Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Pedekate, Yuuk…!

Pedekate, Yuuk…!

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (muxlim.com)

dakwatuna.comTak kenal, maka tak sayang. Begitu pepatah yang lekat dengan telinga penduduk Indonesia. Diakui atau tidak, memang ada benarnya juga makna pepatah itu. Umumnya rasa cinta bersemi manakala kita sudah melakukan “pedekate” dan interaksi dengan suatu hal. Namun, kali ini kita tidak akan mengupas seputar kecintaan kepada manusia. Ternyata ada kecintaan lain yang masih sering kita abaikan. Kecintaan kepada Al-Qur’an, itulah yang sama-sama coba kita refleksikan pada kesempatan ini.

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa sebagian kaum Muslimin sibuk dengan Al-Qur’an hanya ketika Ramadhan tiba. Ramadhan berlalu, Al-Qur’an pun good bye. Kegiatan lain masih terlalu asyik bagi kita. Bukan begitu? Bukan hanya Anda, bahkan saya juga. So, mari mulai perbaiki lagi!

Kembali ke pokok soal tadi. Kira-kira bagaimana cara yang bisa kita lakukan untuk memperbaiki hubungan kita dengan Al-Qur’an? Ust. Riccy Firmansyah menyatakan salah satu yang paling mudah sebenarnya ialah dengan kembali meresapi apa fadhilah interaksi kita dengan Al-Qur’an. Mungkin sebagian kita sudah tahu banyak mengenai hal itu, namun “tahu” dan “menghayati, meresapi, dan merenungi” jelas berbeda. Analogi sederhananya ialah tentu berbeda rasanya antara ketika kita bergaul dengan teman dekat dengan teman yang sekadar kenal saja. Teman dekat telah cukup mengerti kita, pun kita sudah tahu plus minusnya dia. Salah satu faktor utama penyebab munculnya rasa itu ialah intensitas dan kualitas pergaulan kita. Oleh karena itu, penting untuk kita me-refresh dan berusaha menggali lebih dalam setiap keutamaan di balik hubungan kita dengan Al-Qur’an. Semoga dengan ini kita tak hanya menjadikan Al-Qur’an sebagai “teman”, tapi lebih dari itu, yaitu “sahabat” atau bahkan “saudara”.

Sebaik-baik Kesibukan

Boleh lah kita seorang dokter, insinyur, guru, bahkan presiden yang selalu sibuk. Namun, ingatlah saudaraku, ternyata Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam (SAW) telah bersabda:

”Barang siapa yang disibukkan al-Quran dalam rangka berdzikir dan memohon kepada-Ku, niscaya akan Aku berikan sesuatu yang lebih utama dari apa yang telah Ku berikan pada orang-orang yang meminta. Dan keutamaan Kalam Allah dari seluruh Kalam selain-Nya seperti keutamaan Allah atas makhluk-Nya.” (HR Tirmidzi)

Artinya, bersibuk-sibuk ria dengan Al-Qur’an adalah salah satu kesibukan teragung menurut Allah dan Rasul-Nya. Ayo, kita mulai atur jadwal untuk membaca dan mengkaji Al-Qur’an!

Mau Jadi Keluarga Allah?

Betapa bangganya kita manakala salah satu keluarga kita ialah orang hebat atau terkenal. Memang tak bisa dipungkiri kemungkinan kita bisa meraup sedikit keuntungan dari ketenarannya. Namun, tahukah kita bahwa itu hanya keuntungan sesaat. Jika ingin keberuntungan abadi, maka jadilah keluarga Allah Subhanahu Wa Ta’ala (SWT), Penggenggam Alam Semesta. Betapa tak akan ada kerugian sedikit pun bisa menjadi salah satu keluarga-Nya. Caranya telah Rasulullah SAW sitir dalam sabdanya:

“Sesungguhnya di antara manusia terdapat keluarga Allah (Ahlu Allah). Para sahabat bertanya, ‘Siapakah mereka, ya Rasul?’ Rasul menjawab, ‘Mereka adalah Ahlul Qur’an; mereka keluarga Allah dan orang-orang pilihan-Nya’ ” (HR Ahmad)

Ketika sudah menjadi bagian dari keluarga Allah Azza Wa Jalla, yang lain mah lewat! Mau?

Iri Yang Baik

Tak selamanya iri itu buruk. Tapi, jangan berhenti di statement tersebut. Maksudnya, ternyata Rasulullah SAW telah paparkan bahwa kita dibolehkan iri kepada seseorang dalam kondisi tertentu. Tentu pengecualian ini sangat beralasan. Tak mungkin jika hal yang patut kita irikan ini adalah hal yang remeh. Pastilah itu adalah sesuatu yang agung. Apa itu? Coba simak sabda beliau berikut ini:

“Tidak boleh iri kecuali terhadap dua kenikmatan; kepada seorang yang diberi Al-Qur’an oleh Allah kemudian ia membacanya sepanjang malam dan siang, dan orang yang diberi harta oleh Allah, lalu ia membelanjakannya di jalan Allah sepanjang malam dan siang.” (HR Bukhari)

Jika belum ada rasa iri tumbuh dalam diri kita melihat saudara Muslim kita berasyik-masyuk dengan Al-Qur’an, patut dipertanyakan kondisi ruhani kita. Mari bersama-sama menanam benih iri yang baik ini!

