15:47 - Rabu, 27 Agustus 2014
Mustaqim Anshori

Bagaimana Seorang Muslim Belajar?

Rubrik: Artikel Lepas | Oleh: Mustaqim Anshori - 21/03/12 | 13:30 | 28 Rabbi al-Thanni 1433 H

Ilustrasi - Cuplikan cover buku "Prophetic Learning" karya Dwi Budiyanto. (ist)

dakwatuna.com - “Ilmu itu harus didatangi, bukan mendatangi” begitu jawab Imam Malik, ketika Khalifah Harun Al Rasyid menyuruh beliau untuk datang dan berkenan untuk mengajarkan ilmunya kepada anak sang khalifah. Mendapatkan jawaban dari imam Malik, khalifah menyuruh kepada anak – anaknya untuk datang ke masjid, majlis ilmu tempat imam Malik memberikan ilmunya yaitu kitab al-Muwatha’ kepada muridnya. “Tidak masalah sang amirul mukminin, anakmu datang ke majlis tersebut dengan syarat mereka tidak boleh melangkahi bahu jama’ah dan bersedia duduk di posisi mana saja yang lapang bagi mereka”.

Dialog tersebut menjadi pembuka dalam Buku  “Prophetic Learning” karangan Ust. Dwi Budiyanto tsb. Dialog yang secara tidak langsung telah mewakili sebagian isi Buku ini, yaitu BAB 1 Tentang “bagaimana seorang Muslim itu belajar”?

Dari dialog tersebut dapat kita ambil pelajaran untuk kita sebagai seorang muslim. Bahwa ilmu itu harus dikejar, dicari, dan didatangi, bukan menungguinya hingga ilmu datang dengan sendirinya, bukan. Tapi butuh kerja keras dan pengorbanan dalam mencarinya. Aktivitas itu (menuntut ilmu, pen.) tidak akan bisa terlaksana manakala motivasi dalam menuntut ilmu sangat rendah atau bahkan tidak ada, dan perlu kita ingat bahwa motivasi yang benar lah yang akan mendorongnya, yakni  motivasi karena Allah Swt. Ikhlas, karena ini adalah kewajiban yang diperintahkan oleh Allah SWT. Karena dengan ilmu perjalanan akan tersinari hingga ia tak akan tersesat kita menelusurinya, karena “al ‘ilmu Nuur” ilmu adalah cahaya. Berangkat dari motivasi yang benar itulah mudah mudahan ilmu yang kita dapatkan menambahkan keberkahan bagi kita dan sekitarnya.

Lain halnya dengan Motif yang ingin membanggakan diri, materi atau agar beroleh pujian dari manusia. Dalam jawaban imam Malik kepada sang khalifah “Baiklah tapi dengan syarat tidak boleh melangkahi bahu yang lain dan harus lapang dalam majelis”, tersirat bahwa dalam menuntut ilmu rasa sombong, bangga diri, ujub harus dilepas dalam diri kita, dan sebaliknya lapang dada/ Legowo yang harus dijadikan bekal.

“Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majelis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al mujadillah ayat 11).

Kemudian cukuplah hadits yang  diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA ini menjadi tadzkirah (peringatan) bagi kita.

Beliau berkata bahwa Rasulullah saw bersabda “Barangsiapa yang Belajar untuk membanggakan diri dengan ulama, atau untuk menentang orang – orang jahil, atau untuk menarik perhatian agar manusia tertuju padanya, Allah akan memasukkanya ke dalam neraka jahannam (HR. Ibnu Majah).

Dalam buku “Prophetic Learning” yang ditulis oleh Ust. Dwi Budiyanto, dijelaskan tips agar Belajar kita beroleh keberkahan. Berikut Tipsnya:

1. Motivasi  yang Ikhlas (ikhlas an-Niyyah)

Ya motivasi yang ikhlas hanya karena Allah, bagaimanapun segala amal perbuatan terletak dari niat itu sendiri, ia akan bermakna manakala niat tersebut karena Allah SWT.

2. Belajar dengan sebaik- baiknya (Itqan-Al’amal)

Setelah meniatkan tersebut karena Allah, maka lakukanlah usaha sebaik mungkin. Rajin, tekun, ulet disiplin dalam Belajar. Lakukan itu semua sebaik mungkin, semaksimal mungkin, karena totalitas adalah kualitas, (eits…kalau moto saya suka, tapi kalau produknya TIDAK, pen.)

3. Pemanfaatan Hasil Usaha secara Tepat. (Jaudah – Al’ada)

Inilah unsur ketiga untuk mendapatkan keberkahan dalam belajar. Berangkat dari niat yang benar, kemudian usaha yang maksimal dengan Gigih dan sabar, hingga Hasil pun diraihnya, maka Manfaatkan Ilmu tersebut untuk kepentingan masyarakat dan umat. Bukan untuk menjualnya dengan Materi. (Maaf) ia menjadi “Pelacur intelektual”. Ke sana kemari dengan mempertimbangkan materi yang diperolehnya.

Inilah perkara yang mendasar dalam belajar, kesadaran inilah yang dimiliki oleh para generasi salaf dalam menuntut ilmu, hingga ia melejit dengan ilmu yang dimiliki dan berkontribusi dengan amal yang berkualitas hingga menuai keberkahan bagi diri dan sekitarnya.

Maraji:

- Al-Qur’an

- Buku “Prophetic Learning” menjadi cerdas dengan jalan kenabian. Dwi Budiyanto.

- Kumpulan Hadits.

Mustaqim Anshori

Tentang Mustaqim Anshori

Terlahir di sebuah desa terpencil daerah jawa tengah yaitu Pamutih. Berkeinginan menjadi seorang penulis. Dan kini sedang merantau di daerah Depok. Bekerja sambil menimba ilmu. [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Hendra

Topik:

Keyword: ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (13 orang menilai, rata-rata: 8,85 dalam skala 10)
Loading ... Loading ...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
Iklan negatif? Laporkan!
85 queries in 2,109 seconds.