Home / Narasi Islam / Resensi Buku / Keajaiban Jihad Harta

Keajaiban Jihad Harta

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

Judul: Keajaiban Jihad Harta
Penulis: Dr. Nawwaf Takruri
Penerbit: Darul Uswah (Kelompok Proumedia) – Yogyakarta
Cetakan: I, 2011 ; 14 x 20,5 cm
Tebal: 160 Halaman
ISBN: 9789798143264
Harga: Rp 26.000,-

Cover Buku "Keajaiban Jihad Harta"

Menanam Saham Jihad

Islam hadir sebagai rahmat untuk semesta. Sejak awal kedatangannya, ia senantiasa membawa kedamaian dan kesejahteraan bagi seluruh umat manusia, apapun agamanya. Inilah yang menjadi bukti tentang konsep Rahmatan Lil ‘Alamin dalam Islam. Namun, jalan kebenaran memang tak akan sepi. Ada saja rintangan yang dibentangkan dalam setiap jenak perjalanan perjuangan.

Rintangan tersebut dikomandoi oleh makhluk bejat bernama Iblis. Hebatnya, Iblis ini diberi kewenangan oleh Allah untuk menambah bala tentara sesukanya. Sehingga jumlah mereka makin bertambah dari hari ke harinya. Uniknya lagi, bala tentara itu tak hanya dari golongan mereka melainkan juga dari golongan manusia. Sehingga banyak kita jumpai manusia-manusia berhati dan berperilaku seperti Iblis. Semoga kita tidak termasuk di dalamnya.

Manusia-manusia berhati dan berperilaku iblis inilah yang kita jumpai di Negara -tidak sah- bernama Israel yang terus memerangi sesama manusia di Palestina. Sejak 1948, konflik ini makin subur. Bahkan, al-Aqsha yang merupakan kiblat pertama umat Islam, dikabarkan dalam keadaan kritis lantaran bagian bawah masjid ini telah digali terowongan dan sudah diadakan pembangunan Haekal Sulaiman –kuil suci milik Yahudi.

Konflik ini kemudian berkembang bukan hanya antara Israel dan Palestina. Melainkan merambat ke wilayah yang lebih besar, Israel melawan Islam. Israel dengan cerdas melambangkan konflik ini menjadi film kegemaran sebagian besar masyarakat dunia yaitu serial kartun Tom and Jerry. Ya! Disadari atau tidak, Tom and Jerry adalah representasi dari konflik Israel – Islam (Palestina).

Tikus kecil yang cerdik itu adalah perlambang Israel yang cerdas dan culas. Sementara kucing yang besar badan tapi kecil otak itu adalah lambang Islam (versi Israel). Jumlah umat Islam yang mayoritas seakan tak berarti bagi mereka. Sederhana saja, karena jumlah besar ini tak kunjung bersatu. Sikap mereka sering bertolak belakang. Bahkan, ada yang saling memusuhi. Sehingga Palestina dan Negara muslim lainnya yang dijajah bertubi-tubi oleh bangsa kera itu tak juga merdeka. Padahal, ketika seluruh umat Islam bersatu, Israel bukanlah apa-apa. Apalagi ketika Allah sudah menurunkan pertolonganNya. Maka ketika itu, kemenangan adalah suatu keniscayaan. Percayalah!

Di sinilah umat Islam dituntut untuk bersegera dalam memenuhi seruan jihad. Berjuang mengorbankan semua yang dipunyai demi kejayaan Islam di muka bumi. Ketika Islam jaya, maka penindasan tidak mungkin ada. Dan ini, bukan mimpi. Generasi terdahulu Islam telah membuktikan betapa damainya dunia ketika pemerintahan global dipegang oleh kaum muslimin yang benar imannya.

