19:08 - Minggu, 21 September 2014

Tinggalkan Kedokteran Modern?

Rubrik: Opini | Kontributor: Ahmad Jamaluddin - 07/03/12 | 10:30 | 14 Rabbi al-Thanni 1433 H

Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Beberapa waktu lalu seorang teman sejawat dokter menulis pengalamannya di daerah tempatnya bertugas. Ketika ia mengikuti suatu pengajian umum, pembicara pada pengajian tersebut menyatakan bahwa dunia kedokteran yang sekarang ini merupakan salah satu invasi pemikiran Yahudi-nasrani. Mulai dari penggunaan antibiotik oleh dokter, melarang adanya vaksin, hingga menyinggung profesi dokter secara terang-terangan dengan menyebutkan obat-obat dari dokter itu barang kimia yang merusak tubuh, tidak halal, produk Yahudi untuk merusak orang Islam. Si pembicara kebetulan seorang herbalist.

Penulis sendiri juga pernah menerima email yang mempromosikan sebuah produk herbal, mengajak menghindari obat-obatan dari dokter yang merupakan bahan kimia beracun, untuk beralih ke pengobatan herbal yang alami, bebas efek samping dan halal.

Perdebatan mengenai kedokteran modern versus pengobatan alternatif sudah beberapa kali penulis dengar. Ada rekan sejawat yang mengeluh teman mengaji yang tidak mau mengimunisasi anaknya, dan kemudian anaknya menunjukkan gejala pertusis. Atau ibu seorang teman yang menderita hipertensi dan diabetes mellitus, menolak minum obat dokter, beralih ke pengobatan herbal, kembali berobat ke dokter dengan stroke dan kerusakan ginjal.

1. Dijamin Sembuh, Tanpa Efek Samping?

Obat-obatan yang digunakan di kedokteran modern selalu merupakan hasil dari serangkaian penelitian dan uji klinis, yang intinya adalah mengetahui manfaat dan keamanannya. Oleh karena itu obat-obatan yang digunakan dokter umumnya sudah diketahui manfaat dan resikonya. Sehingga penggunaan suatu obat selalu berdasarkan pertimbangan apakah manfaatnya melebihi resikonya. Bagi dokter, tidak ada jenis terapi yang 100% manjur, dan tidak ada terapi yang tanpa efek samping. Kalau kita baca penelitian atau textbook tentang manfaat sebuah terapi, selalu kita temukan angka kegagalan pengobatan, walaupun mungkin sedikit, dan kejadian efek yang tidak diharapkan dari terapi tersebut.

Oleh karena itu iklan pengobatan alternatif dengan jargon “dijamin sembuh” dan “bebas efek samping” yang sering kita lihat ditempel di pintu angkot selalu membuat prihatin. Suatu terapi yang dikampanyekan sebagai “bebas efek samping” sesungguhnya lebih tepat kalau disebut “belum diketahui efek sampingnya”, karena belum ada penelitian ilmiah yang menelitinya. Sehingga pilihan pengobatan adalah ‘terapi yang sudah diketahui efek sampingnya versus terapi yang belum diketahui efek sampingnya’, BUKAN ‘terapi yang berefeksamping versus terapi tanpa efek samping’.

Pengalaman juga menunjukkan adanya pasien-pasien yang mengalami gangguan lambung, kerusakan ginjal, dan kerusakan hati diduga disebabkan karena mengkonsumsi jamu. Kasus Sindrom Steven Johnson (reaksi alergi yang berat) juga pernah dilaporkan akibat obat herbal.

Masalah manfaat pun tidak mudah untuk disimpulkan. Umumnya pengobatan alternatif mengandalkan kesaksian beberapa orang yang mendapat manfaat dari terapi tersebut. Di kedokteran modern, kesaksian beberapa orang tidak cukup kuat sebagai bukti manfaat. Logika sederhananya, kalau ada 1000 pasien yang diterapi, dan yang memberikan kesaksian sembuh 10 orang, maka angka kesembuhannya sangat rendah. Belum lagi kalau ditelusuri bagaimana kelanjutan perjalanan penyakit dari pasien tersebut, keakuratan diagnosis, metode, dan lain-lain.

