Home / Pemuda / Cerpen / Merencanakan Martabat

Merencanakan Martabat

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (templates.com)

dakwatuna.com – Selembar surat beramplop putih tergeletak begitu saja di atas meja rias Rini. Surat itu telah membuat Rini tidak nyenyak tidur dan tidak selera makan. Tinggal beberapa hari lagi waktu bagi Rini untuk memberi keputusan, iya atau tidak. Keputusan yang sangat sulit di saat saat sulit.

“Kucoba hubungi Nana ah, siapa tau dia bisa memberi aku saran”, bisik Rini dalam hati. Rini menekan satu persatu nomor pada keyboard Hpnya. Suara merdu yang keluar dari Hp Nana tidak mampu membuat detak jantung Rini tenang. Rini sedang dirundung bingung, gundah dan galau.

“Hallo Rin….,” suara lembut Nana menyapa ramah. “Ada apa Rin, ada yang bisa kubantu? Masalah apalagi toh Rin?” tanya Nana dengan nada sedikit kesal.

“Loh, kok kamu tau aku ada masalah toh?” tanya Rini antusias.

“Lha aku yo dah hafal toh, nek kamu nekad hubungi aku tengah malam begini, itu tandanya kamu yo sedang ada masalah, pasti kamu tidak bisa tidur toh?” ucap Nana yakin. Rini hanya mampu menyungging senyuman tipis mendengar penjelasan Nana.

Rini dan Nana sebenarnya bukan sahabat dekat, namun perkenalan tanpa disengaja suatu hari di pondok warung Indo membuat mereka menjadi akrab. Siang itu mereka saling mengawali senyum karena tertegun melihat kerudung cantik yang membalut kepala keduanya. Selebihnya, mereka hanya bicara biasa, saling memamerkan identitas dan bertukar nomor telepon. Setelah pertemuan itu keduanya menjadi semakin yakin dengan prinsip yang sedang mereka pertahankan. Mereka kerap bernostalgia dengan pengalaman masing-masing dalam mempertahankan jilbab di hadapan agency yang membawa mereka ke Taiwan. “Ternyata masih ada ya, orang Indonesia yang berjilbab di negeri ini,” ucap mereka berdua serentak sambil mengukir senyum syukur, siang itu.

“Nana, bulan depan kontrakku berakhir, aku ditawari agency untuk lanjut, tapi aku masih bingung memutuskan, bagaimana menurutmu?” tanya Rini serius.

“Rin…Rin, ditawari lanjut kok bingung, harusnya kalo diputusin itu yang bingung, piye toh!” sambut Nana setengah bergurau.

“Iya ya, kenapa mesti bingung, bukannya pekerjaan memang yang dicari semua orang, harusnya aku bersyukur dapat kesempatan bekerja lagi, bukannya bingung begini,” bisik Rini dari dalam hati. “Tapi masalahnya, Mela sahabatku tidak melanjutkan kontrak lagi, dia berhenti menjadi BMI (Buruh Migran Indonesia) dan memutuskan untuk pulang ke Indonesia, katanya sih dia akan bekerja di Indonesia,” terang Rini.

“Siapa? Mela siapa? Aku seperti pernah mendengar nama itu,” tanya Nana penasaran.

“Nama lengkapnya Mela Arjo, dari Purwodadi, dulu berangkatnya bareng aku Na, hanya saja kami tidak pernah berkomunikasi karena majikan Mela cukup disiplin dan sedikit  kurang perikemanusiaan. Selama tiga tahun bekerja, tidak sekalipun Mela diizinkan keluar rumah kecuali bersama dengan majikannya. Handphone pribadinya baru bisa aktif di tengah malam buta saat majikannya telah terlelap. Seringkali shalat fardhu pun dilakukan Mela secara diam-diam di kamar mandi,” terang Rini antusias. Rini berhenti sejenak. Ditariknya nafas dalam-dalam.

“Mela tetap tidak mau melanjutkan sekalipun ditawari bekerja di tempat yang sudah terbukti lebih baik,” sambung Rini dengan suara melemah.

“Itu karena Mbak Mela sudah ada persiapan, Rin!” cepat-cepat Nana menimpali. Mendengar komentar Nana, tanpa sadar garis-garis cekung terbentuk jelas di atas dahi Rini.

“Hah! Persiapan? Persiapan apaan?” Rini bertanya sambil setengah tertawa.

“Sudah mengemas barang-barang karena mau pulang maksudmu?” Ungkap Rini dengan penuh percaya diri.

“Bukan Rin…bukan itu maksudku, Mbak Rini itu sudah melakukan persiapan untuk kembali ke Indonesia sejak dia menginjak kaki di bumi Formosa ini,” terang Nana.

Mulut Rini tampak terkunci menanti kalimat selanjutnya dari Nana. Meski pikirannya belum bisa mencerna, Rini tetap berusaha mengolah intelektualnya mencari-cari apa makna dibalik kalimat Nana barusan.