Jihad sebagai tingkat tertinggi dalam Islam dibebankan kepada semua muslim yang mampu. Lapangannya pun tak berbatas. Ada jihad politik, jihad harta, jihad nyawa dan lain-lain. Jihad nyawa inilah yang sering disebut-sebut dalam al-Qur’an. Sayangnya, belakangan ini musuh-musuh Islam sengaja memelintir makna jihad menjadi terorisme. Anehnya lagi skenario busuk ini berhasil membius sebagian besar kalangan muslim yang memang terkenal abangan dan acuh terhadap agamanya sendiri.

Jihad nyawa dianjurkan ketika kita diperangi. Ia adalah sarana untuk mempertahankan kehormatan diri dan aqidah. Ketika damai, jihad nyawa tidak disyari’atkan. Maka, ketika Palestina, Irak, Afghanistan, Patani, Moro, Chechnya, termasuk saudara muslim kita di Poso, Mesuji dan daerah lain dibantai oleh musuh-musuh Islam, maka menjadi kewajiban pula bagi kita untuk turut ke medan laga –berjihad di Jalan Allah. Sederhana saja, karena mereka adalah saudara-saudara kita.

Dan, sangatlah mustahil kita berdiam diri sementara saudara kita dihabisi nyawanya. Sayangnya, produk nasionalisme seperti batas teritorial sebuah Negara dengan Negara lain telah mengungkung kita sehingga tidak bebas menuju daerah konflik demi menyumbang nyawa guna kemuliaan Islam. Ada aturan-aturan kenegaraan yang mesti kita jalani ketika hendak beranjak ke luar negeri. Dan masalah inilah yang membuat kita terhalang untuk turut membantu nyawa bagi saudara kita yang diperangi di belahan bumi lainnya (lintas Negara). Oleh karenanya, ada sebuah alternatif pasti yang tak kalah pentingnya bagi kita yang hendak menanam Saham Jihad di berbagai Negara tersebut. Alternatif itu bernama Jihad Harta.

Secara khusus, jihad harta berarti menyumbangkan harta untuk mendukung bidang-bidang terkait jihad militer seperti membeli senjata, perlengkapan tempur dan baju perang ; mengembangkan fasilitas ; membangun pabrik senjata ; memberi tunjangan ekonomi bagi keluarga dan kerabat para mujahidin, agar para mujahidin merasa tenang dengan nasib orang-orang yang ditinggalkannya ; dan segala bentuk sumbangan yang digunakan untuk mengembangkan kekuatan kaum muslimin dalam setiap pertempuran dan segala bidang jihad militer yang bertujuan memerangi musuh Islam dengan cara apapun. (hal 26).

Jihad harta merupakan saudara kandung jihad nyawa. Bahkan, di berbagai ayat al-Qur’an terkait jihad, perintah untuk berjihad dengan harta selalu didahulukan dari perintah jihad dengan nyawa kecuali dalam surat at-Taubah [9] ayat 111, “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan al-Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.

Mari bercermin!

Salah satu kelebihan Islam atas agama lain adalah adanya sosok manusia ‘biasa’ yang berperilaku luar biasa. Agama ini dibawa oleh sesosok manusia yang sangat mungkin untuk diteladani karena mudah diakses kesehariannya dan mempunyai tabiat sebagaimana halnya manusia biasa. Kita tidak bisa membayangkan betapa susahnya kita meneladani Nabi jika beliau berasal dari golongan dewa-dewa langit sebagaimana terjadi pada agama lain. Dimana dewa-dewa itu mempunyai kelebihan ‘aneh’ sehingga sangat sulit untuk diduplikasi. Sebut saja kemampuan para dewa yang kata mereka bisa terbang, menembus bumi bahkan menghilang dan berjalan di atas laut tanpa basah apalagi tenggelam.

Kemudian, risalah kenabian Islam ini diteruskan oleh para manusia juga sehingga kita bisa berupaya untuk mencontohnya. Dan lagi-lagi, kita patut berbangga karena Islam diisi oleh para pendahulu yang paling cemerlang sepanjang sejarah. Bahkan, kecemerlangan generasi ini tidak mungkin tertandingi, sampai kapan pun.