Komunikasi yang baik antara kedokteran modern dengan pengobatan alternatif (termasuk pengobatan cara Nabi atau thibunnabawi) sebenarnya sudah ditunjukkan dengan adanya terapi alternatif yang sudah diakui oleh kedokteran modern. Misalnya akupunktur yang dulu dianggap tidak ilmiah, saat ini sudah ada perhimpunan dan pendidikan spesialis akupunktur. Walaupun belum seluruh manfaatnya diakui, tapi sekarang beberapa manfaat akupunktur sudah ada dasar ilmiahnya melalui penelitian-penelitian yang mendukung.

Contoh lain adalah habbatussauda (jinten hitam, Nigela sativa), yang berdasarkan hadits Nabi Muhammad SAW dapat digunakan untuk semua penyakit. Di kedokteran, obat yang paling mungkin untuk dapat digunakan untuk banyak penyakit adalah anti oksidan dan imunomodulator (penguat kekebalan tubuh). Dan sekarang sudah ada pabrik farmasi yang memproduksi habbatussauda sebagai imunomodulator dalam bentuk produk farmasi yang diresepkan. Walaupun uji klinisnya belum selesai, tapi manfaatnya sudah diteliti secara ilmiah. Sayangnya orang non-muslim yang memproduksinya. Kaum muslimin sendiri tampaknya kurang tertarik untuk menjadikan habbatussauda sebagai bagian dari kedokteran modern, malah ada yang menganjurkan untuk meninggalkan kedokteran modern.

2. Dokter Seutuhnya

Perbincangan tentang kedokteran modern dan pengobatan cara Nabi SAW mendorong saya untuk kembali membuka salah satu rujukan utama thibunnabawi (pengobatan cara Nabi Saw), yaitu buku At Thib an Nabawi –nya Ibnu Qayyim AlJauziyah (Praktek Kedokteran Nabi, Hikam Pustaka, atau Buku IV Terjemah Kitab Zadul Ma’ad, Penerbit Pustaka AlKautsar). Namun semakin saya membaca buku tersebut, banyak hal yang justru sejalan dengan kedokteran modern, atau potensial untuk saling melengkapi.

Dalam buku At Thib an Nabawi, Ibnul Qayyim al Jauziyah menulis begini:

“Hendaknya seorang dokter memiliki keahlian di bidang penyakit hati dan ruh serta pengobatannya. Sebab hal itu adalah pangkal yang agung untuk pengobatan badan, sebab terpengaruhnya badan dan sifat alamiahnya oleh jiwa dan hati adalah kenyataan yang telah terbukti. Dokter yang mengetahui berbagai jenis hati dan ruh serta pengobatannya maka ia adalah dokter yang sempurna. Dan yang tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu, meski ia ahli dalam pengobatan segi alamiah dan badaniah maka ia hanyalah setengah dokter. Setiap dokter yang tidak mengobati pasien dengan membersihkan hati pasien itu dan memperbaikinya dan dengan memperkuat ruhnya dengan sedekah dan perbuatan baik, dan dengan mengarahkan perhatian kepada Allah dan akhirat maka ia bukanlah seorang dokter, melainkan seorang yang berlagak dokter yang cacat..”

Bila seorang dokter bisa memiliki keahlian medis yang bertanggung jawab, memiliki pola pendekatan yang lebih humanis terhadap manusia sebagai insan spiritual, memahami secara cukup masalah hati, tidak memandang pasien sebagai makhluk material semata apalagi menjadikan pasien sebagai sumber perolehan ekonomi, maka ia adalah dokter yang sebenarnya.

Konsep holistik ini sebenarnya bukan hal yang asing dalam pendidikan kedokteran modern. Melalui berbagai modul, mahasiswa kedokteran dididik untuk memahami pasiennya sebagai manusia yang utuh dengan segenap karakter dan latar belakangnya. Dokter juga diajarkan untuk memahami bahwa penyakit terjadi karena adanya interaksi antara vector (si penyebab penyakit), host (manusia), dan environment (lingkungan), sehingga mengobati orang sakit juga harus mengintervensi hal-hal tersebut. Dalam versi lain, status kesehatan dipengaruhi genetika, lingkungan, perilaku dan pelayanan kesehatan.

