Home / Pemuda / Cerpen / Evolusi Secangkir Kopi

Evolusi Secangkir Kopi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.

dakwatuna.com Sinar keemasan menjelang siang itu menusuk perlahan ke lapisan epidermis kami yang telah lama berkawan dingin.  Kebekuan yang biasanya membalut pagi tampaknya benar-benar telah pergi. Musim dingin tergantikan oleh musim semi. Sakura-sakura di sekeliling kampus sudah mulai bermekaran. Kelabu tak lagi menghiasi kanvas alam, telah diceriakan oleh warna-warni bunga yang bermekaran.

“Srruuuppp….” Hirupan pertama kopi panas tanpa gula di pagi yang penuh dengan kehangatan. Fifi memejamkan matanya, menikmati aromanya yang tajam dan menghayati setiap tetesan kopi yang bermain dengan lidahnya.

I do really love warm weather….” Ujarnya kemudian. Lengkungan indah tercipta di wajah manisnya yang mulai berkeriput, mengalahkan rekahan mentari. Saya membalas senyuman itu, turut menikmati pagi yang kami rindukan. Duduk berdua di taman kampus ditemani secangkir kopi dan teh hijau serta dua potong wafel jagung.

“Kamu memang suka kopi tanpa gula?” pertanyaan pertama meluncur. Saya tak bisa menyembunyikan wajah yang sedikit begidik, tak bisa membayangkan bagaimana rasanya kopi tanpa gula.

I get used to… dulu sewaktu muda saya menyukai segala sesuatu yang manis, dan seiring bergulirnya waktu… seperti musim dingin yang digantikan musim semi… yang berlalu begitu saja dengan atau tanpa kita sadari, begitu juga dengan selera saya… perlahan berubah.”  Lagi, Fifi tersenyum, khasnya setiap menyelesaikan sebuah kalimat. Saya mengangguk-angguk, sepotong kecil  wafel berlalu ke mulut saya.

Jadi ingat waktu awal bertemu, di saat saya belum begitu mengenal Fifi. Interaksi kami hanya sebatas pertemuan di kelas dan beberapa konferensi yang menghadirkan Fifi sebagai pembicara. Pertama bergabung dengan kelas Fifi, saya sudah bertekad, kalau Fifi harus menjadi dosen pendamping saya. Pembawaannya yang sederhana, tutur katanya yang keibuan dan senyumannya benar-benar sudah menghujam dasar hati saya, dan saya tidak bisa untuk berpaling ke yang lain. Mencoba mendekati Fifi, saya memintanya untuk mengkritisi tulisan yang akan saya kirimkan ke sebuah konferensi internasional. Di tempat yang sama dengan pagi ini, di antara pohon pinus dan sakura yang saat itu hanya ada rantingnya, Fifi dengan serius memberikan masukan dan saran. Draft tulisan saya penuh dengan coretan tinta berwarna merah. Caramel Macchiato yang  disuguhkan sedikit pun tak di sentuhnya, cheese cake yang saya sajikan dengan penuh cinta hanya sedikit dicicipinya. Itu pun karena pernyataan awal saya…”cheese cake ini special saya buat untuk Fifi.” Ya… dulu saya tidak tahu apapun yang Fifi sukai. Dan perlahan… sedikit demi sedikit… saya mulai memahaminya.

“Waktu berlalu begitu cepat ya….” Fifi merapikan syalnya, menyeruput kopi untuk kesekian kalinya dan menaruh gelas plastik itu ke atas meja. Pandangannya beralih ke arah saya, masih dengan senyumannya. Saya membalas senyuman itu dan mengangguk, mengiyakan pernyataannya.

“Benar… rasanya baru kemarin saya masuk di kelas Feminist Historiography, tak taunya hari ini adalah hari terakhir saya di Taiwan.”

Please come back...” cepat, Fifi memotong perkataan saya. Saya tidak memberikan jawaban apapun, selain seulas senyum.