“Jujur, aku belum pernah bertemu Mbak Mela Arjo tapi aku cukup mengenal beliau.” Kening Rini semakin kuat tarikannya. “Tulisan beliau tidak pernah aku lewatkan, aku suka sekali cerpennya, apalagi puisi-puisinya, indah, menusuk dan begitu mewakili apa yang selama ini para BMI rasakan,” ungkap Nana dengan antusias.

“Nana, jangan-jangan que lagi ngigau yo?” buru-buru Rini memotong pembicaraan Nana. “Tulisan opo Na? Mbak Mela qui menulis di majalah atau tabloid maksudmu? Apa nggak salah que Na? Wong Mbak Mela itu lulusan SMP kok iso-iso ne menjadi penulis…,” seru Rini sambil menggeleng-gelengkan kepalanya sebagai ungkapan ketidaksetujuan.

“Jenengan nggak usah sok tau deh Mbak yu..,” hardik Rini dengan halus. “Aku, Rini Hastutiningsih, teman dekatnya Mbakyu, aku sing lebih tau dari jenengan,” terang Rini dengan suara agak tinggi. Nana pun naik pitam, Nana tidak sabar disepelekan Rini.

“Oke, nek que nggak percaya, sesok minggu tak tunggu que di depan Pyramid pukul 11.00 teng, piye?” tantang Nana tajam.

“Ngapain?” Tanya Rini bego.

“Nek kamu tidak percaya, akan kutunjukkan bukti-buktinya sesok Minggu,” jawab Nana dengan suara agak tinggi.

“Oo…que mau memberi fakta atas omong kosong que barusan? Ok ok, sesok Minggu aku pasti dating, tunggu!” Rini balas menantang. Tut…pertanda jaringan telepon keduanya putus.

………………………………………

Pagi-pagi Rini sudah bangun. Janji pertemuan dengan Nana di Pyramid siang ini membuat Rini begitu penasaran. Tepat pada pukul 11.00 Rini sudah berada di area Pyramid, jantung kota Taichung. Rini berusaha mencari-cari sosok Nana. Pandangannya menuju ke semua wujud telur yang terbuat dari batu alam. Batu tersebut tersusun rapi mengelilingi taman di depan bangunan Pyramid. Para BMI biasa duduk-duduk di atas batu tersebut sambil refreshing, melepas kebosanan setelah seminggu bekerja membanting tulang. Jam tangan Rini sudah menunjukkan pukul 12.00, namun batang hidung Nana belum kelihatan juga. Perasaan Rini semakin yakin bahwa semua informasi yang Nana berikan tentang Mela adalah omong kosong. Rini jengkel dan marah. Mukanya mulai panas dan dadanya pun sesak. Tiba-tiba sosok Nana muncul di hadapan Rini. Dengan sigap Rini berdiri. Emosinya sudah tidak terbendung lagi ingin segera dikeluarkannya. Tiba-tiba saja mata Rini hinggap pada bundel tebal yang diapit Nana. Pikirannya langsung melayang pada segala cerita kebesaran Mela yang pernah diungkap Nana.

“Ni, makan! Gubrakkk!” Nana melempar begitu saja bundel tebal itu di hadapan Rini sambil memutar badannya tanpa pamit. Rini terdiam seribu bahasa.

“Nana…Nana…tunggu,” jeritan melengking suara panggilan Rini tidak mampu menahan Nana berhenti. Rini menghela nafas panjang sambil menekan huruf demi huruf yang tertera pada keyboard Handphonenya.

“Maaf Nana, aku cuma tidak menyangka saja, sekarang aku percaya dengan semua ceritamu tentang Mela, maafkan aku ya Na! jangan sampai persahabatan kita putus hanya karena salah paham sedikit,” tulis Nana dalam message nya kepada Nana.

Setelah berhari hari Rini menunggu balasan Nana, akhirnya malam itu suara nada panggilan telepon Rini berbunyi juga. Spontan Rini melompat dari atas kasur untuk meraih Handphonenya.

“Piye…jadi muleh que?” Tanya Nana datar.

“Aku masih bingung Na, belum tak putuskan, aku masih penasaran dengan kisah hidup Mela,” jawab Rini terbata-bata.

“Apalagi yang que herankan? Wong ceritanya sudah jelas, semua cerpen dan puisi yang kuberikan stabilo kuning dalam majalah itu milik Mbak Mela. Kamu juga bisa lihat foto penulis di atasnya toh?” terang Nana mulai sabar.

“Bukan aku tidak percaya Nana, justru karena sekarang aku 100% percaya bahwa Mela yang tamatan SMP itu menjadi seorang penulis hebat, aku menjadi bingung dibuatnya,” sejenak Rini berhenti sambil menarik nafas panjang-panjang.