Kendalanya ketika lulus menjadi dokter, pendekatan tersebut sedikit demi sedikit mulai ditinggalkan karena berbagai sebab, misalnya jumlah pasien yang banyak, sehingga alokasi waktu untuk berkomunikasi dengan pasien semakin kurang. Padahal jika menurut Ibnu Qoyyim, hal ini akan membuat sang dokter menjadi “setengah dokter”.

3. Kaidah Sebab Akibat.

Buku At Thib an Nabawi menjelaskan makna hadits Nabi Muhammad SAW, “Tiap-tiap penyakit ada obatnya, apabila suatu obat mengenai penyakit, maka sembuhlah penyakit itu dengan izin Allah” (HR. Muslim).

Setiap penyakit ada penyebabnya, saat dokter/terapis tidak mampu mendiagnosis penyakit atau obatnya tidak mengenai sasaran, maka penyembuhan tidak berhasil. Tatkala obat mengenai sasaran yang tepat, maka penyakit akan sembuh dengan izin Allah. Penyakit-penyakit materi selalu disertai dengan penyebab, maka yang pertama kali dilakukan adalah menentukan sebab terjadinya, kemudian penyakitnya, dan kemudian obatnya.

Dari sisi ini, kedokteran modern telah memberikan kontribusinya dengan baik. Penelitian dalam dunia kedokteran telah membuka penyebab berbagai penyakit, sehingga memberikan jalan ditemukannya terapi untuk penyakit tersebut serta cara untuk mencegahnya. Namun, ilmu kedokteran modern “terlalu jujur” mengakui bahwa banyak penyakit yang belum diketahui penyebabnya, masih berupa dugaan atau hipotesa, atau sekalipun sudah diketahui penyebabnya, obat yang ada belum dapat menyembuhkan. Sedangkan pengobatan alternatif terkadang sangat percaya diri dengan terapinya, walaupun bukti-buktinya masih lemah.

Dengan demikian, kedokteran modern juga mengajarkan sang dokter untuk tidak bersikap takabur, dan tidak bersikap bahwa dirinya sebagai penyembuh. Seefektif apapun sebuah terapi, tetap ada kemungkinan kegagalannya. Seaman apapun suatu obat, tetap ada kemungkinan timbulnya efek yang tidak diharapkan.

Yang sering terjadi kemudian adalah ketidakpuasan pasien karena dokternya tidak mampu menyembuhkan, keharusan meminum/disuntik obat seumur hidup, atau mendapat terapi yang mahal dan tidak nyaman seperti pembedahan, kemoterapi, radioterapi. Maka beralihlah pasien-pasien itu ke terapi lain yang berani memberi harapan kesembuhan, walaupun cara kerja, manfaat dan efek samping terapi tersebut masih belum jelas, sehingga justru bertentangan dengan kaidah sebab-akibat.

4. Metode Pengobatan

Metode pengobatan yang dipraktekkan oleh Rasulullah SAW cukup banyak. Dari sisi metode preventif/pencegahan sebenarnya sejauh ini tidak ditemukan pertentangan dengan kedokteran modern. Bagaimana menjaga makan, kebersihan diri dan lingkungan adalah hal-hal yang manfaatnya ini sudah dibuktikan oleh kedokteran modern.

Lain halnya dengan metode kuratif dalam buku At Thib an Nabawi, seperti mengobati demam, diare, luka, kejang, dan lain-lain. Beberapa metode belum diakui kedokteran modern serta belum ada data yang cukup untuk membuktikan manfaat dan resikonya.

Prof. Dr. Omar Hasan Kasule, pakar kedokteran Islam dari IIUM (International Islamic University of Malaysia) berpendapat bahwa thibunnabawi tidak hanya mencakup pengobatan pada zaman Nabi Muhammad SAW., tapi juga mencakup pengobatan hari ini dan masa depan.