“Kalau tidak bisa kembali tahun ini… saya tunggu tahun depan.”

“Hahaha… ya semoga bisa… doakan saja…” jawab saya cepat, dan kemudian berfikir, bagaimana cara Fifi mendoakan saya? Dia pernah menyatakan kepada saya kalau dia bukan penganut  agama apapun.

Lama, tatapan saya tidak beralih dari Fifi. Saya rekam semua detail darinya di memori, karena saya takut, itu adalah terakhir kalinya saya bisa menikmatinya.  Semua wejangan-wejangan yang disampaikan Fifi, saya ingat baik-baik. Satu demi satu Fifi bercerita tentang masa lalunya… tentang perjuangannya menuntut ilmu hingga menjadi profesor yang di segani tidak hanya di Taiwan, namun juga di kawasan Asia Pasifik. Fifi bahkan tidak sungkan bercerita tentang kehidupan pribadinya. Hubungan kami telah termakan oleh waktu, mengalami transisi seperti perubahan selera Fifi yang pecinta manis hingga menjadi anti gula. Berubah…. berkembang…. bergelut dalam proses kehidupan. Ikatan kami bukan lagi antara profesor dan mahasiswa, namun sudah masuk ke hubungan persahabatan beda generasi.

***

Seekor tupai melintas di hadapan kami, berlalu begitu saja. Bel kampus juga sudah berdentang berkali-kali menandakan sudah lebih dua jam kami menghabiskan waktu bersama.

“Yuk makan siang…” tawar Fifi. Gelas-gelas minuman yang sudah kosong dan piring kertas bekas wafel dirapikannya, lalu di buang ke tong sampah di sebelah wastafel.

“Makan di mana?”

“Vegetarian belakang kampus bagaimana? Saya kangen dengan dumpling nya.” Fifi menjelaskan sebuah restoran vegetarian di belakang kampus yang menyajikan masakan Cina Selatan, tempat makan favoritnya.

Beriringan, kami menyisiri jalan kayu menuju area belakang kampus, di antara deretan pohon pinus. Sungai kecil mengalir di sisi kanan kami. Sahut-sahutan nyanyian burung menemani setiap jejakan kaki. Fifi dengan mata berbinar-binar bercerita mengapa dia menyukai masakan racikan khas Nanjing di restoran yang akan kami tuju.

“Ya… ayah dan ibu saya berasal dari sana. Masa kecil saya pun saya habiskan di kota yang kaya akan peninggalan sejarah dan budaya itu. Di sana juga saya mengenal Islam.”

“Heh??”

“Iya… teman dekat saya seorang Muslim.” Lanjut Fifi ringan. Matanya menerawang seakan terbang menangkap waktu yang tercecer di belakang.

“Sayangnya, karena tekanan terhadap muslim di Cina begitu besar, teman saya harus mengungsi ke negara lain. Saat itu tidak seperti sekarang, dulu tidak ada telepon, email dan Facebook. Hingga sekarang kami tidak pernah berhubungan lagi.” Fifi melanjutkan. Pikiran saya justru bergelut dengan pemahaman Fifi akan Islam yang memang jauh di atas rekanan Taiwan lainnya yang saya kenal. Fifi paham kewajiban shalat, mengenal bulan Ramadhan dan memperhatikan kebutuhan makanan halal bagi mahasiswi muslimnya. Setiap hari besar Islam, dia selalu mengirimkan kartu ucapan elektronik. Bahkan ketika saya mengangkat tema “The Spiritual Life of Indonesia Migrant Workers in Taiwan” sebagai bahan tesis saya, sedikit pun tidak ada penolakan dari Fifi. Namun ketika itu saya hanya berfikir, semua pemahaman yang dimiliki Fifi memang karena pengetahuannya yang cukup luas, sebagai seorang profesor di bidang ilmu sosial.

