Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Ta’allamu Qobla An Tasuuduu

Ta’allamu Qobla An Tasuuduu

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Mungkin hari ini adalah hari yang menjadi hari spesial bagi setiap orang yang merasa yakin akan tujuan-tujuan yang mulia itu bisa tercapai. Mungkin hari ini adalah hari terbaik bagi orang yang menganggap bahwa setiap hal yang terjadi dalam hidup ini adalah hal terbaik yang diturunkan Allah kepada kita. Atau mungkin juga ada yang menganggap hari ini adalah hari terburuk yang terjadi dalam hidup kita. Entahlah, mau memilih opsi yang mana, yang jelas kita berdoa semoga hari-hari kita senantiasa dihiasi dan diwarnai semangat tak kenal henti untuk belajar, belajar kepada setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup ini, dan meyakini bahwa rangkaian peristiwa yang terjadi dalam hidup ini adalah tarbiyah yang akan selalu dan tetap mengokohkan jiwa kita, untuk selalu berada dalam naungan rasa iman dan tawakal.

Karena pada hakikatnya, mereka yang terlahir besar dalam sejarah kehidupan manusia, adalah para pembelajar sejati yang tak henti untuk senantiasa belajar dan menghargai setiap bentuk dari peristiwa itu, lalu menginternalisasi dalam jiwa, dan akhirnya mereka besar, mereka menyejarah. Karena para pembelajar itu selalu mencipta arus, bukan mengikuti arus. Bahwa para pembelajar itu selalu beranggapan untuk tetap dan selalu menjadi muara-muara kebaikan bagi lingkungannya. Mereka yang telah menyejarah karena semangat belajarnya yang tak redup, mengajarkan kepada kita, bahwa setiap kita adalah pemimpin, dan kelak akan dimintai pertanggungjawabannya akan apa yang dipimpinnya. Jadi setiap peristiwa yang kita lalui dalam konteks kepemimpinan kita sebagai kalifatul ard, adalah sarana pembelajaran efektif yang akan mengangkat diri kita kepada derajat kemanusiaan yang lebih tinggi. Inilah yang dicontohkan Khalifah Umar Al Faruq.

Sedikit mengupas keberhasilan kekhalifahan Umar Al-Faruq, Di era Umar teritori Khilafah menjadi lebih dari 18 negara kalau dikonversi dengan era saat ini. Populasi umat Islam juga bertambah begitu pesat. Lahirlah sebuah masyarakat yang mulitikultur yang sangat besar. Lalu ada kemakmuran dan kesejahteraan serta kekayaan yang melimpah ruah. Tetapi karena keberhasilan-keberhasilan itulah yang membuat Umar menjadi semakin resah atas apa yang terjadi pada masa kepemimpinannya.  Resahnya seorang pembelajar yang tak kenal henti untuk selalu belajar dari pendahulunya, apakah ini ujian atau kebaikan, kebaikan atau ujian. Begitulah kira-kira yang berkecamuk di benak Umar. Resah, mengapa pada zamannya negeri Madinah begitu makmur, tetapi pada masa Abu Bakar dan Rasulullah tidak demikian. Resahlah Umar. Resahlah sang pemimpin pembelajar itu.

Kalau dikalkulasi, Umar telah belajar dari pendahulunya, yakni Rasulullah dan Abu Bakar selama 20 tahun, tercatat ikut Rasulullah selama 18 tahun, lalu kemudian bersama Abu Bakar selama 2,5 tahun, cukup sudahlah untuk membentuk karakter pemimpin pembelajar. Dan hasilnya, beliau meletakkan dasar-dasar negara baru di Madinah. Beliau meletakkan dasar-dasar dari konstitusi dan sistem pemerintahan, menata sistem keuangan negara, memulai pembentukan dan pengorganisasian tentara profesional setelah sebelumnya setiap warga negara diharuskan menjadi mujahid dan prajurit negara, mengatur strategi ekspansi militer yang kemudian melahirkan futuhat atau pembebasan-pembebasan besar yang berpuncak pada pembebasan Al-Aqsha, mendistribusi para ulama ke berbagai wilayah, membentuk pemerintahan-pemerintahan daerah di wilayah-wilayah yang telah dibebaskan. Begitulah hasil dari sang pemimpin pembelajar. Pelan tapi pasti, jiwa untuk senantiasa merasa kurang dan semangat untuk menambah ilmu selalu ada dan diadakan, selalu menggelora.

