Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Satu Islam Satu Tujuan

Satu Islam Satu Tujuan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Belakangan ini ramai dibincangkan bahwa umat Islam sudah tak akur lagi dengan sesama seimannya. Tentu ini bukan pepesan kosong yang tak beralasan. Salah satu buktinya ialah adanya beberapa oknum Muslim yang terus menebar rasa kebencian dan ingin dianggap paling benar. Bahkan yang paling ekstrem sampai ada yang sudah tak segan melakukan takfir(menganggap kafir kepada Muslim yang berbeda pandangan dengan mereka). Akibatnya, permusuhan internal kaum Muslimin tumbuh subur bak cendawan di musim hujan. Lalu, apa yang menjadi akar masalah sebenarnya?

Begitu banyak nash Al-Qur’an maupun sabda Nabi Muhammad SAW yang memerintahkan kita untuk bersatu. Sebaliknya, perpecahan sangat dibenci Allah SWT dan Rasulullah SAW. Salah satu yang mungkin sudah taka asing lagi bagi kita ialah firman Allah SWT sebagai berikut:

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah menjinakkan antara hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Ali-Imran(3):103)

Nabi Muhammad SAW pun telah bersabda:

“Penyakit umat-umat sebelum kamu telah menjangkiti kalian: kedengkian dan permusuhan. Permusuhan adalah pencukur. Aku tidak mengatakan pencukur rambut, tetapi pencukur agama. Demi Dzat yang diriku berada di tangan-Nya, kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman. Dan kalian tidak beriman sampai kalian saling mencintai” (HR At-Tirmidzi: 2512)

Perbedaan vs Perpecahan

Sebaiknya mulai sekarang kita harus ubah mindset bahwa perbedaan itu akan menghasilkan perpecahan atau permusuhan. Hubungan kedua hal itu sebenarnya bukanlah merupakan implikasi mutlak. Ketika ada perbedaan yang berujung saling memusuhi, maka bukan perbedaan itu biang keladinya. Permusuhan yang sangat dibenci Islam itu timbul justru karena individu Muslim itu tidak tepat menyikapi perbedaan yang ada.

Kita seharusnya mengaca kepada generasi terbaik umat Islam. Ya, hal ini penting dilakukan karena perkara perbedaan pendapat (ikhtilaf) sudah ada sejak Nabi Muhammad SAW hidup. Banyak sudah kisah nyata di kalangan sahabat saat itu yang bisa kita teladani. Meskipun berbeda persepsi dalam menafsirkan sabda Rasulullah SAW bahkan firman Allah SWT, tak ada permusuhan dalam kamus kehidupan mereka. Rasulullah SAW sendiri pun tak menyalahkan salah satu pihak jika ada yang memiliki beda pandangan dalam hal furu’iyyah (cabang). Ini menjadi hal yang lumrah karena ternyata perbedaan tersebut masuk dalam kategori ta’addudu tanawwu’ (perbedaan yang bersifat variatif), bukan ta’addudu ta’arudh (perbedaan yang bersifat kontradiktif).

Perbedaan & Hikmahnya

Hadits yang menyatakan “Perbedaan di kalangan umatku adalah rahmat” memang masih menjadi polemik di antara para ulama. Banyak ahli hadits yang mumpuni di bidangnya men-dhaif-kan hadits tersebut. Namun, karena menimbang beberapa keterangan lain baik dari Al-Qur’an dan Al-Hadits, ikhtilaf seperti ini pun bisa dimaklumi keberadaannya.

Hikmah besar yang mungkin berada di balik perbedaan pendapat ini salah satunya ialah tashil (memudahkan) dan musamahah (toleransi). Ada sebuah kisah yang masyhur tentang Imam Ahmad rahimahullah dalam hal ini. Suatu hari beliau pernah ditawari agar salah satu kitabnya dijadikan rujukan wajib untuk kaum Muslimin dalam hal Fiqih. Namun, dengan rendah hati beliau menolak dan menyatakan bahwa hal itu justru akan memberatkan kaum Muslimin dalam beragama. Beliau mengatakan umat Islam diperbolehkan memilih pendapat dari para ulama lain tanpa harus berpatokan kepada satu imam mazhab. Beliau menyadari bahwa boleh jadi pendapat beliau sendiri tidak benar secara keseluruhan.

