Home / Berita / Nasional / Harusnya Rakyat yang Mengeluh, Bukan SBY

Harusnya Rakyat yang Mengeluh, Bukan SBY

Anggota Komisi III DPR dari Fraksi PKS Aboe Bakar (facebook)

dakwatuna.com – Jakarta. Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menyesalkan Presiden SBY yang mengeluh karena mendapat ancaman. PKS menilai itu tidak patut.

Bagi PKS, seharusnya rakyatlah yang mengeluh ke pemimpinnya. Apalagi, jelang kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) pada april 2012 mendatang.

“Saya sendiri sudah tidak bisa berkomentar banyak. Saya sangat galau. Seharusnya rakyat yang curhat, malah ini sebaliknya,” ujar Ketua DPP PKS Aboe Bakar Alhabsy, kepada INILAH.COM, Selasa (20/3/2012).

Anggota Komisi III DPR ini melihat rakyat sudah dalam posisi yang kepepet. Harga BBM baru direncanakan naik tetapi harga barang sudah melejit duluan. Tetapi, penghasilan rakyat justru tidak berubah bahkan lebih buruk.

Banyak persoalan yang dihadapi rakyat. Petani menghadapi hama tani, nelayan dihadapkan gelombang tinggi sehingga tidak bisa melaut, terorisme dan korupsi masih meraja lela. Belum lagi persoalan pendidikan mahal dan kesehatan yang masih belum sepenuhnya berpihak pada rakyat.

Anehnya, lanjut Aboe, disaat rakyat ingin curhat ke pemimpinnya, mereka tidak mendapatkan ruang. Bahkan, dari pemimpinnya sendiri yang seharusnya mengakomodasi mereka.

“Rakyat harus mendengar curhat tentang adanya ancaman mau dilengserkan dari kekuasaan, keluh kesah terima soal BBM. Bahkan keluhan soal ancaman keselamatan kepada keluarga,” jelasnya.

Sebelumnya, saat silaturahim dengan sejumlah kader Partai Demokrat, minggu (18/3/2012) malam di kediamannya di Puri Cikeas Bogor Jawa Barat. SBY mengeluh dan mengaku mendapat ancaman untuk dirinya dan keluarga terkait kebijakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM). Ancaman itu seperti siap menggulingkan SBY di tengah masa jabatannya.

“Saya tidak dapat membayangkan bagaimana penuhnya otak rakyat ini. Mikirin makan besok saja sulit apalagi berpikir pelengseran kekuasaan,” katanya.

Baginya, aneh saja jika seorang Presiden mengeluhkan persoalan ancaman. Padahal, rakyat yang merasakan dampaknya, justru malah disuruh menerima keluhan seorang Presiden.

“Apalagi (rakyat) harus memikirkan keamanan orang yang sudah punya maximum security. Mereka (rakyat) pun ke mana-mana sendiri tanpa asuransi,” jelasnya.

Presiden yang curhat, menurutnya tidak wajar. Tetapi, kalau rakyat yang curhat adalah sangat wajar. Sebab, mereka yang merasakan langsung kenaikan BBM.

“Namun bila ada yang curhat karena takut kehilangan kekuasaan saya kira itu tidak patut,” pungkasnya. (gus/Agus Rahmat/inilah)

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (30 votes, average: 9,07 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Tim dakwatuna adalah tim redaksi yang mengelola dakwatuna.com. Mereka terdiri dari dewan redaksi dan redaktur pelaksana dakwatuna.com
  • sudah jadi presiden,dan lupa bagaimna rasanya jadi rakyat

  • Diangkat jadi presiden pake sumpah Al-quran tapi kayaknya Al-Quran ga diamalin dalam cara memimpin bangsa ini! klo mo jadi pemimpin amalin dong Al-quran,hadist dan baca kisah para khalifah,para khalifah ketika menjadi pemimpin mendahulukan rakyatnya,rakyat nya harus serba lebih didahulukan,tapi indonesia ini kebalik pemimpinya harus serba lebih didahulukan daripada rakyatnya!
    Next time klo pemilu diadakan lagi jangan ada yg nyoblos sebelum ada calon pemimpin yg mendekati kriteria sperti para khalifah!

  • Mundur saja dari Kursi Presiden kalau semuanya takut, sementara anggota dewannya (sepertinya tak terkecuali) bisanya cuma “nyerocos” di media massa di senayan sana kalian diam saja

  • lha wong presiden lemah

  • Persiden Juga manusia kan, makanya semua pemimpin atau yg punya partai saling membantu donk, jgn saling menjatuhkan, bagai mana negara inim bisa maju, klo yg dipentingkan partainya sendiri….

Lihat Juga

Presiden PKS, M Sohibul Iman. (IST)

Sohibul Iman Ungkap Lima Syarat Jadi Pemimpin yang Berkualitas