Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Jangan Takut Akan Ujian, tapi Bersyukurlah

Jangan Takut Akan Ujian, tapi Bersyukurlah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.comKetika kita sadar bahwa setiap orang akan mendapatkan ujian sesuai dengan kemampuannya. Kadang rasa yang hadir adalah ketakutan untuk berprestasi dan memiliki kemampuan yang lebih. Karena stereotype dalam dirinya menyadari bahwa dengan menjadi semakin hebat maka akan semakin tinggi ujian yang harus dihadapi, semakin besar pula tantangan yang menerpa. Dampaknya berbagai harapan pupus seiring dengan ketakutan menghadapi ujian.

Sungguh demi jiwa-jiwa yang tak pernah lelah menggapai sesuatu. Persepsi di atas adalah suatu kewajaran. Mengingat kita dibekali dua unsur fitrah yaitu adanya pengharapan dan adanya rasa takut atas sesuatu. Sesungguhnya yang menjadi persoalan adalah ketika kita salah dalam menyikapi potensi tersebut. Rasa takut yang berlebihan bisa menjadi jebakan setan yang sangat nyata. Halus seolah mulus, terbesit dalam kesempitan jiwa yang haus akan cahaya. Dahaganya seolah terobati dengan kepasrahan berada di zona nyaman. Padahal itu semu dan memabukkan, karena dengan tegas sang Kekasih menyampaikan bahwa

Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin sesungguhnya dia telah beruntung, barangsiapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka sesungguhnya ia telah merugi. Dan barangsiapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka sesungguhnya ia terlaknat.” (HR. Dailami).

Artinya, setiap pribadi di antara kita harus menjadi orang yang baru secara positif setiap hari. Semangat baru, terobosan baru, dan maha karya baru.

Wahai para penggerak roda peradaban, menyikapi ujian dan tantangan yang muncul seharusnya kita pandang sebagai kesempatan untuk meningkatkan kualitas personal dan masyarakat. Menjadi suatu peluang besar untuk akselerasi potensi, skill, dan kemampuan.  Pengobat jiwa yang sakit dan pengasah rohani yang mulai berkarat oleh virus-virus duniawi.

Betul memang harus disadari, akan ada dua akibat yang pasti hadir setelah menempuh ujian. Pertama adalah keberhasilan dalam melalui ujian dan yang kedua adalah kegagalan melalui ujian. Jika kita berhasil maka melahirkan kepuasan tersendiri yang merangsang kita untuk terus dan terus bersemangat meraih keberhasilan yang lain. Motivasi berprestasi dan jiwa optimis akan tertancap erat dalam diri kita dengan sendirinya.

Bilamana gagal, kita mungkin akan jatuh sesaat, tapi bukan untuk mengeluh, pilu, putus asa, dan merana. Kegagalan hanyalah salah satu obat agar kita bertransformasi menjadi pribadi unggul dan tangguh. Sadari dan yakini bahwa dengan kegagalan justru wujud kasih sayang Sang Penguji begitu nyata. Begitu cintanya Dia pada kita sehingga tak rela ketika kita terpuruk, hanya menjadi orang biasa-biasa, tanpa peningkatan kualitas yang berarti. Tanamkan dalam raga, benak, dan hati kita bahwa ujian hanya datang pada mereka yang pantas, kepada mereka yang memiliki kualitas luar biasa untuk menyelesaikan ujian dengan sukses. Setiap kegagalan adalah pintu awal kesuksesan. Mereka yang pernah gagal akan jauh menikmati kesuksesan dibandingkan mereka yang belum pernah gagal. Kegagalan akan tetap menjadi kegagalan ketika kita salah bersikap.

Mari buka benak dan hati kita, luruskan niat ikhlas hanya pada-Nya. Ketika hidup hanya satu kali namun menyimpan berjuta rangkaian ujian dan pilihan. Sadari bahwa semua pilihan sikap pasti ada resiko, semua ujian pasti ada kesempatan berprestasi. Maka berpikirlah dengan jernih dan ikhlas sebelum memilih agar mampu memperoleh pilihan yang terbaik sehingga dimudahkan dalam menempuh ujian. Pilihan yang paling menguntungkan dan manfaat di dunia dan akhirat. Pilihan yang kelak menyelamatkan dan memperingan pertanggung­jawaban. Jadikan do’a dan ibadah sebagai landasan dalam memilih. Ikhtiar dan tawakal sebagai pelumas menghadapi ujian. Syahadah sebagai komitmen dan processor dalam mengarungi kehidupan. Ingat, jangan takut menghadapi ujian, karena ujian itu indah dan bersyukurlah atas ujian yang hadir.

Wallahu’alam.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (22 votes, average: 9,23 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

hadi susanto
Berani belajar dari kebenaran maupun belajar dari kesalahan. Saat ini telah selesai studi S2 di Taipei (Taiwan) program Industrial Management NTUST.Sekarang beraktivitas sebagai entrepreneur di Bandung.

Lihat Juga

Ilustrasi (inet)

Bergembira di Dalam Rahmat