03:29 - Minggu, 19 Mei 2013

Jilbabku Adalah Nilaiku

Rubrik: Artikel Lepas | Oleh: kiptiah hasan - 03/03/12 | 09:30 | 10 Rabbi al-Thanni 1433 H

Ilustrasi (kawanimut)

dakwatuna.com - Sebagai hamba yang masih harus belajar dan seringnya melakukan khilaf, maka dalam tulisan kali ini saya sampaikan beribu maaf atas berbagai pendapat mengenai tulisan saya sebelumnya yang berjudul “Jilbabku Bukan Nilaiku“. Mungkin karena berbentuk tulisan, maka kadangkala apa yang saya maksudkan menjadi tersamar.

Jilbabku Bukan Nilaiku” adalah tulisan yang cakupannya saya sempitkan hanya antara wanita berjilbab, jadi sama sekali tidak bermaksud membenarkan bahwa dengan tidak berjilbab meskipun berakhlaq baik itu sudah cukup.

Berjilbab sesuai syari’at dan berakhlaq baik adalah suatu kesempurnaan bagi seorang muslimah. Dengan jilbab akan membedakan wanita muslim dengan wanita kafir. Jilbab yang menjadi nilai bagi seorang muslimah sebagai lambang penghormatan kepada dirinya sendiri. Ia memilih berjilbab, berarti ia menginginkan keridhaan Allah dan sangat mengetahui betapa berharga tubuhnya jika hanya untuk di pamerkan kepada yang bukan muhrimnya, betapa tubuhnya yang terbuka dapat menjadi penyebab timbulnya fitnah.

Karena kecantikan bukan di lihat dari keindahan tubuh yang terbuka, bukan itu. Itu hanya sementara. Jika tujuannya ingin di lihat menarik oleh lawan jenis dengan pakaian yang terbuka, yakinlah itu hanya sementara. Saat ini kau berjuang keras mempercantik diri untuk menarik hati lawan jenis atau untuk hal-hal duniawi, maka hatimu akan kecewa. Kenapa?? Karena ternyata wanita-wanita lain akan melakukan hal yang sama. Dan kau pun akan kelelahan menampilkan kecantikan-kecantikan semu dalam dirimu.

Okelah jika ada yang bilang, “mau berjilbab atau tidak, itu kan hak saya”. Tapi tubuh kita bukan hak kita. Status kita hanya di pinjamkan. Milik kita hanya roh yang di tiupkan ke dalam jasad yang Allah pinjamkan. Bahkan roh itu sendiri berada dalam genggamanNya. Jika barang yang kita pinjamkan ke orang lain, kemudian orang tersebut merusaknya maka kita akan marah. Sama seperti Allah. Allah bebas melakukan apapun terhadap ciptaanNya. Jika amanah yang Dia berikan tidak di jaga dengan semestinya sesuai dengan perintahNya.

Sebab jilbabku adalah nilaiku, lambang kepatuhan kita kepada perintah Allah. Penilaian hakiki hanya dari Allah, akan terpuaskan kita akan penilaianNya. Allah tidak akan pilih kasih kepada hambaNya. Bukan Allah tidak sayang karena memerintahkan kita menutup aurat, padahal perempuan adalah makhluk yang indah. Karena keindahan tak selalu bisa di lihat secara gratis. Biar saja ada hinaan di sekeliling kita karena keistiqamahan kita menutup aurat. Karena kita adalah berlian mahal yang tidak mudah terjamah oleh sembarang orang dan bukan batu kerikil yang banyak bertebaran di jalan-jalan dan mudah di pegang.

Sebab jilbabku adalah nilaiku, lambang keshalihan, insya Allah. Yang karenanya kita akan berusaha untuk meluruskan perilaku kita yang sebelumnya bengkok. Yang karenanya, semoga kita mampu menghilangkan gaya hidup barat yang kini makin merajalela. Yang karenanya kita akan terlindungi dari segala keburukan yang di timbulkan akibat perbuatan kita sendiri (membuka aurat). Yang karenanya kita bisa menampilkan kenyamanan dalam berbusana (bukan pengekangan) sebagai contoh kepada mereka yang sinis terhadap jilbab.

Kita adalah hal terindah dan hanya untuk yang terindah jika kita mampu menjaga keindahan itu hanya untuk yang berhak memilikinya. Insya Allah.

Kembali menjadi renungan dan pengingat pribadi.

Tentang kiptiah hasan

Ya ALLAH, hidupkanlah aku sebagai orang yang tawadhu', wafatkanlah aku sebagai orang yang tawadhu' dan kumpulkan aku dalam kelompok orang... Selengkapnya.

Redaktur: Hendra

Keyword: ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (22 orang menilai, rata-rata: 9,32 dalam skala 10)
Loading ... Loading ...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
  • http://www.facebook.com/people/Heru-Prasetyo/100000015575243 Heru Prasetyo

    setuujjuu..moga dgn artikel ini gak ada lg omongan “jilbab’in dlu hatinya,baru jasadnya..

  • http://www.facebook.com/people/Lina-Lusianingsih/100001699371956 Lina Lusianingsih

    jilbab dan khimar adalah identitas seorang muslimah…

  • http://twitter.com/Yati0301 Yati Nurhayati

    berjilbab sambil terus memperbaiki diri,,

  • http://profile.yahoo.com/QZKV7SOVRS2K7TM6X4KE7ZF7EI Yulia Rahayu

    hemm gimana ya…saya ini mualaf…dari hati ingin sekali berjilbab,
    tapi karena saya harus menghargai keluarga…saya berfikir ulang untuk berjilbab.
    untuk menerima perbedaan saya saja, itu sudah sangat bersyukur….
    jadi menurut saya…jilbabkan dulu hati dan keimanan kita saja dulu…
    Allah maha mengetahui, niat dan isi hati umatnya

    • nusantari

      Berjilbab itu wajib hukumnya, mutlak perintah Alloh tanpa bisa ditawar lagi. Seorang muslimah entah itu wajib hukumnya untuk berhijab. Panjangnya usia tiada yang tau, jika tiba-tiba maut menjemput kita dalam keadaan tidak taat pada hukum Alloh, jawaban apa yang bisa kita berikan? Fyi, saya mualaf dan saya memutuskan berhijab sejak tau bahwa hijab itu wajib.

Iklan negatif? Laporkan!
85 queries in 0,714 seconds.