Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Hujan dan Vitalitas

Hujan dan Vitalitas

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (beckermanphoto.com)

dakwatuna.com “Jalan dakwah hanya menghendaki orang yang berani menempuh perjalanan, bersedia mengerahkan tenaga, bersiap mengorbankan jiwa, harta dan segala yang dimilikinya berupa waktu, tenaga, kesehatan dan ilmu semata-mata untuk mencari ridha Allah” (Qadhaya Al-asasiyyah ‘ala thoriqud da’wah).

Hujan, selalu menghadirkan kisah, kisah tentang kesejukan, tentang kesegaran, tentang nuansa keteduhan yang terjadi akibat efek hujan yang turun. Hujan, juga menjadi cerita indah, menjadi kisah barakah, tatkala Allah menganugerahkan kemustajaban doa yang hadir saat setelah hujan. Allahuma Syaiban nafian. Itulah doa yang terpanjatkan setelah datang hujan, doa meminta keberkahan dalam segala aktivitas yang kita lakukan. Di waktu itu, saat setelah hujan, adalah waktu barakah, saat waktu dimana doanya orang-orang shalih itu diijabahi oleh Allah Azza Wa Jalla. Dan di waktu ini, setelah hujan reda, mari kita berdoa, atas segala pinta kita yang belum tercapai, atas segala cita dan mimpi kita yang belum terlaksana, atas segala aktivitas kita semoga selalu berada dalam keberkahan yang turun dari keridhaan Allah atas aktivitas yang kita lakukan. Semoga segala pinta, cita, dan mimpi itu, segera menghadir, dan menjadi kisah indah dalam perjalanan hidup kita di dunia. Allahuma Syaiban Nafian. Amin.

Begitu juga dengan aktivitas mulia kita hari ini, menyeru, menyeru dan menyeru. Berdakwah, berjuang, dan mengajak kepada kebaikan. Mungkin ada yang bertanya, atau kadang ada yang memiliki kegundahan yang sama, sampai kapan kita akan berdiri dijalan ini, sampai kapan kita akan terus berjuang untuk menegakkan adien yang mulia ini. Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang kadang muncul begitu saja dalam lintasan pikiran kita, yang pada intinya menyatakan begitu beratnya perjalanan ini, begitu lelahnya kita berjuang, tapi masih saja kita tidak menemukan tujuan yang jelas. Tujuan dan misi agung yang juga belum hadir dan membuat senyum kita terkembang.

Memang, kalau kita cermati dan pahami secara mendalam, keberadaan kita dalam jalan ini, adalah satu anugerah dan kenikmatan yang luar biasa, sebab tidak semua orang merasakan nikmatnya menyeru, sebab tak semua bisa merasakan indahnya beramal jama’i. Dan kita, yang berkesempatan untuk beramal lebih, memikirkan mereka, harusnya mempunyai kelebihan daripada orang-orang yang tidak ada bersama kita. Kelebihan-kelebihan itu adalah tentang jiwa dan naluri kepahlawanan yang sudah seharusnya kita miliki dan memenuhi ruang-ruang dalam jiwa kita. Kelebihan itu adalah tentang keberanian, tentang kesabaran, dan tentang optimisme, juga tentang vitalitas yang tinggi dalam setiap aktivitas kita. Empat komponen itu yang kemudian ketika kita mampu menginternalisasi dalam jiwa kita, maka tak akan ada lagi pertanyaan-pertanyaan, pernyataan-pernyataan, sikap-sikap yang justru akan melemahkan semangat juang kita, dan pada akhirnya kemenangan itu akan menghadir, ya, kemenangan atas sikap malas kita, kemenangan atas sikap keragu-raguan kita, kemenangan atas ketidaksabaran dalam menjejaki aktivitas kita, dan kemenangan atas sikap pengecut yang kadang menyertai dan menghantui langkah kita, fi dakwah.

Salah satu yang saya singgung adalah tentang vitalitas. Mengutip pernyataan ustadz Anis Matta dalam Mencari Pahlawan Indonesia, bahwa para pahlawan mukmin sejati selalu unggul dalam kekuatan spiritual dan semangat hidup. Dalam setiap aktivitasnya senantiasa ada gelombang gairah kehidupan yang bertalu-talu dalam jiwa mereka. Itulah yang membuat sorot mata mereka selalu tajam, di balik kelembutan sikap mereka. Itulah yang membuat mereka selalu penuh harapan, di saat virus keputusasaan mematikan semangat hidup orang lain. Itulah vitalitas. Vitalitas adalah berbicara tentang ruh dan gairah yang menyala-nyala dalam jiwa, sehingga tak ada ruang bagi keputusasaan, bagi keragu-raguan ini hadir dalam jiwa mereka. Dan semoga hari ini, vitalitas ini yang akan menggerakkan segenap anggota tubuh kita untuk senantiasa melakukan mobilitas amal yang kontinyu, tak berhenti, tak kenal lelah. Inilah vitalitas.

Masih setelah hujan, mari berdoa, semoga Allah menghimpun kita berada dalam kokohnya dan indahnya menyeru, menghimpun kita dalam keistiqamahan dalam dakwah ini. Semoga Allah tetap menjaga nur iman dalam diri kita dan mengokohkan kita, tetap bersama dakwah ini. Amin Ya Rabb.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (8 votes, average: 9,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Dwi Purnawan
Jurnalis online dan pengamat socmed.

Lihat Juga

Ilustrasi. (dakwatuna.com / hdn)

Mencontoh Nabi dalam Berpolitik