“Bagaimana bisa Mela menjadi penulis? Dari mana ide menulisnya, siapa yang mengajarkan dan mengajak dia menulis dan kapan dia sempat menulis? Wong selama 3 dia bekerja hanya sehari saja ia diizinkan untuk keluar rumah shalat Idul Fitri, selebihnya dia hidup dalam tekanan dan kerja keras di dalam rumah besar majikannya,” terang Rini antusias. “Aku benar-benar tidak percaya Na, kalo si Mela bisa mendapatkan banyak uang dan nama yang tersohor karena menulis, kenyataan ini benar-benar tidak masuk akal bagiku,” sambung Rini sambil mengernyitkan dahinya berkali-kali.

“Bukan itu saja Rin, Mbak Mela itu juga telah memiliki keterampilan yang orang lain belum tentu memilikinya. Justru keterampilan itulah yang sangat mahal harganya. Dia dengan percaya diri meninggalkan pekerjaannya sebagai BMI di Taiwan karena ia yakin di Indonesia ia bisa hidup lebih layak dan terhormat dengan keterampilan barunya me-nu-lis!” ungkap Nana semangat.

“Que mau seperti dia Rin?” Tanya Nana dengan nada mengejek.

“Heh, Tanya-tanya, Lo sendiri gimana? Persiapan apa yang sudah lo kerjakan?” Rini balas bertanya sambil mengejek dengan menggunakan logat anak-anak kota Jakarta.

“Oh…oh…oh…jangan salah ya…aku sedang mempersiapkan diri menjadi juragan jamur. Insya Allah hanya dua tahun lagi aku berada di sini, setelah itu dengan tabunganku ini aku akan membuka kuliner wisata jamur di Jogjakarta. Sebulan yang lalu aku sudah membeli sehektar tanah di wilayah Kaliurang yang sangat cocok dipakai untuk budidaya jamur. Dalam waktu dekat ini Insya Allah adikku yang bungsu akan membuat kontrak kerja dengan kelompok mahasiswa Pertanian dari Universitas Gadjah Mada. Mereka akan membuat budidaya tanaman jamur dengan system bagi hasil. Sebagian modal akan kukirim dari sini Rin,” Nana menerangkan dengan optimis.

Rini terdiam. Rini tidak mampu berkata apa-apa. Memorinya berputar pada nasib baiknya selama berada di Taiwan. Memiliki majikan yang baik, pekerjaan yang santai dan ringan, bisa jalan-jalan di setiap hari minggu dan tidak jarang majikannya juga memberikan ia bonus pakaian maupun uang.

“Namun apalah arti semua itu, hanya sedikit saja yang tersisa,” desah Rini lirih bersama penyesalan.

“Nana, aku menyesal Na, hidupku telah dirampas orang lain, waktuku luangku di hari Minggu seringkali kuhabiskan berfoya-foya dan berduaan bersama kekasihku, apalagi uang, aku hampir tidak mengenal yang namanya tabungan. Hanya sesekali saja dapat kukirim ke kampung, sisanya tak sadar terkuras habis untuk mencari kesenangan sementara,” Rini tidak mampu melanjutkan perkataannya, air matanya sudah membasahi bantal yang sedari tadi dipeluknya.

“Sabar toh Rin, mulai sekarang rencanakan hidup baru, hidup ini harus ada tujuan, cita-cita dan target,” terang Nana dengan sabar. “Jadi bukan anak sekolah aja yang punya cita-cita Rin, kita yang hampir kepala empat ini juga harus punya cita-cita,” ungkap Nana sambil berseloroh.

“Cita-cita itu harus tinggi Rin, harus hebat dan bermartabat! Menjadi TKI/BMI itu bukan cita-cita melainkan batu loncatan menuju cita-cita,” sambung Nana. “Ngerti que Rin?” Tanya Nana mengakhiri kalimatnya.

“Nggeh…kulo ngertos…” jawab Rini datar dengan menggunakan Bahasa Jawa halus.

“Wes, sesok Minggu ketemu aku meneh di Pyramid, que tak ajak ke suatu tempat yang menghasilkan uang tambahan, tapi que harus janji akan membawa tugas menulis cita-cita dan target hidupmu, lengkap dengan tahun dan strategi atau cara untuk mencapainya, piye? OK ma?” Setelah Rini mengiyakan perintahnya, Nana segera mengakhiri pembicaraannya melalui telepon, sedang Rini masih termangu sambil membayangkan penghasilan tambahan dari menyulam syal pada setiap hari minggu. Kegiatan ini dikoordinir oleh Nana. Nana mengajarkan menyulam kepada para BMI pada setiap hari Minggu di Masjid kota. Hasil rajutan mereka pasarkan kepada penjual di pasar Taichung. Semua anggota yang telah bergabung di kegiatan ini telah merasakan manfaatnya. Selain mendapatkan pendapatan tambahan, mereka juga merasakan kesenangan berkumpul dengan teman-teman setanah air tanpa harus merogoh simpanannya.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (4 votes, average: 9,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Lihat Juga

Menjaga Martabatmu