Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Jilbabku Adalah Nilaiku

Jilbabku Adalah Nilaiku

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (kawanimut)

dakwatuna.com Sebagai hamba yang masih harus belajar dan seringnya melakukan khilaf, maka dalam tulisan kali ini saya sampaikan beribu maaf atas berbagai pendapat mengenai tulisan saya sebelumnya yang berjudul “Jilbabku Bukan Nilaiku“. Mungkin karena berbentuk tulisan, maka kadangkala apa yang saya maksudkan menjadi tersamar.

Jilbabku Bukan Nilaiku” adalah tulisan yang cakupannya saya sempitkan hanya antara wanita berjilbab, jadi sama sekali tidak bermaksud membenarkan bahwa dengan tidak berjilbab meskipun berakhlaq baik itu sudah cukup.

Berjilbab sesuai syari’at dan berakhlaq baik adalah suatu kesempurnaan bagi seorang muslimah. Dengan jilbab akan membedakan wanita muslim dengan wanita kafir. Jilbab yang menjadi nilai bagi seorang muslimah sebagai lambang penghormatan kepada dirinya sendiri. Ia memilih berjilbab, berarti ia menginginkan keridhaan Allah dan sangat mengetahui betapa berharga tubuhnya jika hanya untuk di pamerkan kepada yang bukan muhrimnya, betapa tubuhnya yang terbuka dapat menjadi penyebab timbulnya fitnah.

Karena kecantikan bukan di lihat dari keindahan tubuh yang terbuka, bukan itu. Itu hanya sementara. Jika tujuannya ingin di lihat menarik oleh lawan jenis dengan pakaian yang terbuka, yakinlah itu hanya sementara. Saat ini kau berjuang keras mempercantik diri untuk menarik hati lawan jenis atau untuk hal-hal duniawi, maka hatimu akan kecewa. Kenapa?? Karena ternyata wanita-wanita lain akan melakukan hal yang sama. Dan kau pun akan kelelahan menampilkan kecantikan-kecantikan semu dalam dirimu.

Okelah jika ada yang bilang, “mau berjilbab atau tidak, itu kan hak saya”. Tapi tubuh kita bukan hak kita. Status kita hanya di pinjamkan. Milik kita hanya roh yang di tiupkan ke dalam jasad yang Allah pinjamkan. Bahkan roh itu sendiri berada dalam genggamanNya. Jika barang yang kita pinjamkan ke orang lain, kemudian orang tersebut merusaknya maka kita akan marah. Sama seperti Allah. Allah bebas melakukan apapun terhadap ciptaanNya. Jika amanah yang Dia berikan tidak di jaga dengan semestinya sesuai dengan perintahNya.

Sebab jilbabku adalah nilaiku, lambang kepatuhan kita kepada perintah Allah. Penilaian hakiki hanya dari Allah, akan terpuaskan kita akan penilaianNya. Allah tidak akan pilih kasih kepada hambaNya. Bukan Allah tidak sayang karena memerintahkan kita menutup aurat, padahal perempuan adalah makhluk yang indah. Karena keindahan tak selalu bisa di lihat secara gratis. Biar saja ada hinaan di sekeliling kita karena keistiqamahan kita menutup aurat. Karena kita adalah berlian mahal yang tidak mudah terjamah oleh sembarang orang dan bukan batu kerikil yang banyak bertebaran di jalan-jalan dan mudah di pegang.

Sebab jilbabku adalah nilaiku, lambang keshalihan, insya Allah. Yang karenanya kita akan berusaha untuk meluruskan perilaku kita yang sebelumnya bengkok. Yang karenanya, semoga kita mampu menghilangkan gaya hidup barat yang kini makin merajalela. Yang karenanya kita akan terlindungi dari segala keburukan yang di timbulkan akibat perbuatan kita sendiri (membuka aurat). Yang karenanya kita bisa menampilkan kenyamanan dalam berbusana (bukan pengekangan) sebagai contoh kepada mereka yang sinis terhadap jilbab.

Kita adalah hal terindah dan hanya untuk yang terindah jika kita mampu menjaga keindahan itu hanya untuk yang berhak memilikinya. Insya Allah.

Kembali menjadi renungan dan pengingat pribadi.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (24 votes, average: 9,38 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ya ALLAH, hidupkanlah aku sebagai orang yang tawadhu', wafatkanlah aku sebagai orang yang tawadhu' dan kumpulkan aku dalam kelompok orang-orang yang tawadhu'
  • setuujjuu..moga dgn artikel ini gak ada lg omongan “jilbab’in dlu hatinya,baru jasadnya..

  • jilbab dan khimar adalah identitas seorang muslimah…

  • berjilbab sambil terus memperbaiki diri,,

  • hemm gimana ya…saya ini mualaf…dari hati ingin sekali berjilbab,
    tapi karena saya harus menghargai keluarga…saya berfikir ulang untuk berjilbab.
    untuk menerima perbedaan saya saja, itu sudah sangat bersyukur….
    jadi menurut saya…jilbabkan dulu hati dan keimanan kita saja dulu…
    Allah maha mengetahui, niat dan isi hati umatnya

    • nusantari

      Berjilbab itu wajib hukumnya, mutlak perintah Alloh tanpa bisa ditawar lagi. Seorang muslimah entah itu wajib hukumnya untuk berhijab. Panjangnya usia tiada yang tau, jika tiba-tiba maut menjemput kita dalam keadaan tidak taat pada hukum Alloh, jawaban apa yang bisa kita berikan? Fyi, saya mualaf dan saya memutuskan berhijab sejak tau bahwa hijab itu wajib.

    • sri

      mba yuli menghormati keluarga bukan berarti menggandaikan apa yang telah kita yakini kan?, mba hati manusia itu tempatnya hilaf dan salah dan sampaikapan pun ga akan pernah lepas dari namanya salah itu fitrah mba, karena manusia itu lemah mba, niat itu perlu dieksekusi loh mba.ketika kita sudah tau tapi kt ga ngelaksanain malah itu tanggungjawabnya lebih berat lagi mba. jadikan jilbab sebagai pengingat kita agar menghantarkan kita kepada kesempurnaan dan ketakwaan dimata allah.untuk keluarga mba.buktikan kepada keluarga mba dengan akhlak yang lebih baik, dengan lebih giat membantu mereka ,lebih sayang kepada mereka lebih perhatian kepada mereka terutama kepada ke2 orang tua mba. tunjukkan mba kepada mereka bahwa islam itu agama yang penuh dengan kasih sayang dan tunjukkan kepada mereka bahwa inilah jalan yang benar makanya akhlak mba tambah menawan karena itu telah diajarkan islam. hitung2 sebagai dakwah kecil2an untuk mereka mba? oke mba?.Tetap istiqomah ya mba.yakin deah mba pasti bisa.ingat allah selalu sesuai dengan perasangka hambanya. ox satu lagi “belum dikatakan seorang beriman kepada Allah apabila ia belum diuji oleh Allah “

Lihat Juga

Ilustrasi. (antominang.blogspot.co.id)

Hijab, Antara Kewajiban dan Gaya Hidup