Untungnya lagi, kita memang diperintahkan untuk mencontoh segala peri kehidupan mereka. Baik terkait kehidupan pribadi maupun kehidupan dalam berinteraksi dengan sesama manusia. Dalam kaitannya dengan Jihad Harta, para pendahulu umat ini telah memberikan teladan yang sangat luar biasa.

Lantas, mengapa harus meniru mereka? DR Nawwaf Takruri (Penulis buku ini) menjelaskan demikian, “Saat itu, tidak satu pun Bangsa atau Negara yang sanggup mengalahkan mereka (Rasulullah, Sahabat, Tabi’in, Tabit Tabi’in). Ini berkat kekuatan iman dan keyakinan mereka kepada Allah ‘Azza Wa Jalla, komitmen menjalankan syariat Islam yang berkaitan dengan jihad ataupun lainnya dan kepiawaian mereka dalam mengurus segala urusan.” Lanjut beliau, “Mereka patut menjadi teladan yang ideal bagi kita. Kita mesti mengikuti jejak langkah mereka. Dan, keadaan kita tidak akan menjadi baik kecuali dengan faktor-faktor yang memperbaiki keadaan mereka dahulu.” (Hal 68)

Semua pasti kenal sosok Abu Bakar ash-Shidiq. Khalifah pertama dalam Islam ini adalah pribadi yang sangat gemar berjihad dengan harta, di samping jihad dengan nyawa tentunya. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa beliau menyedekahkan semua yang dimiliki untuk kepentingan Jihad di jalan Allah. Ketika nabi bertanya, “Apakah yang kau tinggalkan untuk keluargamu?” dengan senyum manis sang mertua nabi itu menjawab santai, “Allah dan RasulNya.”

Jika Abu bakar selalu menyedekahkan seluruh hartanya untuk Allah, maka Umar bin Khathab adalah pribadi yang ‘pusing’ karena tak pernah bisa menyamai apalagi mengungguli amal sahabatnya itu. Umar hanya menyedekahkan setengah hartanya. Meskipun setengahnya tetap digunakan untuk berdagang yang kemudian untungnya dikembalikan demi mendanai jihad di jalan Allah.

Setali tiga uang dengan kedua pendahulunya, Utsman bin Affan merupakan sosok yang tak pernah berhenti dalam menyedekahkan harta di jalan Allah. Dalam perang tabuk, Utsman memberikan 300 ekor unta dengan seluruh perlengkapannya ditambah dengan 1000 dinar. (hal 72)

Lain lagi dengan Abdurrahman bin Auf. Salah satu saudagar kaya yang terdepan dalam jihad ini diriwayatkan menyerahkan setengah hartanya, yaitu sebanyak 4000 dirham. Dalam lain kesempatan, Ia menyumbang 40.000 dinar. Pernah juga mendanai pasukan dengan 500 ekor kuda dan 500 ekor unta. (Hal 72)

Sedangkan Ibnu Umar pernah menjual tanahnya seharga 200 ekor unta. Lalu, separuhnya dia gunakan untuk membekali pasukan mujahid. Sementara ‘Ashim bin Adi menyedekahkan 90 wasaq kurma dalam perang tabuk. (1 wasaq = 1980 kg) (Hal 74)

Lantas, mari bertanya pada diri kita masing-masing, “Sudah berapa rupiah uang kita yang mengalir untuk keperluan jihad di Jalan Allah? Atau, berapa persenkah dari pendapatan kita yang sudah dialirkan untuk menanam Saham Jihad di jalanNya?

Yahudi, Super Sekali!

Salah satu hal yang membuat Yahudi maju adalah semangat mereka dalam mengamalkan apa yang telah menjadi doktrin pergerakan mereka. Mereka rela melakukan apa saja demi tercapainya semua tujuan. Bahkan, mereka tak lagi terhalang pada batas Negara. Jika saat ini Yahudi sukses menduduki wilayah Palestina, maka hal itu merupakan kontribusi warga Yahudi dari berbagai penjuru dunia.

