18:49 - Jumat, 01 Agustus 2014
DR. Amir Faishol Fath

Rahasia Kejujuran Iman

Rubrik: Editorial | Oleh: DR. Amir Faishol Fath - 01/03/12 | 23:34 | 08 Rabbi al-Thanni 1433 H

Ilustrasi (iluvislam.com)

dakwatuna.com - Dalam Al Qur’an kata jujur dibahasakan dengan istilah shadaqa atau shadiqiin. Dalam surah Al Ahzab: 23, Allah berfirman: minal mu’miniin rijaalun shadaquu maa ‘aahadullah…(Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang (shadaquu) menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak merubah (janjinya). Di sini Allah menggunakan kata minal mu’miniin, kata min littab’iidh (untuk menunjukkan makna sebagian). Artinya bahwa tidak semua orang mukmin jujur membuktikan keimanannya. Sehingga mereka tidak menepati janji mereka kepada Allah. Apa janji mereka? Janji mereka adalah dua kalimah syahadah yang setiap hari mereka ikrarkan dalam shalat-shalat mereka. Bahwa setiap kali seorang mukmin mengucapkan “asyahdu allaa ilaaha illallah”, maksudnya ia mengucapkan “aku berjanji aku siap ikut Engkau ya Allah, aku siap jauhi apa yang Engkau haramkan, dan aku siap laksanakan apa yang Engkau perintahkan. Dan setiap kali ia mengucapkan “wa asyhadu anna muhamaadar Rasulullah” itu maksudnya “aku siapa ikut rasul-Mu. Aku siap mencontoh akhlaknya. Aku siap menjadikannya sebagai teladan dalam hidupku.

Namun sayang dua kalimah syahadat dengan makna seperti ini kurang banyak dipahami oleh kebanyakan orang Islam. Sehingga setiap hari dua kalimah syahadat itu diucapkan tetapi bukan dalam pengertian sebagai sumpah setia, melainkan sekadar ucapan yang kering dan tidak menggerakkan jiwa. Akibatnya umat Islam kurang bersungguh-sungguh mentaati Allah dan rasul-Nya. Dari segi ritual mereka rajin, tetapi dari segi komitmen terhadap akhlak mulia mereka kurang. Sehingga terjadi split personality (pribadi terbelah). Berwajah dua, ikut Allah ok, ikut setan juga ok. Anda bisa menyaksikan di sekitar Anda sejumlah wanita muslimah yang rajin shalat, tetapi di saat yang sama mereka tidak menutup aurat, bahkan banyak dari mereka yang bergaul bebas. Di sisi lain jumlah para koruptor dari orang Islam semakin banyak. Lebih dari itu mereka tidak punya rasa malu berbohong di depan publik. Sungguh tidak akan pernah berkah sebuah generasi yang setengah hati (baca: tidak jujur) mentaati Allah.

Keberhasilan para sahabat dalam memimpin umat pada masa mereka, itu sama sekali bukan karena kecanggihan teknologi yang mereka punya. Fakta sejarah menunjukkan bahwa tidak ada seorang pun dari mereka yang punya HP, Laptop dan bahkan tidak ada di zaman itu kendaraan yang secanggih sekarang. Diceritakan bahwa Jabir bin Abdillah ra. sahabat Rasulullah saw. pernah ingin mengecek sebuah hadits kepada seorang sahabatnya Unais di Mesir. Bayangkan ia harus menempuh jarak yang sangat sejauh antara kota Madinah dan Mesir, hanya dengan kendaraan kuda. Belum lagi mencari seorang Unais di wilayah seluas Mesir, tanpa alat komunikasi. Tetapi semua itu tidak menjadi penghalang. Jabir tetapi maju pantang mundur, dan tanpa ragu sedikit pun. Akhirnya memang Unais didapatkan. Ini menggambarkan betapa mereka sangat sederhana. Namun satu kualitas yang mereka punya dalam mengurus Allah adalah kejujuran iman. Itulah yang kemudian membuat mereka berhasil dalam sejarah.

Kejujuran iman adalah syarat mutlak untuk mendapatkan pertolongan Allah. Dalam berbagai peperangan hampir selalu diceritakan bahwa umat Islam menang bukan karena jumlah pasukan yang lebih banyak, atau senjata yang lebih hebat. Tidak, bukan itu semua. Melainkan mereka menang karena mereka jujur bertaqwa kepada Allah swt. Karenanya dalam Al Qur’an Allah swt. mensyaratkan bahwa untuk mencapai takwa adalah bersahabat dengan mereka yang jujur. Allah berfirman dalam surah At Taubah 119: yaa ayyuhalladziina aamanuu, ittaqullah wa kuunuu ma’ashs shaadiqiin (Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur). Dalam sebuah peristiwa bersejarah pada saat hendak memberangkatkan pasukan Al-Qaadishiyah Umar berkhutbah yang ringkasannya sebagai berikut: Wahai.. bertaqwalah kepada Allah, sebab sesungguhnya kalian dimenangkan adalah karena dosa-dosa musuh kalian. Maka jika kalian berbuat dosa yang sama, kalian akan berhadapan dengan dua kekuatan: kekuatan Allah dan kekuatan musuh-musuh kalian.

Benar, kemenangan para sahabat adalah karena kejujuran iman yang mereka miliki. Mereka tidak setengah hati mentaati Allah. Mereka maksimal menjalankan Islam yang mereka secara lengkap, bukan secara parsial. Islam yang tercermin tidak saja dalam ibadah ritual, melainkan Islam sebagai akhlak di pasar, di wilayah bisnis, ekonomi dan politik. Mereka paham bahwa ketika mereka berdagang mereka harus jujur, karena itu ajaran Islam. Demikian juga ketika mereka memimpin Negara, mereka jujur menjalankan sesuai dengan apa yang Allah ajarkan. Mereka jujur mengutamakan rakyat bukan kepentingan pribadi. Mereka jujur patuh kepada Allah di masjid dan patuh juga kepada-Nya dalam mengurus Negara. Inilah hakikat kejujuran iman. Sungguh tidak ada jalan pagi siapa saja yang ingin meraih kemenangan hakiki kecuali jujur ikut Allah secara maksimal, tanpa basa-basi dan tidak setengah hati. Wallahu alam bisshawab.

DR. Amir Faishol Fath

Tentang DR. Amir Faishol Fath

Lahir di Madura,15 Februari 1967. Setelah tamat Pondok Pesantren Al Amien, belajar di International Islamic University Islamabad IIUI dari S1 sampai S3 jurusan Tafsir Al Qur’an. Pernah beberapa tahun menjadi… [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Hendra

Keyword: , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (15 orang menilai, rata-rata: 9,33 dalam skala 10)
Loading ... Loading ...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
Iklan negatif? Laporkan!
82 queries in 1,877 seconds.