Para pemimpin pembelajar itu, selalu memahami bahwa setiap dari ilmu dan amal yang dilakukannya, selalu dimintai pertanggungjawaban, setiap hal tentang amanah yang diembannya, selalu dan akan dimintai pertanggungjawaban, sehingga sang pembelajar tidak menjadikan amanah sebagai beban, tetapi amanah adalah ilmu, yang akan meneguhkan dan mengokohkan diri dan jiwa. Tidakkah kita masih ingat, peristiwa bersejarah dimana Umar inisiatif untuk berkeliling ke warganya, lalu beliau menemukan satu keluarga tidak bisa makan karena kekurangan bahan makan, dan akhirnya beliau sendiri yang kemudian memikulkan gandum untuk keluarga tersebut? Bukankah ini adalah karakter seorang pemimpin pembelajar? Yang beranggapan bahwa setiap peristiwa adalah sarana pembelajaran dan tarbiyah jiwa.

Setidaknya ada beberapa hal yang ada dan mengkarakter dalam diri seorang pemimpin pembelajar:

  1. Mereka selalu Resah. Kata ustadz Anis Matta, keresahan akan suatu zaman adalah awal dari kebangkitan peradaban itu. Umar resah, dan dari resah, akan menghadir banyak rasa penasaran, rasa tanya, hingga akhirnya bertanya-tanya, hingga akhirnya penasaran, hingga rasa penasaran itulah yang membuat Umar merasa perlu untuk tahu kondisi rakyatnya secara langsung, tanpa perantara. Dan akhirnya Umar menemukan bahwa dirinya adalah seorang pembelajar yang sedang memimpin. Resah ini pulalah yang membawa para pemimpin pembelajar itu tunduk, pasrah, dan merasa lemah ketika bersimpuh di hadapanNya, dan berawal dari kepasrahan ini, akan menimbulkan energi luar biasa dari langit, untuk membangkitkan peradaban itu.
  2. Mereka mencipta arus, bukan mengikuti arus. Para pemimpin pembelajar itu, selalu membawa arus kebaikan yang akan membawa yang lainnya ke dalam arus kebaikan itu. Mereka memiliki energi inisiatif dan pandai membuat tafsiran baru. Mereka selalu bertanya, apa yang bisa saya perbuat dengan adanya saya di sini, apa kontribusi saya di sini, dan produk apa yang akan saya tinggalkan sebelum saya melangkah pergi dari sini?
  3. Mereka adalah muara. Para pemimpin pembelajar itu, memahami bahwa keberadaan dia adalah mempunyai signifikansi atau efek bagi lingkungannya. Oleh karena itu mereka selalu bersikap, bertindak, dan berfikir untuk selalu menjadi muara bagi semua yang ada di lingkungannya.

Para pemimpin pembelajar itu, selalu merasa kosong dan siap untuk diisi dengan kejernihan energi keilmuan yang baru, sehingga jiwa mereka akan terlihat segar, segar karena ada energi yang selalu dan saling mengisi. Hakikat para pembelajar, adalah dia tidak merasa tahu walau dirinya tahu, dia tidak merasa mampu walau dirinya mampu, dan dia selalu siap diisi oleh kesejukan air keilmuan yang jernih. Hakikat para pembelajar adalah membuat atau mencipta arus, tidak mengikuti arus, karena kalau mengikuti arus, bisa jadi dia tenggelam bersama arus itu. Hakikat para pemimpin pembelajar adalah, tetap membumi walau akalnya terbang melangit, tetap berpijak walau pikiran mengangkasa. Mari kita belajar, sebelum memimpin. Ta’allamu Qobla An Tasuuduu. Agar kita tetap menjadi pemimpin pembelajar. Selamat belajar. Selamat memimpin. Selamat menjadi pemimpin pembelajar. Mari kita belajar.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Dwi Purnawan
Jurnalis online dan pengamat socmed.

Lihat Juga

Ilustrasi (inet)

Logika Dakwah: Melanjutkan Agenda Pemimpin Sebelumnya, Bukan Meninggalkan, Apalagi Menggantinya