Tatanan organisasi mereka juga rapi. Dalam hal pendanaan, mereka membebankan semuanya kepada warga Yahudi, baik kaya atau miskin. Mereka memungutnya setelah dilakukan prosentase kekayaan. Jangan mengira bahwa sumbangan dana Yahudi hanya berasal dari konglomeratnya saja. Orang miskin Yahudi juga turut andil dalam hal finansial.

Di dalam buku setebal 160 halaman ini, Penulis menyebutkan 18 jenis organisasi Yahudi yang tersebar di negara (tak resmi) Israel dan di seluruh penjuru dunia. Organisasi ini sedikitnya mempunyai 7 tugas utama. Mulai dari menyerukan untuk menyumbang melalui kantong-kantong organisasi Yahudi, mengumpulkan, hingga menyalurkannya ke seluruh warga Yahudi khususnya yang berada dalam area konflik (Israel). Tak hanya itu, bagi keluarga-keluarga yang ditinggalkan pun akan mendapat santunan. Mereka juga mensosialisasikan program ini kepada para pelajar dan mahasiswa. Sehingga para pelajar itu mau menyisihkan uang sakunya untuk mendanai perang. Luar biasa! Bagaimana dengan pelajar dan mahasiswa muslim kita?

Dalam sebuah jamuan yang diadakan oleh Barbara S (senator Yahudi) pada pertengahan September 1966, ia berhasil menghimpun 3,5 juta US dollar. Dana tersebut digunakan untuk mendukung kampanye Bill Clinton yang notabene tangan kanan Yahudi. Peserta dalam jamuan makan itu dikenakan biaya mulai 500 sampai 120.000 dolar. Jumlah undangannya sekitar 700 hadirin. (hal 88)

Lain lagi dengan Irving Maskovich. Ia adalah salah satu aktor yang mendanai penggalian terowongan arkeologi di bawah fondasi masjid al-Aqsha. Ia mengeluarkan jutaan dollar untuk mendukung pemenangan kampanye Benyamin Netanyahu  melawan pesaingnya Ehud Barak. Lantas, bagaimana dengan hasil dari jutaan bahkan milyaran dolar yang berada di tangan sekian banyak pebisnis dan orang-orang kaya Muslim? (hal 89)

Selanjutnya, terserah Anda …

Dalam buku terbitan Proumedia ini, Penulis yang merupakan salah satu pimpinan HAMAS menyerukan kepada kaum muslimin di seluruh penjuru dunia untuk melakukan aneka aksi guna membantu Jihad kaum Muslimin. Idealnya, kita harus bersatu untuk menyumbangkan nyawa di jalan cinta para mujahid. Namun, jika banyak faktor yang belum memungkinkan, maka Penulis menyajikan berbagai macam cara agar kita bisa turut andil dalam berkontribusi dengan harta di medan jihad.

Ingat! Harta yang kita keluarkan bukan hanya dihitung berdasarkan jumlahnya, melainkan lebih pada persentase dari total materi yang bisa kita upayakan. Bisa jadi, mereka yang pas-pasan dinilai lebih baik dari orang kaya karena si miskin menyumbangkan 50% hartanya sedangkan si Kaya menyumbangkan 1%. Meskipun, secara jumlah, si Kaya lebih banyak dari si miskin dalam menyalurkan hartanya. Tentunya jika ikhlas senantiasa mengiringi amal mereka

Beberapa hal yang diserukan oleh penulis terkait Jihad Harta yang mesti kita agendakan dengan seksama adalah:

  1. Alokasikan 2.5 % zakat maal kita untuk mendanai jihad.
  2. Mengutamakan membeli produk dalam negeri yang tak berbau Yahudi.
  3. Boikot adalah keniscayaan! Karena Yahudi pun memboikot produk-produk selain dari produksi mereka.
  4. Menghemat pengeluaran kosmetik bagi sebagian muslimah. Sisa penghematan tersebut akan lebih bermanfaat untuk mendanai mujahid atau keluarga yang ditinggalkannya.
  5. Mengurangi jatah makan dan minum yang berlebihan serta pengeluaran untuk anak-anak usia sekolah. Dalam hal makan dan minum, kita bisa menyiasatinya dengan makan seadanya asal memenuhi kriteria kesehatan. Apalagi jika bisa rutin melaksanakan puasa sunnah. Maka, dengan begitu, dana yang bisa disisihkan untuk mujahidin lebih banyak.