Hadits Nabi Muhammad SAW bahwa “Tiap-tiap penyakit ada obatnya, apabila suatu obat mengenai penyakit, maka sembuhlah penyakit itu dengan izin Allah” merupakan dorongan bagi kita untuk mencari cara dalam masalah pengobatan. Ini menunjukkan bahwa tradisi pengobatan Nabi tidak hanya berhenti pada praktek pengobatan yang diajarkan beliau, tetapi lebih dari itu, mendorong manusia untuk mencari dan bereksperimen dengan model pengobatan baru. Dan cara yang tepat untuk mengembangkan pengetahuan medis adalah melalui penelitian dan mencari tanda-tanda Allah SWT di alam semesta.

Prof. Dr. Omar Hasan Kasule menyimpulkan bahwa sifat dari thibunnabawi tidak tetap, tapi bisa berkembang berdasar ijtihad dan penelitian empiris yang sesuai dengan prinsip-prinsip syariah.

Metode kuratif yang dicontohkan Nabi SAW bukanlah suatu pembatasan untuk tidak mengembangkan metode lain. Islam sangat menghargai ilmu pengetahuan, termasuk ilmu kedokteran. Ilmuwan dan ulama Islam telah berperan penting dalam menemukan dasar ilmiah dalam mengembangkan ilmu kedokteran, di saat pengobatan barat di masa itu masih tidak rasional dan berdasar takhayul. Membatasi kedokteran Islam hanya pada metode yang diterapkan pada zaman Nabi SAW dan menutup mata terhadap perkembangan ilmu pengetahuan adalah suatu bentuk kemunduran. Padahal para ilmuwan dan ulama Islam yang telah meletakkan dasar-dasar ilmu kedokteran modern.

Ahmad Jamaluddin

Tentang Ahmad Jamaluddin

Lahir di Tangerang tahun 1979. Telah menikah dan sudah dikaruniai 3 orang anak. Saat ini tinggal di Jakarta. Lulus dari Fakultas Kedokteran UI dan saat ini sedang menempuh pendidikan di… [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Hendra

Topik:

Keyword: , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (50 orang menilai, rata-rata: 8,70 dalam skala 10)
Loading...Loading...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
  • http://www.facebook.com/muhammad.hakimmuddin Muhammad Hakimmuddin

    Pak dokter silakan melengkapi bacaannya dengan sistem dajjal ahmad thompson dan sejarah kedokteran islam dari masa ke masa oleh. Dr. Ja’far Khalid Yamani terjemahan dari AD – Marzdedeq almarhum. art of deception jerry d gray. Mudah-mudahan dapat memberi wawasan tambahan untuk memahami kenapa beberapa teman terkesan ekstrim. Saya sendiri termasuk yang yakin bahwa semua ilmu yang baik bahkan kedokteran modern adalah dari bagian ilmu Allah. Afwan sedikit menambahkan saja.

    • http://profile.yahoo.com/RUR2WUANTQF5QJQXIBMCQCNOSE jamie

      Terima kasih atas sarannya. Saya pernah menyimak ceramah Jerry D. Gray. Saya bisa memahami kenapa beberapa teman bersikap ekstrim, namun bukan berarti menyepakati.
      Kalau yang dipermasalahkan adalah halal-haram, maka marilah bertanya pada ulama dan majlis ulama.
      Kalau yang dipermasalahkan adalah manfaat dan mudharatnya, bertanyalah pada ahli kedokteran.
      Saya melihat, Jerry D. Gray tidak termasuk ulama dan ahli kedokteran.
      -Jamal

      • http://twitter.com/anisamirda anies

        Saya punya teman beberapa dokter yang memahami tentang Herbal.Beberapa di antaranya ada yg membuka klinik yang berbasis herbal, bahkan  ada yang menjadi Ketua ABI(Asosiasi Bekam Indonesia).Kenapa antum tidak mencoba Sharing dgn teman2 dokter lain,karena mereka juga mempunyai latar belakang yang sama dengan antum bukan?

