Home / Pemuda / Cerpen / Dalam Bingkai Ukhuwah

Dalam Bingkai Ukhuwah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (w4hyud1.wordpress.com)

dakwatuna.comGerimis hujan, satu demi satu masih turun membasahi bumi. Alam seolah ikut berduka atas kepergian seorang teman seperjuangan, menuju persinggahan alam berikutnya. Kondisi tubuhnya yang juga kurang sehat serta suasana hatinya yang masih terselimuti awan mendung, tak sedikit pun menyurutkan langkahnya untuk tetap pergi ke rumah duka dengan sepeda motor bututnya. Ia begitu terhenyak kaget, ketika selepas Ashar tadi sebuah pesan baru masuk ke layar ponselnya. Sebuah pesan yang membuat tubuhnya terguncang hebat, bahkan nyaris hampir pingsan dan tiba-tiba embun hangat mengalir deras membasahi kedua pipi hingga ke ujung jenggot tipisnya. Salah seorang sahabat karibnya hari itu telah meninggalkan alam dunia yang fana ini. Sepanjang perjalanan, bayangan kenangan demi kenangan sepuluh tahun silam kembali hadir dalam pikirannya. Saat mereka masih sama-sama kuliah, saat mereka mengadakan kegiatan bersama di organisasi, saat mereka saling menceritakan mimpi-mimpi besar mereka di masa depan, saat mereka sama-sama merasakan perut yang keroncongan lantaran kantong yang semakin menipis dan saat mereka bersama-sama berjuang mencari rupiah demi rupiah sebagai tempaan kemandirian. Semua itu seakan baru saja terjadi kemarin, namun kini mereka harus terpisahkan oleh takdir Tuhan yang tak bisa terelakkan. Hubungan mereka lebih dari sekedar hubungan persahabatan. Bahkan mereka sudah seperti saudara kandung yang telah saling mengenal sejak lahir. Allah telah mengikat mereka dalam bingkai ukhuwah yang begitu indah. Embun hangat itu kembali mengalir menyatu dengan gerimis hujan yang tak jua mau berhenti.

Hari itu tatkala ratusan mahasiswa baru memasuki pintu gerbang kampus dengan riang gembira, ia hanya tertunduk lesu seorang diri dan tak tahu harus melangkah ke mana. Harapannya untuk dapat melanjutkan kuliah di universitas ternama yang berada di luar kota pupus sudah lantaran ia gagal dalam UMPTN. Meskipun rasa kecewa masih menggelayuti hatinya, namun ia tak bisa berkutik ketika Ibunya memaksa dirinya untuk melanjutkan kuliah di universitas swasta yang ada di kotanya. Kesedihan yang masih hinggap di hatinya, membuatnya enggan untuk ikut bergabung dengan mahasiswa baru yang lain. Ia lebih suka memilih untuk duduk seorang diri sambil menorehkan kekesalan hatinya dalam bentuk lantunan puisi.

“Hai kawan, sedang apa kau? Kenapa tak ikut bergabung bersama teman-teman yang lain? Kau sudah melihat daftar nama kelompok OSMA-mu?” tanya seorang laki-laki bertubuh besar yang tiba-tiba saja menghampiri dirinya.

“Aku tidak ingin kuliah di sini, aku ingin kuliah di universitas negeri yang ada di luar kota. Namun aku gagal dalam ujian UMPTN, dan Ibuku menghendaki agar aku tetap melanjutkan kuliah di sini. Makanya aku juga enggan untuk melihat siapa kelompok OSMA-ku.” Jawabnya dengan raut muka tak bersahabat.

“Namaku Alif, siapa namamu?” ucap laki-laki bertubuh besar itu sambil mengulurkan tangannya.

“Alfin, Alfino Mahendra Putra.” Katanya sambil menyambut uluran tangan sahabat barunya sembari memaksakan diri untuk tersenyum.

“Wauw, nama yang keren. Tak sepantasnya kau bersikap sedih yang justru akan menurunkan wibawamu sebagai laki-laki ini. Yakinlah gagal dalam ujian UMPTN bukanlah akhir dari segalanya. Di sini pun kau masih bisa mengekspresikan prestasimu yang lebih gemilang. Ayolah bergabung dengan teman-teman yang lain. Malu dong masak punya nama sekeren itu tapi mentalnya hanya sekecil ini.” Kata Alif sambil menyodorkan jari kelingkingnya.

Alfin pun hanya tersenyum kecut, sembari bangkit mengikuti langkah sahabat Alif yang berjalan di depannya.