“Fatimah… nama teman saya itu Fatimah…”

“Nama yang bagus. Fatimah nama yang popular di kalangan umat Islam, nama anak Nabi Muhammad SAW.”

“Oh ya?” Fifi menjawab antusias, dan berharap saya bercerita lebih lanjut tentang Fatimah. Seolah-olah kenangannya akan Fatimah yang tertimbun begitu dalam mencuat layaknya penemuan harta karun.

***

Gerbang merah yang penuh dengan ukiran naga menyambut kami dengan gagah. Perlahan langkah kami memasukinya. Seorang ibu berwajah bundar kemerah-merahan dan bermata sipit khas Cina daratan mengarahkan kami ke meja resepsionis. Fifi bercakap-cakap dengan aksen Cina Daratannya yang tidak pernah hilang, memesan sebuah tempat untuk kami berdua. Sigap, seorang pelayan mengantar kami menuju ruangan, melewati jembatan yang dipenuhi ikan mas di bawahnya. Di sebuah ruangan paling ujung, tepat di sebelah air mancur buatan, dari sini kami menikmati dentingan suara air yang berharmonisasi dengan alam.

Ruangan yang dipilih Fifi berukuran 3×4 meter, beralaskan tikar anyaman bamboo, dan sebuah meja besar tertata di tengahnya dilengkapi beberapa buah bantal tersusun rapi di sekitarnya. Saya pribadi sebenarnya lebih menyukai lokasi outdoor, yang menyajikan design khusus taman-taman istana Cina.

“Mau pesan apa?”

“Apapun… yang spesial…” cepat, saya menjawab pertanyaan Fifi. Toh saya pun tidak bisa memaksakan diri memilih-milih menu yang tidak sanggup saya baca. Fifi tertawa kecil, dan mencontreng beberapa menu andalan pilihannya. Wanita pelayan turut menyarankan beberapa menu baru, dan Fifi menyetujuinya.

“Fifi, kamu sejak kapan jadi seorang vegetarian?” beraneka pertanyaan yang selama ini hanya bersarang dipikirkan saya lontar satu persatu. Lagi, Fifi tersenyum.

“Hm… sama seperti dengan selera saya akan kopi. Dulu saya pecinta daging, sangat suka. Dan perlahan semua berubah. Lidah saya tidak lagi menikmati daging.”

“Mengapa? Apa karena menyadari sayur lebih baik untuk kesehatan? Pun gula yang juga tidak baik untuk tubuh?”

“Hm… ya… lebih kurang seperti itu. Terkadang, banyak kebaikan di dunia ini, namun karena keangkuhan kita atau ego yang kita miliki, kita tidak mau mengakuinya. Atau mungkin membenarkannya, namun menganggap itu bukan jalan yang layak dan pantas untuk dipilih. Hingga pada akhirnya, ketika waktu mengajarkan manfaat-manfaatnya dan diri kita sendiri merasakannya… sadar atau tidak… kita berubah. Berevolusi dari satu proses ke tingkatan berikutnya, yang menurut kita lebih baik. Terkadang ketika menyelami diri saya saat ini, saya tidak lagi mengenal saya yang dahulu. ”

“Semua orang pasti mengalami fase perubahan itu?”

“Ya… pasti… entah ke arah mana, namun perubahan itu pasti.”

“Maka tidak tertutup kemungkinan, Fifi pun akan menjadi penganut Islam, ketika menyadari itu adalah pilihan terbaik?”

Sorry?”

“Hahaha… maaf saya hanya ngelantur…” cepat saya mengalihkan pembicaraan. Namun jauh dalam lubuk hati… doa itu teramat tulus… Jika memang cahaya itu ada untuk Fifi, semoga Allah memudahkannya. Aamiin…

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (8 votes, average: 9,75 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Jaufa
Seorang pelajar yang suka bercerita...

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Belajar dari Kisah Nabi Musa dan Khidir