Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Malulah pada Rumput yang Bergoyang

Malulah pada Rumput yang Bergoyang

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (puchsukahujan.wordpress.com)

dakwatuna.com – Diperhatikan merupakan keniscayaan. Seringkali kita tidak sadar dan menyadarkan diri bahwa tiap saat diperhatikan. Baik oleh makhluk ghaib maupun zhahir. Malaikat yang tidak pernah lengah dengan tugasnya, bani syaithon yang suka melena-lenakan, dan manusia yang suka mencari kelenaan.

Sudah sunnatullah, manusia dengan kealpaannya tak akan bisa berdiri sendiri memperbaiki diri. Dengan demikian justru bentuk perhatian ini merupakan kenikmatan. Nikmat bagaimana menyadarkan diri agar tidak menampakkan aib sendiri, nikmat untuk menjaga akhlaq agar tetap santun lagi menyenangkan sesama, nikmat untuk menahan kelepasan marah dan bercanda. Nikmat itu hadir dengan hadirnya malu, indikasi keimanan.

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda:

الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ

“Iman memiliki lebih dari enam puluh cabang, dan malu adalah bagian dari iman”. (HR. Al-Bukhari no. 8 dan Muslim no. 50)
Abu Mas’ud radhiallahu anhu berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ الْأُولَى إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ

“Sesungguhnya di antara ucapan yang diperoleh manusia dari kenabian yang pertama adalah: Jika kamu tidak mempunyai rasa malu, maka berbuatlah sesukamu.” (HR. Al-Bukhari no. 6120)

Mungkin sedikit sekali yang yakin bahwa ada orang lain yang rela memperhatikannya. Entah kerelaan itu dengan menyimak baik setiap ulasan, status, komentar maupun menyisir tiap profil sosial media yang dibuatnya. Efek terlalu kehilangan kesadaran atau innocent tingkat tinggi ini dapat menyebabkan tanpa sadar tanpa urgensitas pun menorehkan jejak, meski bersifat mudharat. Bisa jadi juga sebagian dengan keyakinan bertegangan tinggi merasa sebagai pusat perhatian sehingga kerap kali membohongi kemampuan diri supaya naik gengsi dalam komunitas. Tak ada keburukan dalam keyakinan merasa diperhatikan dengan dosis tepat.

Sederhana saja, yakin hidup di bumi dengan jutaan manusia maka berhati-hati agar tidak menjadi berlebihan dan terlalu kekurangan, tapi pertengahan. Bagaimana mengelola tingkat kesadaran secara kemanusiaan.

Manusia yang berhawa nafsu dan berkeimanan menjadikannya suka bersembunyi ketika bermaksiat, menjadi salah tingkah saat disergap, sampai tingkatan bertobat dan selamat memiliki keunikan tersendiri dimana syaithon pun diperintahkan bersujud sebagai tanda hormat terhadapnya dan bukti ketundukan padaNya.

“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.“ (QS. Asy-Syams: 8-10)

Semakin ia mengoptimalkan ketakwaan dan meminimalkan fasiknya, semakin ia selamat. Ketika berbuat tidak perlu menunggu gertakan, sanjungan dan segala rentetan kenikmatan pendengaran akan karya cipta yang ia selesaikan. Cukup yakin orang lain mau lihat atau tidak, Allah pasti melihat; orang lain perlu merespon baik berupa pujian maupun makian atau tidak, Allah pasti merespon dengan baik. Sehingga tidak perlu tersiksa harus bagaimana mendapatkan ridha orang lain, sanjungan orang lain, malu dengan kritikan, meradang dengan nasihat dan tidak perlu memaksakan tampil sempurna karena hakikatnya juga penuh dengan cela.

Mengalir saja sebagai manusia yang berkarakter. Malu berbuat keburukan dan senang berbuat kebajikan. Menyesali perbuatan jahat dan mensyukuri kebaikan yang diizinkan melaluinya. Maka tidak perlu bergalau ria di dunia maya dan keras kepala di dunia nyata. Tidak perlu adu syaraf dalam menyampaikan pendapat dan nasihat. Malu lah pada rumput yang bergoyang. Goyangnya rumput tidak membuat risih belalang, tapi goyahnya kader dakwah bisa merusak peradaban!

Hadanallahu waiyyakum ajma’in, wallahu a’lam bi showab. 

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (15 votes, average: 9,33 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
  • good job, great article, teh kiki ^__^

  • subhanallah…memang bagus. hanya saja saya bingung…dari judul
    Malulah pada Rumput yang Bergoyang, istilah rumpu yang bergoyang kan sebenarnya merupakan perumpamaan untuk anak-kecil, orang awam yang tidak tahu…tapi ko’ tidak di bahas sedikitpun ya??? saya like siiih :)

Lihat Juga

Ilustrasi (inet)

Malumu Bagian dari Imanmu

Organization