Oleh karena adanya kebebasan kaum Muslimin untuk memilih pendapat mana yang akan dijadikan landasan bersikap ini, kita tak akan merasa disulitkan. Manakala ada keadaan yang benar-benar di luar kontrol kita, maka kita diperbolehkan memilih pendapat ulama atau imam lain walaupun berbeda pendapat dengan yang sebelumnya kita anut. Prinsip kemudahan ini sejalan dengan beberapa keterangan, salah satunya ialah:

“….Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan…” (QS Al-Hajj (22):78) 

Kemudian ketika masing-masing individu berpegangan kepada dasar yang berbeda, di sinilah peran toleransi diperlukan. Kita dituntut untuk bisa menghormati kepada saudara seiman yang berbeda pandangan dalam suatu perkara furu’iyyah itu.

Bekerja Sama Untuk Satu Tujuan

Sampai saat ini tak ada yang memungkiri bahwa tantangan Islam begitu banyak menghadang. Tantangan tersebut muncul dari dalam tubuh Islam sendiri (internal) dan luar Islam (eksternal). Oleh karenanya, sikap yang sebaiknya kita ambil ialah tidak memperkeruh keadaan ini. Justru aksi nyata menyatukan kaum Muslimin dalam bingkai perjuangan fisabilillah mutlak harus dilakukan. Dan ‘menyatukan’ dalam hal ini memang tak harus dalam satu wadah (wajihah). Kita diperbolehkan bergabung dengan berbagai wajihah asalkan tidak menjadikan ukhuwah islamiyah luntur tak berbekas. Perbedaan fokus pergerakan dan metode masing-masing wajihah justru bisa menghasilkan suatu kerjasama harmonis yang berbuah manis.

Mengenai hal ini, kaidah dari seorang ulama pembaharu, Muhammad Rasyid Ridha, di bawah ini patut kita perhatikan:

“Bekerja sama dalam masalah yang kita sepakati dan saling toleransi dalam masalah yang kita perselisihkan”

Banyak ulama kaum Muslimin akhirnya mendukung kaidah ini. Salah satu orang yang paling menghargai dan senantiasa berpegang teguh dalam menjalankannya ialah Imam Syahid Hasan Al-Banna. Sehingga para pengikut dari murid beliau banyak yang menyangka bahwa beliau yang merumuskan kaidah tersebut.

Kerjasama yang dimaksud ini tentu akan banyak menyelesaikan problem besar yang mengintai Islam dan kaum Muslimin. Di antara problem yang sebaiknya menjadi perhatian kita ialah: ketauhidan, pemurtadan, moral, sistem hidup masyarakat, ghazwul fikr (perang pemikiran), kemiskinan, penindasan, dan sebagainya.

Akhirnya, marilah kita singkirkan segenap perbedaan furu’iyyah yang ada di kalangan kaum internal kita. Tak bijak rasanya jika kita hanya berkutat dalam membahas perbedaan yang ada. Satukan langkah dalam satu payung Islam yang satu menuju ridha Ilahi!

Tulisan kedua (terakhir) yang banyak diinspirasikan dari buku “Fiqih Perbedaan Pendapat Antar Sesama Muslim” karya Dr. Yusuf Qaradhawi. Silakan membaca langsung buku tersebut untuk memperoleh pembahasan utuh mengenai hal ini.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 9,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Nur Afilin
Aktivis Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI).
  • Semoga sekalian ummat Islam menyadari hal ini, innamal mu’minuna ikhwatun fashlihu baina akhowaikum. Mari bersatu untuk kemajuan dan keselamatan ummat Islam. Terima kasih atas ulasannya.

  • nandaarfany

    Saya sependapat dengan Tulisan ini,Satu Islam Satu Tujuan. Sudah menjadi sifat dasar manusia adalah Rakus dan dengki serta ingin menang sendiri. Merasa benar sendiri,sehingga demi keinginan hatinya yang jauh dari ridho Allah ia kerap menghalalkan segala cara seperti memusuhi saudaranya sendiri. Sangat jelas banyak kita lihat umumnya yang paling banyak terjadi masalah dalam satu keluarga adalah tidak ada kepedulian antar saudara. Semoga kita menyadari hal ini sebelum kita benar-benar dalam posisi merugi di sisi Allah dan Rasulullah,amiin….

Lihat Juga

Ilustrasi. (vm-kompania.com)

Implementasi Perkembangan Praktik Audit Syariah di Bank Islam Malaysia