  • http://twitter.com/anisamirda anies

    Saya mau menambahkan:
    Saya Setuju bahwa Herbal bukan tidak ada efek smping,Herbal ada efek samping jk di gunakan secara terus – menerus namn tidak terdapat keluhan,Contoh:Habatusauda apabila d gunakan scara terus menerus dapat menyebabkan organ pasien bersifat panas apabila pasien tersebut dalam keadaan normal.
    2.Kalau di Bilang Manfaat dan  efek samping terapi belum jelas (di kutip  dr 3.Kaidah Sebab akibat).
    Terapi apa yg d maksud blm jelas?perlu di terangkan di sini.
    Kalau kita berbicara pengobatan Ath-Tibun Nabawy yg erat dengan trapi Bekam,Tentu ini sebuah kekeliruan.Karena Bekam dalm Hadis Rasulullah sudah jelas.Sebagai orang Islam patut mengimani hal tersebut.Sedangkan dari sisi Kedoteran pun sudah dapat Dibuktikan.

    • http://profile.yahoo.com/G2QU77NUO54ZOOVHOPBIXGWN2Y Bukandokter

      Efek samping dari zat yang bersifat alami bisa saja ada Ukh. misalnya kalau seseorang alergi terhadap kandungan zat yang ada di dalam obat tersebut. Munculnya juga belum tentu karena zat itu dikonsumsi dalam jumlah besar loh.

  • http://profile.yahoo.com/RUR2WUANTQF5QJQXIBMCQCNOSE jamie

    Terima kasih atas sarannya. Saya pernah menyimak ceramah Jerry D. Gray.
    Saya bisa memahami kenapa beberapa teman bersikap ekstrim, namun bukan
    berarti menyepakati.
    Kalau yang dipermasalahkan adalah halal-haram, maka marilah bertanya pada ulama dan majlis ulama.
    Kalau yang dipermasalahkan adalah manfaat dan mudharatnya, bertanyalah pada ahli kedokteran,.
    Saya melihat, Jerry D. Gray tidak termasuk ulama dan ahli kedokteran.
    -Jamal

  • http://www.facebook.com/people/Novi-Yetri/100001450179032 Novi Yetri

    Allah swt secara tegas menyebutkan bahwa pd madu terdapat obat. Obat yg tdk mempunyai efek samping sebagaimana obat-obatan kimia.
    “………… Dari perut lebah itu ke luar minuman (MADU) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya trdapat OBAT yg menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pd yg demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yg memikirkan. (An Nahl : 68-69)

    • http://www.facebook.com/people/Jamal-Ahmad/564938119 Jamal Ahmad

      Sebagian umat Islam menggunakan madu dalam pengobatan karena tuntunan alQur’an, dan karena tidak ada panduan detail dalam penggunaannya mengakibatkan timbulnya persepsi sebagian masyarakat bahwa madu dapat digunakan untuk semua penyakit, semua kelompok usia dan semua kondisi, maka berkembanglah berbagai pengobatan yang menggunakan madu, dari madu murni, propolis dan olahan madu.

      Saya cenderung berhati-hati untuk mengklaim suatu teknik pengobatan sebagai Pengobatan cara Nabi (thibunnabawi). Misalnya ada yg menganjurkan pemberian propolis 3 x 1 sebagai obat panas, batuk, kejang, dll sebagai pengobatan cara Nabi.
      Bukankah tidak ada hadits atau ayat yg menyatakan bahwa “jika panas minum madu atau propolis 3 x 1” ?
      Dengan demikian klaim bahwa suatu terapi bisa mengobati harus melalui pembuktian terlebih dahulu.

      Karena tidak ada panduan detail ini, tentunya mengharuskan kita untuk terus meneliti lebih lanjut efek terapi, indikasi, kontraindikasi, efeksamping, pengaruh variasi genetik, dll.
      Misalnya teman sejawat di bagian bedah plastik mulai menggunakan madu untuk perawatan luka, tapi juga menyisakan banyak pertanyaan, misalnya bagaimana pengaruh variasi genetiknya? Ada penelitiannya, tapi menggunakan madu New Zealand (http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1297205/).
      Sedangkan ada ribuan variasinya, mulai dari variasi lebahnya, variasi bunga yg dihisap lebah, bahkan variasi musim (kabarnya madu dari bunga musim panas berbeda dengan bunga musim semi).

