Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Ayo Jujur!!!

Ayo Jujur!!!

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (ahmedfikreatif.wordpress.com)

dakwatuna.comPrihatin, kata yang tepat untuk menggambarkan keadaan negeri kita sekarang.  Berbagai krisis telah melanda, krisis ekonomi, krisis identitas, krisis moral dan sekarang krisis kejujuran. Harga sebuah kejujuran sangatlah mahal di negeri ini, sepertinya hanya mereka yang berduit saja yang mampu untuk membelinya. Fakir miskin dan rakyat jelata sudah tentu tidak akan mampu membelinya.

Banyak contoh yang bisa dilihat dan mungkin dialami oleh sebagian masyarakat kita. Korupsi merajalela, suap-menyuap adalah populer, hukum bisa di beli, kesaksian palsu dipersilakan, membela pihak yang salah yes, janji-janji palsu didukung, mengambil hak orang lain monggo, berkhianat silakan dan masih banyak lagi yang lainnya. Entah siapa yang salah dan harus disalahkan dalam masalah ini.

Krisis kejujuran sudah menjangkiti semua lini masyarakat kita. Anggota dewan, penegak hukum, pegawai negeri sipil, sampai pada pedagang kecil dan tukang becak yang frustasi dan akhirnya mengikuti jejak para pemimpinnya, yaitu berlaku curang. Seperti sebuah tren, semua masyarakat dengan berbagai alasannya berlomba-lomba berbuat curang. Rasanya seperti “kalau jujur itu sama dengan tidak gaul”, sehingga mereka berbuat sebaliknya agar terlihat dan diakui “gaul”.

Apa yang bisa dibanggakan dari pengakuan sesama manusia. Pengakuan itu tidak akan memberikan ketenangan lahir maupun batin, menambah pahala atau memberikan kita tiket ke surga dengan cuma-cuma. Justru sebaliknya, beban sosial dan judge dari masyarakat akan kita dapatkan setelah semua kecurangan itu terbongkar. Beda halnya jika kita mendapatkan pengakuan itu dari Allah SWT, bisa dipastikan bahwa ketenangan, keselamatan, pahala dan tiket ke surga sudah di tangan.

Jujur adalah keselarasan antara yang terucap dengan kenyataannya. Apa yang diucapkan memang dan apa yang diperbuat itulah yang sesungguhnya diinginkan untuk diperbuat. Jujur merupakan dasar akhlaq mulia, merupakan tanda sempurnanya keislaman, timbangan keimanan dan tanda kesempurnaan bagi si pemilik sifat tersebut. Oleh karena itu setan selalu dengan siaga setiap saat akan berusaha menggelincirkan siapa saja yang akan berlaku jujur.

Banyak manfaat yang bisa diperoleh dari perbuatan jujur, di antaranya: Mendapatkan kedudukan yang tinggi di dunia dan akhirat, mendatangkan berkah, disenangi orang lain, kejujurannya akan menyelamatkan si pelakunya, pengakuan dari Allah sebagai orang yang jujur dan pastinya surga dengan segala kemanisan dan kenikmatannya. Dalam kehidupan ini Allah telah menyuruh dan menjanjikan sesuatu kepada hambanya yang berlaku jujur dan janji Allah itu pasti adanya.

Allah berfirman, “Inilah saat orang yang benar memperoleh manfaat dari kebenarannya. Mereka memperoleh surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Itulah kemenangan yang agung. (QS. Al Maidah: 119)

Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah. Dan di antara mereka ada yang gugur, dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak mengubah (janjinya). (QS. Al-Ahzab: 23)

Hai orang2 yang beriman bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah bersama-sama orang yang jujur (At Taubah: 119)

Demikian juga dengan nabi Muhammad yang senantiasa mendorong umatnya berbuat jujur,

Senantiasalah kalian jujur, karena sesungguhnya kejujuran itu membawa kepada kebajikan dan kebajikan itu membawa kepada surga. Seseorang yang senantiasa jujur dan berusaha untuk selalu jujur, akhirnya ditulis di sisi Allah seorang yang selalu jujur. Dan jauhilah kedustaan karena kedustaan itu membawa kepada kemaksiatan, dan kemaksiatan membawa ke neraka. Seseorang yang senantiasa berdusta dan selalu berdusta, hingga akhirnya di tulis di sisi Allah sebagai seorang pendusta (Bukhari dan Muslim)

Saya berwasiat kepadamu supaya bertaqwa kepada Allah, jujur dalam bicara, melaksanakan (menjaga) amanah, menepati janji, memberi salam, dan merendahkan diri (Ihya’ Ulumuddin).

Dari semua ayat di atas, sudah sangat jelas perintah dan balasan bagi orang yang jujur. Jadi, tunggu apa lagi mari kita berlaku jujur dengan rumus 3M (Mulai dari diri sendiri, Mulai dari sekarang dan Mulai dari yang terkecil). Ayo JUJUR.

About these ads

Redaktur: Samin Barkah, Lc., ME

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (13 votes, average: 8,46 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Lihat Juga

Ilustrasi. (iluvislam.com)

Mecintai Ramadhan dengan Jujur