Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Di Sini Masna’u Rijal

Di Sini Masna’u Rijal

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Bismillah.

Dalam tulisan kali ini saya ingin berbagi pengalaman mukhayyam bersama ikhwah dari berbagai negara. Sungguh pengalaman yang sangat luar biasa. Bertemu dengan para pejuang dakwah dari berbagai belahan dunia. Peserta mukhayyam ada sekitar 50 orang lebih. Ada dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Comorro, Somalia, Niger, Nigeria, Madagascar, Ghenia Konakri.  Kami dibagi menjadi beberapa kelompok. Setiap kelompok diberi nama, ada kelompok Imam Hasan Al Banna, kelompok Abdul Aziz Ar Rantisi, kelompok Yahya Ayyash, kelompok Syekh Ahmad Yasin dan kelompok Umar Mukhtar.

Di awal liqo’at kami sami saling berta’aruf memperkenalkan diri masing-masing. Sebab asas dari dakwah kita adalah at-ta’aruf wal hub (saling kenal dan cinta). Bagaimana kita bisa mencintai saudara kita sementara kita tidak mengenalnya. Bahkan seorang ikhwah dituntut untuk mengetahui sedetil-detilnya tentang saudaranya sampai sesuatu hal yang ia tidak sukai. Sehingga pada suatu saat nanti kita tidak melukai hatinya disebabkan ketidaktahuan kita terhadap sesuatu yang ia benci.

Ada banyak hal yang kami dapatkan selama mukhayyam dari para asatidz yang sudah lama berkecimpung dalam dakwah. Bahkan ada di antara mereka sudah pernah masuk ke dalam ruangan sempit bawah tanah tempat uzlah para mujahid. Yha, begitulah hakikat jalan dakwah yang kita tempuh ini, kata salah seorang asatidz. Jalan yang penuh halangan dan rintangan. Sebab semakin besar cobaan semakin besar pula ganjaran yang akan diterima.

Mukhayyam diadakan selama tiga hari. Dalam mukhayyam ada banyak kegiatan, mulai dari qiyamullail, adzkar pagi dan sore, membaca Al Qur’an, olahraga, penampilan nasyid, berdiskusi satu sama lain, materi tentang dakwah, karakter seorang muslim, membentuk keluarga muslim, jama’ah dalam Islam, syakhsiah Imam Syahid Hasan Al Banna.

Hari pertama mukhayyam materi tentang syakhshiyah Imam Syahid Hasan Al Banna. Beliau mendirikan Jama’ah Ikhwanul Muslimin pada tahun 1928, tepat empat tahun setelah runtuhnya khilafah Islamiyah. Sebab di antara tujuan Ikhwanul Muslimin adalah mengembalikan khilafah Islamiyah dan mengajak manusia kembali kepada dinul syamil mutakamil mencakup segala aspek kehidupan baik dari sisi ibadah, ekonomi, politik, negara tanpa ada pemisahan antara satu dengan yang lainnya.

Dr. Husein yang menyampaikan materi juga bercerita tentang masa kanak-kanak Imam Syahid Hasan Al Banna. Ternyata Imam Hasan Al Banna lahir dari keluarga yang sangat mencintai ilmu pengetahuan dan beliau hafal Al Qur’an semenjak kecil. Ayah beliau Ahmad Abdurrahman Al Banna adalah seorang muhaqqiq kitab Al Musnad Imam Ahmad bin Hanbal.

Beliau menambahkan bahwa kita tidak pernah mengkultuskan Imam Hasan Al Banna, apalagi memposisikan sebagai seorang nabi. Hanya saja kita mengakui akan keutamaan yang beliau miliki dan pandangan beliau dalam memaknai Islam secara kaffah dan syamil berdasarkan Al Qur’an dan sunnah.

Materi kedua tentang jama’ah dalam Islam yang disampaikan oleh Dr. Ahmad Zaid. Beliau mengatakan bahwa ada dua hal yang menyebabkan berdirinya jama’ah. Pertama: Syari’at untuk berjama’ah, ada banyak ayat yang memerintahkan untuk berjama’ah dalam melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang- orang yang beruntung. (Ali Imran-104) Kedua: Realita umat yang semakin terpuruk, ditambah lagi dengan adanya penjajahan dan tersebarnya kemunkaran di setiap penjuru dunia Islam.

Selain itu musuh-musuh Islam juga berusaha menghancurkan agama ini dengan cara berjama’ah. Mereka bersatu untuk tujuan yang satu. Lalu kenapa kita tidak bersatu dan tidak berjama’ah dalam menghadapi mereka. Karena mustahil menghadapi sesuatu kekuatan tanpa diimbangi dengan kekuatan yang kuat pula.

Adapun perbedaan dalam jama’ah Islam adalah sesuatu yang biasa. Sebab perbedaan yang ada hanyalah bersifat furu’(cabang) bukan sesuatu yang ushul (pokok) dalam Islam. Perbedaan yang ada hanyalah perbedaan yang tidak saling bertentangan satu sama lain. Lalu kenapa kita harus berpecah gara-gara perbedaan yang kecil padahal kita punya banyak persamaan. Kita saling membantu dalam hal yang kita sepakati dan berlapang dada terhadap sesuatu yang berbeda begitu kata salah seorang ulama. Bukankah Imam Syafi’i juga berbeda pendapat dalam masalah fiqih dengan Imam Malik. Imam Muslim dan Imam Bukhari. Padahal Imam Muslim berguru kepada Imam Bukhari. Semua itu tidak lantas membuat mereka berpecah apalagi saling menjelekkan satu sama lain.

Inilah salah satu sarana tarbiyah yang melahirkan para rijal (tokoh) yang tangguh. Selalu ada semangat yang menyala setiap mengikuti mukhayyam, mabit, liqo’at. Ibarat hape yang mesti di cas setiap mau habis baterai. Seperti itulah iman yang kadang-kadang mulai melemah dan harus segera kembali dicas supaya tetap kuat. Maka jangan pernah enggan untuk menjadi rijal-rijal yang Allah janjikan dengan syurga seluas langit dan bumi. Terakhir, saya ingin katakan sebagaimana motto kami dalam mukhayyam Huna Masna’u Rijal!

Masna’u Rijal = Pabrik yang melahirkan para tokoh

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Mahasiswa Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir.

Lihat Juga

ilustrasi (joelsantos.net)

Antara Temujin dan Rajawali Quraisy