Home / Pemuda / Cerpen / Tak Seindah Pelangi

Tak Seindah Pelangi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Oktober, 2011

Kriiiiing….

Sayup-sayup terdengar suara handphone di saku celana berbunyi, di tengah ramainya lalu lintas jalan hari ini, di bawah terik matahari yang setiap hari menemani hari-hariku. Perlahan motorku menepi, di bawah sebuah pohon rindang yang sedikit menghalangi sinar matahari menyentuh kulitku, agak sejuk rasanya…

Pak Mukhlis: “Assalamu’alaikum Pak”

Aku: “Wa’alaikumsalam warohmatullooh”

Pak Mukhlis: “Saya Pak Mukhlis, saya mau pesan obat untuk istri saya, kita ketemuan di lobby Rumah Sakit sore ini ya Pak”

Aku: “Baik pak, akan saya siapkan, insya Allah saya antar sore ini”

Pak Mukhlis: “Terima kasih Pak. Assalamu’alaikum”

Aku: “Sama-sama Pak. wa’alaykumussalaam warohmatullooh”

Istri Pak Mukhlis sedang mengandung 6 bulan dan mengidap sebuah penyakit yang mengharuskan dia mengkonsumsi obat yang harus disuntikkan sore itu di sebuah Rumah Sakit di ibukota. Aku segera melanjutkan perjalanan mengantar sejumlah obat yang sudah dipesan dan segera ke kantor untuk menyiapkan obat yang dipesan Pak Mukhlis agar sampai di Rumah Sakit sesuai waktu yang dijanjikan.

Aku: “Assalamu’alaikum Pak Mukhlis”

Pak Mukhlis: “Wa’alaikumsalam warohmatullooh”

Aku: “Saya sudah sampai di lobby Rumah Sakit, posisi bapak dimana?”

Pak Mukhlis: “Saya ada di ruang rawat inap, sedang menjaga istri saya, sebentar saya turun”

Aku: “Baik pak, saya tunggu”

Tidak lama kemudian handphone berbunyi, ternyata Pak Mukhlis yang menelepon sambil mencari-cariku, sambil menjawab telepon aku lambaikan tangan sebagai tanda bahwa akulah orang yang Pak Mukhlis cari. Pak Mukhlis berjalan ke arah yang aku isyaratkan.

Pak Mukhlis: “Mohon maaf sudah membuat bapak menunggu”

Aku: “Tidak apa-apa Pak, ini sudah menjadi bagian dari tugas saya”

Pak Mukhlis: “Mohon doanya ya Pak, supaya istri saya bisa melahirkan sesuai dengan waktunya dan tidak mengalami gangguan pada saat proses persalinan”

Aku: “Iya pak, semoga Allah SWT memberi kesehatan dan kemudahan dalam proses persalinan istri bapak. Insya Allah, Aamiin”

Pak Mukhlis: “Aamiin, terima kasih atas doanya Pak”

Aku: “Ini obatnya pak dan ini kuitansinya, semoga bapak diberi kesabaran dan ketabahan dalam menghadapi masalah ini”

Pak Mukhlis: “Saya terima obat dan kuitansinya. Terima kasih Pak”

Aku: “Assalamu’alaikum Pak”

Pak Mukhlis: “Wa’alaikumsalam warohmatullooh”

Aku melangkahkan kaki sampai tak terasa sudah jauh meninggalkan Pak Mukhlis. Aku jadi teringat istriku saat akan melahirkan kedua buah hati kami, saat itu memang saat-saat yang mendebarkan menanti kelahiran buah hati kami, rasa senang dan khawatir campur aduk menjadi satu. Pada saat melahirkan anak pertama, istriku mengalami pendarahan sehingga 5 jam setelah persalinan baru pindah ke kamar perawatan, sedangkan pada saat melahirkan anak kedua, selaput ari-ari sempat tertinggal, Alhamdulillah kedua buah hati kami lahir dengan selamat dan sehat. Lamunanku buyar ketika kusadari aku sudah berada di parkiran motor, dan kulanjutkan perjalanan pulang ke rumah, tak sabar rasanya ingin segera bertemu dengan istri dan memeluk kedua buah hatiku. Dalam hati, aku hanya bisa berdoa, semoga Allah memberi yang terbaik untuk Pak Mukhlis.

Januari 2012

Tiga bulan berlalu sejak pertemuanku dengan Pak Mukhlis di Rumah Sakit itu. Bulan ini seharusnya Pak Mukhlis menghubungiku kembali untuk membeli obat yang akan dipakai sebelum istrinya melahirkan. Tidak lama kemudian handphone berbunyi memecah keheningan suasana pagi di kantor:

Pak Mukhlis: “Assalamu’alaikum Pak”

Aku: “Wa’alaikumsalam warohmatullooh”

Pak Mukhlis: “Saya Pak Mukhlis, mau pesan obat untuk besok siang bisa pak? Kita bertemu di Rumah Sakit ya pak, mengenai waktunya saya informasikan besok pagi”

Aku: “Baik pak, saya tunggu kabar dari bapak besok”

Pak Mukhlis: “Terima kasih Pak. Assalamu’alaikum”

Aku: “Sama-sama Pak. wa’alaykumussalaam warohmatullooh”

Pada pagi keesokan hari yang dijanjikan, aku masih menunggu kabar dari Pak Mukhlis, tidak ada sms ataupun telepon masuk. Aku dan teman bagian administrasi sempat menduga-duga apa Pak Mukhlis tidak jadi pesan obat karena sampai saat in belum ada kabar. Akhirnya aku putuskan untuk menghubungi Pak Mukhlis, begitu terhubung yang menjawab adalah seorang perempuan:

Aku: “Assalamu’alaikum, bisa bicara dengan Pak Mukhlis”

Penerima: “Wa’alaikumsalam warohmatullooh, maaf bapaknya sedang memandikan anaknya, apa ada pesan?”