Sejak hari itu Alif dan Alfin menjadi sepasang sahabat yang begitu akrab. Alif selalu hadir menemani kesepian hatinya. Kampus yang semula enggan untuk ia singgahi, menjadi tempat yang teramat ia rindukan. Hari-harinya terasa begitu bermakna dengan adanya Alif. Alif pula lah yang telah mengenalkan dirinya pada sebuah organisasi madani, yang mampu merubah dirinya menjadi pribadi yang lebih baik. Di organisasi itu jualah ia mengenal hubungan persahabatan yang begitu tulus, sangat berbeda jauh ketika dulu ia masih duduk di bangku SMA. Dulu ketika ia berkumpul dengan teman-temannya SMA hanyalah obrolan-obrolan tak bermutu yang mereka perbincangkan. Pergaulan antar lawan jenis seakan terasa manis. Namun kini ia sadar bahwa semua itu hanyalah kesia-siaan belaka. Allah telah mempertemukannya dengan sahabat-sahabat sejati, yang kata nabi seperti minyak kasturi yang mewangi sepanjang hari. Perbincangan mereka adalah ilmu, pergaulan mereka begitu terjaga, tak ada yang keluar dari lisan mereka selain ucapan yang bermakna, dan tak ada sedetik pun yang mereka lalui dengan kesia-siaan. Sapaan salam dan pelukan hangat senantiasa ia rasakan ketika bertemu dengan sahabat-sahabat luar biasa di organisasi itu. Sahabat yang mampu membangkitkan motivasinya tatkala lemah, pelipur lara tatkala duka dan pelengkap kebahagiaannya tatkala suka. Mereka semua telah terangkum dalam bingkai ukhuwah yang begitu indah dan berkah.

Di sanalah ia belajar untuk tumbuh menjadi dewasa, tentang arti sebuah perjuangan, keikhlasan berkorban untuk sesama dan tentang makna kehidupan yang sesungguhnya. Namun hari ini salah seorang temannya yang menjadi pintu gerbang perubahan dirinya telah pergi memenuhi panggilan kekasih sejati. Perih hatinya menghadapi perpisahan ini, namun ia harus ikhlas dan tegar. Toh suatu saat ia pun akan pergi menyusulnya.

“Alif aku tak akan mungkin melupakan persahabatan yang telah kita jalin teramat kuat ini. Semoga persahabatan kita tetap berlanjut sampai ke surga abadi. Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah berkumpul untuk mencurahkan mahabbah hanya kepada-Mu, bertemu untuk taat kepada-Mu, bersatu dalam rangka menyeru (dakwah di jalan)-Mu, dan berjanji setia untuk membela syariat-Mu, maka kuatkanlah ikatan pertaliannya, ya Allah, abadikanlah kasih sayangnya, tunjukkanlah jalannya, dan penuhilah dengan cahaya-Mu yang tidak akan pernah redup, lapangkanlah dadanya dengan limpahan iman dan keindahan tawakal kepada-Mu. Hidupkanlah dengan makrifat-Mu dan matikanlah dalam keadaan syahid di jalan-Mu. Sesungguhnya Engkau sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. Ya Allah hari ini Engkau telah memanggilnya, terimalah segala amal ibadahnya dan tempatkanlah ia di sisi-Mu dengan tempat yang mulia.” Doa Alfin ketika hendak memasuki rumah sahabatnya itu.

Ia langsung bergabung bersama sahabat-sahabatnya yang lain, yang tengah sibuk mengurus jenazah Alif. Sekilas Alfin melihat wajah Alif yang putih bersih itu sebelum dikafani. Wajah yang masih nampak seperti sepuluh tahun silam, bahkan ia terlihat lebih tampan dengan senyum tipis yang tersungging menghiasi bibir.

“Selamat jalan sahabatku, kepergianmu yang tiba-tiba mengingatkanku betapa fananya alam dunia ini. Kepergianmu yang indah menuju kekasihmu membuat iri kami yang kini engkau tinggalkan. Engkau pergi menghadap-Nya di tengah sujudmu yang begitu mesra. Saat di mana seorang hamba berada dalam titik terdekat dengan-Nya. Semoga kelak kita dapat bertemu kembali di surga nan indah.”

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (16 votes, average: 9,63 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Safira Rahima
Safira Rahima adalah nama pena dari Santy Nur Fajarviana. Ingin selalu menjadi manusia pembelajar di universitas kehidupan yang tak ada batas usianya ini. Pernah mendapat juara harapan 2 lomba menulis novel tingkat nasional juga juara 3 lomba menulis artikel tingkat provinsi. Saat ini ia sedang berjuang menggapai mimpinya untuk menjadi penulis best seller dan bercita-cita mendirikan sekolah menulis di kota kelahirannya, Madiun.

Lihat Juga

Masjid Nabawi di Madinah Al-Munawwarah (gattours.com)

Menghidupkan Makna Hijrah

Organization