      Jadi tuntunan AlQur’an dan Nabi SAW dalam hal kesehatan juga harus disikapi sebagai
      dorongan untuk mengembangkannya dengan riset yang sesuai dengan prinsip ilmiah.

  • http://profile.yahoo.com/P77N7QJQW4VXYTDM7J2V7ZC6OU joko

    sebenarnya tak ada yg hrs dipertentangkan, tetapi kita juga hrs jujur melihat bahwa byk hal dari pengobatan modern yang tdk transparan, kebanyakan dokter hanya pandai menuliskan resep tanpa pandai menjelaskan kpd pasien kenapa hrs dgn obat tersebut..afwan ana sendiri sering melihat bagaimana para sales obat dr perusahaan farmasi mewanti2 dokter : “dok jangan lupa resepnya”…
    sebaliknya para praktisi herbal juga jangan terlalu over dgn menjelek2 kan obat kimia sintetis..karena semua kesembuhan hanya datang dari Allah..
    Mengenai konsep holistik yg penulis nukil diatas, memang benar dipelajari dibangku kuliah kedokteran atau kesehatan lain..tapi teori itu tak berlaku setidaknya tidak dilakukan di dunia nyata. karena kenyataannya banyak dokter hanya tertarik mengasuh fisik pasien dengan meninggalkan emosi dan spiritualnya…dan afwan tulisan diatas tidak berimbang, hanya mengungkapkan ke”baik”an pengobatan medis modern tanpa mengungkapkan kekurangannya, sebaliknya mengungkapkan beberapa kasus dari terapi herba yang kebetulan belum sembuh tapi dijadikan hujjah..
    Tidak semua hal harus diukur dengan “Bukti” ilmiah…

  • http://twitter.com/sehatperkasa sehat perkasa

    kok begitu sih…kudu berimbang dan jelas ah

  • http://www.facebook.com/people/Jamal-Ahmad/564938119 Jamal Ahmad

    Terima kasih atas masukannya.

    Memang ada dua tujuan dari subjudul
    “Dokter Seutuhnya”. Pertama mengungkapkan bahwa banyak keselarasan ajaran Islam
    dengan ilmu kedokteran, kedua mengingatkan tenaga medis bahwa melayani pasien
    sebagai manusia seutuhnya adalah tuntutan profesi dan tuntutan Islam.

    Kenapa bukti ilmiah (evidence based)
    penting?

    1.      
    Karena sikap ilmiah dalam ilmu pengetahuan
    adalah warisan Islam. Ilmuwan dan ulama Islam telah berperan penting dalam menemukan dasar ilmiah
    dalam mengembangkan ilmu kedokteran, di saat pengobatan barat di masa itu masih
    tidak rasional dan berdasar takhayul. Misalnya metode perumusan hipotesa dalam
    penelitian ilmiah diajukan oleh Ibnu Sina, dan masih digunakan sampai sekarang.

    2.      
    Karena bersikap ilmiah adalah bagian dari ikhtiar. Allah SWT. yang
    menyembuhkan, dan manusia dituntut berikhtiar dengan mengupayakan terbaik. Ketika
    kita berhadapan dengan pilihan-pilihan terapi, maka kita perlu menentukan
    terapi mana yang paling efektif dan paling aman. Ketika sebuah terapi diklaim
    mampu menyembuhkan, maka sejauh mana kesembuhannya? Berapa yang sembuh dan
    berapa yang tidak sembuh? Jika dibandingkan dengan terapi yang lain, mana yang
    lebih baik kesembuhannya? Bagaimana dengan keamanan dan efek sampingnya?
    Pertanyaan-pertanyaan itu yang dicoba dijawab dengan penelitian-penelitian
    ilmiah.

    Umumnya pengobatan
    alternatif mengandalkan kesaksian beberapa orang yang mendapat manfaat dari
    terapi tersebut. Secara ilmiah, kesaksian beberapa orang tidak cukup kuat
    sebagai bukti manfaat. Logika sederhananya, kalau ada 1000 pasien yang
    diterapi, dan yang memberikan kesaksian sembuh 10 orang, maka angka kesembuhannya
    sangat rendah.