Belum Mahir? Just Go On!

Siapa bilang orang yang belum bisa baca Al-Qur’an kemudian tertutup dari kesempatan mendapat berkah Al-Qur’an? Karena ia begitu istimewa, seorang yang belum mahir pun diapresiasi oleh Allah SWT. Apalagi yang sudah mahir, Subhanallah, akan sangat super sekali. Karena beliau telah mengabarkan:

“Orang yang pandai berinteraksi dengan Al-Qur’an akan bersama malaikat yang mulia dan taat; sedangkan orang yang membaca Al-Qur’an terbata-bata dan merasa kesulitan akan mendapatkan dua pahala.” (HR Muslim)

So, jangan berkecil hati bagi yang belum mahir membaca Al-Qur’an. Tak ada celaan bagimu, saudaraku! Justru apresiasi karena kau mau belajar untuk lebih baik dan tetap istiqamah membaca. Masih semangat? Lanjutkan!

Imam Shalat

Paradigma yang lumrah di sekitar kita ialah bahwa imam shalat ialah yang tertua di antara jama’ah yang ada. Betulkah? Ternyata kalau ingin jujur (dan memang sudah seharusnya), kita tak boleh tutup mata dan telinga bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda:

“Yang berhak menjadi imam adalah yang paling baik bacaan Al-Qur’an-nya (ada pula yang menyebutkan “paling banyak interaksinya dengan Al-Qur’an”).” (HR Muslim)

Jadi, kalau dikembalikan ke hukum awal, sebenarnya intensitas dan kualitas hubungan seorang Muslim dengan Al-Qur’an yang menjadi syarat utama menjadi imam shalat. Bukannya Islam tak menghargai orang tua, namun karena dalam shalat (terutama shalat dengan suara jahr, seperti Subuh, Isya’, Maghrib, dll.) Al-Qur’an menjadi bacaan utama. Kemudian, baik dan benarnya cara membaca Al-Qur’an dalam shalat adalah perkara utama. Mungkin pula inilah salah satu keutamaan orang yang memang sudah dekat dengan Al-Qur’an. Mantap, kan?

Tenang di Dunia, Dikenal di Akhirat

Berlimpahnya materi bukan jaminan ketenangan hidup manusia. Berapa banyak orang stress justru karena kekayaan, ketenaran, dll. Yang tak digunakan untuk kebaikan? Sudah tak terhitung, bukan?

Juga tak apalah kita tak dikenal di dunia ini. Bukankah hidup cuma sementara? Seharusnya justru kita khawatir tak dikenal di akhirat kelak. Negeri yang baka, tak ada habisnya.

Dan ingatkah kita? Suatu hari Rasulullah SAW telah bersabda:

“Tidakkah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid), membaca kitab Allah dan mempelajarinya di antara mereka; kecuali akan turun kepada mereka ketenangan, diliputi rahmat, dikelilingi malaikat, dan Allah menyebut nama-nama mereka di hadapan makhluk yang ada di dekatnya.” (HR Muslim)

Betapa bahagianya jika ketenangan selalu meliputi hidup kita. Kemudian, memasuki negeri akhirat pun kita disambut oleh para malaikat yang ternyata mengenal kita karena sering disebut oleh Allah SWT. Subhanallah. Jadikan kami termasuk golongan itu, Ya Allah. Aamiin.

Saatnya “Pedekate

Sekarang tunggu apa lagi? Kita sudah tahu dan memahami betapa agung kedudukan orang yang hidup dalam naungan Al-Qur’an. Hal yang disebut di atas baru sebagian dari banyak fadhilah (keutamaan) interaksi seorang Muslim dengan Al-Qur’an. Jangan sia-siakan masa hidup kita berlalu tanpa adanya Al-Qur’an yang menghiasi tiap relung hati. Mari bersama melakukan “pedekate” dengan kalam Allah. Siap?

*Diadaptasi dari buku ‘Ulumul Qur’an: Program Tahsin-Tahfizh dan uraian penjelasan dari Ust. Riccy Firmansyah atau Abu Qawwam.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (27 votes, average: 8,78 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Nur Afilin
Aktivis Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI).

Lihat Juga

Ilustrasi-Alquran (inet)

Khutbah Jum’at: Di Bawah Naungan Al-Quran