Terkait kebutuhan anak-anak usia sekolah, sebuah fakta disajikan oleh penulis : Jumlah anak-anak muslim di seluruh dunia sekitar 200 juta dari taman kanak-kanak sampai mahasiswa. Jika perbulan masing-masing mereka bisa mengumpulkan 1 Euro, maka dalam setahun akan terkumpul dana sebanyak 24 Miliar Euro! Dan sejumlah itu merupakan jumlah yang lebih dari cukup untuk mendanai jihad di Palestina, Irak dan Negara-negara konflik lainnya- termasuk Indonesia. (hal 119)

  1. Saling memberi Hadiah dengan kwitansi infaq dan jihad harta.
  2. Mengganti dana perjalanan haji dan umrah sunnah dengan menyalurkannya untuk biaya jihad.
  3. Berhemat dalam pengeluaran pesta pernikahan. Lebih lanjut, penulis menganjurkan agar pasangan-pasangan muslim mengalokasikan dana hasil pernikahannya itu untuk saudara-saudara mujahidin di berbagai penjuru dunia.
  4. Mengurangi kebiasaan merokok, atau menghindarinya dan meninggalkannya sama sekali. Di Syiria, dana yang habis untuk membeli rokok adalah 600 juta dolar per tahun. Belum termasuk Negara muslim lainnya. Jika diakumulasikan dan disalurkan untuk dana jihad, sungguh sangat luar biasa! Allahu Akbar! Sudah sehat karena tidak merokok, dapat pahala pula… Subhanallah
  5. Penyembuhan dengan sedekah. Jika ada saudara atau diri kita yang sakit, maka keluarkanlah sejumlah dana untuk sedekah di jalan Allah. Dan tunggulah keajaiban dariNya, “Bentengilah (jagalah) hartamu dengan zakat, obatilah orang-orang yang sakit di antara kalian dengan sedekah, dan cegahlah musibah dengan doa.” (HR Thabrani)
  6. Mengasumsikan adanya satu pegawai tambahan pada setiap sepuluh orang pegawai di perusahaan yang kita miliki atau mengandaikan tambahan satu orang penghuni lagi dalam keluarga kita. Lalu, alokasi dana untuk satu orang tersebut bisa disalurkan untuk mendanai jihad.
  7. Mengalihkan sebagian amal ibadah ke bidang jihad. Misal: dana untuk renovasi masjid secara berlebihan dan agenda-agenda konsumtif lain yang tidak terlalu penting.
  8. Menghemat biaya pengeluaran pulsa yang tidak perlu untuk kepentingan jihad.

Buku mungil ini akan membuat Anda berdecak kagum lantaran sajian yang mengalir. Kita juga dibuat terhenyak lantaran selama ini banyak dari cara hidup kita yang kurang efektif, khususnya dalam bidang pengelolaan pengeluaran harta. Harapannya, setelah membaca buku ini, seluruh kaum muslimin mulai tergerak untuk mengalokasikan dana demi membantu para pejuang di jalan Allah, di manapun mereka berada.

Akhirnya, fakta telah dibentangkan. Dalil telah digelar. Semua berpulang kepada kita sebagai individu muslim yang mengaku beriman. Akankah kita peduli, cuek, atau ikut andil dalam perjuangan panjang melawan Zionisme Yahudi dan bala tentaranya? Selamat membaca, dan selamat menanam Saham Jihad

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (7 votes, average: 8,14 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Pirman
Penulis, Pedagang dan Pembelajar

Lihat Juga

Mendatangkan Keajaiban Berdasarkan Al-Quran