhenti. Sesaat setelah mereka istirahat melepas lelah, Rasulullah memerintahkan sahabat untuk mengumpulkan ranting. Mendengar perintah tersebut, sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, tidak ada ranting di gurun ini? Rasulullah menjawab, cari dan kumpulkan! Kemudian setelah 3 kali ditanya dan mendapatkan jawaban yang sama para sahabat akhirnya melakukan perintah tersebut. Ternyata hasilnya sungguh di luar dugaan, terkumpul begitu banyak ranting dari daerah gurun pasir yang tak ada satu pun pohon tumbuh di sana. Setelah ranting tersebut terkumpul, Rasulullah mengumpulkan sahabat untuk mengelilingi ranting tersebut dan memberikan pesan agungnya, “Wahai sahabatku, begitulah dengan dosa kecil yang kita lakukan, tidak tampak secara kasat mata, tapi ketika dikumpulkan akan menjadi banyak,”

Jangan pernah remehkan aktivitas dosa yang dilakukan sekecil apapun. Lama-kelamaan dosa itu akan menjadi banyak. Menghasilkan bintik-bintik hitam di qalbu kita. Semakin banyak bintik tersebut bercokol di qalbu, semakin hitamlah hati kita. Semakin sulitlah kita menerima cahaya kebenaran. Semakin malaslah kita melakukan amal kebaikan. Kalau sudah seperti ini, layakkah kita menikmati surgaNya?

Coba kita perhatikan dialog berikut!

Seorang ibu bertanya kepada anaknya yang berusia 6 tahun,

Ibu: “Kamu nanti kalau sudah besar mau jadi apa nak?”

Dengan semangatnya sang anak menjawab,

Anak: “Aku mau jadi polwan bu.”

Dengan tegas ibunya menjawab,

Ibu: “Tidak boleh!”

Si anak merasa heran lalu mengganti jawabannya,

Anak: “Kalau tidak boleh, aku mau jadi peragawati saja bu.”

Kini si ibu semakin marah,

Ibu: “Apa-apaan kamu, masa mau jadi peragawati. Tidak boleh!”

Si anak mulai merasa takut, lalu menjawab dengan gemetar,

Anak: “Kenapa semua tidak boleh bu, apa aku cuma boleh jadi ibu rumah tangga saja?”

Si ibu sekarang tidak marah lagi, namun ia menangis dan memeluk anaknya dan berkata,

Ibu: …………………………..?

Kira-kira apa yang akan dikatakan ibu kepada anaknya dalam space kosong DIALOG di atas? Kenapa ibu itu menangis dan tidak membolehkan semua cita-cita yang diinginkan anaknya. Padahal kalau kita perhatikan cita-cita tersebut tampak tidak ada yang aneh dan biasa-biasa saja. Umum dicita-citakan kebanyakan orang. Ternyata jawabannya sederhana “karena kau lelaki anakku”.

Sahabat, dialog di atas mengajarkan kita untuk hidup sesuai dengan apa yang diinginkan pencipta kita. Sesuai garis kebiasaan dan kodrat kita,” dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (Adzariyat: 56). Kalau kehadiran kita di dunia ini untuk beribadah maka kenapa kita malah ingin menjadi ahli maksiat? Ingat setiap yang kita pilih pasti akan melahirkan konsekuensi dan tanggungjawab. Mari kita cerdas mengkalkulasikan jumlah dosa dan kebaikan yang kita lakukan setiap harinya. Let’s kita minimalkan dosa, sebaliknya kita tingkatkan kuantitas dan kualitas pengabdian kita kepada Allah SWT. Selagi masih ada kesempatan!

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (9 votes, average: 8,56 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Sardini Ramadhan
Staf di Bappeda Kabupaten Ketapang. Alumni FKIP Universitas Tanjungpura Pontianak.

Lihat Juga

Beramal untuk Siapa?