Aku: “Tolong sampaikan ke bapak apakah siang ini jadi pesan obat dan bertemu dengan saya di Rumah Sakit?”

Penerima: “Baik pak, akan saya sampaikan”

Aku: “Terima kasih bu, Assalamu’alaikum”

Penerima: “Sama-sama Pak. wa’alaykumussalaam warohmatullooh”

Siang hari, setengah jam sebelum waktu yang dijanjikan aku sudah sampai di Rumah Sakit karena aku tahu bahwa obat yang dipesan akan dipakai hari itu, jadi aku tak ingin terlambat, kasihan Pak Mukhlis kalau sampai aku terlambat.

Tepat pada waktu yang dijanjikan, aku belum melihat Pak Mukhlis di ruangan itu. Aku menghubungi Pak Mukhlis memberitahukan bahwa aku sudah berada di tempat yang dijanjikan. Ternyata Pak Mukhlis lupa dan menyampaikan permohonan maafnya padaku dan beliau segera bergegas ke Rumah Sakit.

Sesampainya di Rumah Sakit, aku melihat wajah Pak Mukhlis begitu lusuh dan terlihat lelah, seperti sedang menanggung beban yang teramat berat. Dengan tergopoh-gopoh beliau menghampiri dan berbicara dengan suara terbata-bata:

Pak Mukhlis: “Assalamu’alaikum Pak”

Aku: “Wa’alaikumsalam warohmatullooh”

Pak Mukhlis: “Mohon maaf saya terlambat, karena harus menyelesaikan urusan di rumah”

Aku: “Iya pak, saya maklumi, Pak Mukhlis pasti sibuk, tadi pagi saya menghubungi Pak Mukhlis sedang memandikan anak bapak dan menyiapkan segala sesuatunya untuk dibawa ke Rumah Sakit ini. Bagaimana kondisi istri Pak Mukhlis? Kapan persalinannya?”

Pak Mukhlis tidak langsung menjawab pertanyaanku, beliau sedikit tertunduk. Aku mengajak Pak Mukhlis untuk duduk. Beliau terdiam sejenak, kemudian menghela nafas panjang dan bercerita: “Istri saya Alhamdulillah sehat pak, tetapi Allah berkehendak lain untuk buah hati kami”, Pak Mukhlis menghela nafas kembali, kemudian melanjutkan cerita: “Buah hati kami telah menghadap Allah SWT dalam usia kehamilan 38 minggu. Pada saat bapak telepon tadi pagi, saya sedang memandikan jenazah buah hati kami. Ini bukan yang pertama kali terjadi pada saya pak”, kulihat Pak Mukhlis mencoba menguatkan dirinya agar air matanya tidak jatuh di hadapanku. “Ini adalah peristiwa ke-3 yang kami alami secara berulang, anak pertama kami meninggal dunia saat usia kandungan 32 minggu, begitu pula dengan anak kedua kami, meninggal dunia saat usia kandungan 36 minggu akibat penyakit yang diderita istri saya. Saat usia kehamilan ketiga melewati minggu ke-36 saya merasa senang dan berharap Allah memberi kami momongan yang kami idam-idamkan. Saya berusaha sekuat tenaga untuk menjaga istri saya dan sering konsultasi dengan dokter. Pada minggu ke-38 ketika kontrol ke dokter, alangkah hancur hati saya pak, lebih sakit dari teriris sembilu, begitu mengetahui bahwa ternyata anak ke-3 kami tidak bisa bertahan dan harus menyusul kedua kakaknya…” Pak Mukhlis agak memalingkan wajahnya, walau disembunyikan aku bisa merasakan bagaimana perasaan beliau saat ini.

Aku tak ingin luka Pak Mukhlis terkuak kembali, dengan berat hati aku segera melakukan transaksi dan mencoba menyampaikan rasa duka cita sedalam-dalamnya kepada Pak Mukhlis. “Bersabarlah Pak Mukhlis, Allah punya rencana indah untuk Pak Mukhlis dan istri”. Aku mohon diri sambil menjabat tangan dan memeluk Pak Mukhlis yang masih terdiam dan tertunduk, lalu berlalu dari hadapan Pak Mukhlis tanpa bisa berkata-kata…

“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS Ar Rahman)

Untuk sepasang suami istri nun jauh di sana, semoga Allah SWT memberi pengganti yang terbaik untuk kalian

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (16 votes, average: 7,81 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Anie Rezna
Lahir di Jakarta pada tahun 1981. Dan kini juga tinggal di Jakarta. Seorang karyawati swasta, menikah, mempunyai 2 org anak dan sedang mengikuti program Bahasa Arab di PSI Al Manar, Jakarta Timur.

Lihat Juga

Gay

Kaum Gay Mulai Menyasar Anak-Anak, Ini Buktinya