    3.      
    Bagaimana mungkin kita tidak tergerak mengisolasi
    zat aktif dari berbagai obat herbal yang ada, dari jamu, ramuan, atau
    minyak-minyak itu ? Mengisolasinya, mengkarakterisasinya, mencari target
    molekulnya, mengukur hasil reaksinya, memodifikasi dan seterusnya sampai
    didapatkan satu compound yang sahih farmakokinetik dan farmakodinamiknya. Al Qur’an jelas
    menganjurkan penggunaan madu dalam pengobatan. Tapi apakah ada ayat dan hadits
    yang menyatakan zak aktif apa saja yang bermanfaat dalam madu? Dosis, indikasi,
    kontraindikasi, efek sampingnya?

    Pasti
    tidak terfikir karena kacamatanya sudah terburu-buru menghitung nilai potensial
    pasar yang ada. Pekerjaan 10-20 tahun untuk menemukan satu obat terasa
    seperti perbuatan bodoh, kalau materi ukurannya, untuk apa bersusah payah kalau
    dalam 1-2 tahun saja bisa laku keras mendompleng ghirah? Padahal efek samping
    tidak diketahui, dosis tidak standar, variasi genetik tidak dipertimbangkan,
    sterilitas dipertanyakan, potensi alergi tidak tahu, bahkan efek terapinya pun
    belum reproducible.
     

    • http://profile.yahoo.com/G2QU77NUO54ZOOVHOPBIXGWN2Y Bukandokter

      Sekedar
      menambah ya Bruder Jamal :)

      Setuju
      sekali dengan pendapat dokter Jamal bahwa sudah selayaknya kita ummat Islam mempelajari
      kandungan zat aktif dalam obat2 herbal, sehingga suatu saat kelak kita bisa
      berbangga dengan adanya jamu/obat herbal asal Indonesia dalam bentuk fitofarmaka
      yang dosisnya terukur dan bisa diresepkan oleh dokter. Apalagi mengingat
      Indonesia sangat kaya dengan plasma nutfah-nya, yang insya Allah, pastinya dong
      potensial sebagai sumber obat alami. Penelitian ini sudah
      dirintis oleh beberapa tim yang ada di lembaga2 penelitian pemerintah
      maupun universitas. Harapannya sih, pengusaha obat herbal/jamu mau menanamkan modal/investasinya
      untuk penelitian ini, layaknya industri obat ‘moderen’ yang punya R&D
      keren. Kalau bisa sekalian juga mendanai clinical-trial-nya, sehingga ada angka
      statistik jelas yang mendukung keefektifan obat herba tersebut, bukan sekedar
      kesaksian2 tanpa bisa diketahui berapa prosentase pasien yang berhasil diobati.
       Kalau terbukti khasiatnya bagus juga
      akan meningkatkan volume penjualan dan menguntungkan pengusaha dan distributor
      obat herbal hehe.. J

      Selain itu, mari
      kita mencermati obat2an yang diresepkan dalam kedokteran ‘moderen’. Bukankah
      tidak sedikit yang berasal dari ‘obat alami’? Tengok saja Artemisinin dan Kina
      (quinine), dua obat yang biasa diresepkan dokter untuk treatment malaria. Bukankah
      Artemisinin awalnya diisolasi dari tanaman Artemisia
      annua dan Kina (Quinine) dibuat dari batang tumbuhan Chincona officinalis?

      Atau mari
      kita lihat antibiotik turunan beta-laktam (penicillin, amoxicilin and the
      gank). Bukankah antibiotika ini awalnya dibuat oleh jamur jenis Penicillium dan kemudian dimodifikasi
      secara enzimatis menggunakan enzim yang dihaslkan oleh mikroba yang dihasilkan
      alam?

      Jadinya…. apa
      betul kita bisa mengkotak-kotakkan obat moderen dan obat alami?

  • http://www.facebook.com/raehanul.bahraen Raehanul Bahraen

    maaf saya juga seorang dokter, sekedar menambahkan, sya punya tulisan terkait hal ini.

    http://muslimafiyah.com/haruskah-kedokteran-modern-dan-thibbun-nabawi-dipertentangkan.html

Iklan negatif? Laporkan!
45 queries in 2,149 seconds.