Home / Narasi Islam / Hidayah / Kisah Jannah – Saat Hidayah Menyapa

Kisah Jannah – Saat Hidayah Menyapa

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (kawanimut)

dakwatuna.com – Pada pertengahan tahun 1998, Fadiya lahir dengan selamat, betapa suka citanya Jannah, Rayyan dan Bang Ihsan menyambut kelahirannya. Perbedaan umur 6 tahun, tampaknya membuat Rayyan lebih siap menerima kehadiran seorang adik.

Jannah bersyukur dan bahagia sekali dikaruniai seorang bayi perempuan yang cantik dan sehat, lengkap sudah buah hatinya, sesuai dengan impiannya sejak dulu, anak pertama laki-laki dan anak kedua perempuan.

Lucunya, Rayyan lebih mirip dengannya, kulit putih dengan dagu lancip. Sedang Fadiya, banyak orang mengatakan “Benar-benar anak Papa”, “Takut nggak diaku sama Papa-nya ya”, “Papa-nya banget deh”, bahkan ada yang berkomentar “Nggak ngebuang”.

Jannah sempat bingung juga dengan komentar terakhir, akhirnya mengerti juga dia, maksudnya Fadiya mengambil semua ciri fisik ayahnya, tidak ada yang dibuang.

“Duh…ada-ada saja deh komentar orang”, pikir Jannah sambil tersenyum.

Konon, “nggak ngebuang” adalah istilah khas masyarakat Betawi bila seorang anak mirip sekali dengan salah satu orang tuanya.

Kelahiran Fadiya merupakan tonggak awal dari serangkaian peristiwa penting dalam hidup Jannah. Dengan lahirnya Fadiya dan mencermati kondisi anak-anak remaja saat itu, Jannah sering merenung dan berpikir, “Betapa ingin memiliki anak yang shalih dan shalihah. Supaya keinginan ini tercapai, apa yang saya lakukan?”

Seorang anak perempuan selayaknya akan melihat ibunya sebagai role model-nya, panutannya. Jannah pernah membaca sebuah artikel, bahwa anak adalah peniru yang ulung.

Jadi, sebetulnya kita sudah punya modal yang bagus, yaitu anak-anak akan meniru kita dengan mudah. Tinggal orang tuanya saja yang harus menjadikan dirinya menjadi panutan dan teladan yang benar.

Dan yang tak kalah penting adalah kesadaran orang tua bahwa mau tidak mau mereka itu dijadikan contoh oleh anak-anaknya, dan bertanggung jawab untuk menjadi panutan yang baik untuk anak-anaknya.

Jannah terus berpikir, “Kalau ingin anak perempuannya menjadi anak shalihah, berarti ibunya harus shalihah dulu dong, paling tidak berusaha sekuat tenaga menjadi perempuan shalihah”.

Maka, langkah pertama yang dilakukannya adalah dengan penuh kesadaran memutuskan untuk memanjangkan blus dan rok-nya hingga mata kaki, membuang rok-rok pendeknya dan baju-baju jahiliyah lainnya.

Dia mulai berbelanja aneka macam bentuk dan model jilbab (kerudung) dengan segala perlengkapannya. Sering di malam hari, Jannah mematut diri di depan cermin, mencoba pelbagai kerudung koleksinya, dan dia pun merasakan kenyamanan dan kebahagiaan yang sangat menyelinap dalam relung hatinya.

Dia ingin sekali berkerudung, keinginan itu begitu kuat, namun dia teringat cerita Ulfa, sahabatnya di kantor. Ulfa bercerita ketika dia meminta izin kepada atasan mereka untuk menunaikan ibadah haji, atasan mereka itu mengatakan, “Ingat ya Ulfa, sepulang kamu dari haji nanti, jangan pake tutup-tutup segala.”

Jannah tidak heran dengan ucapan itu, karena dia pernah mendengar selentingan bahwa atasan mereka memang tidak terlalu berkenan dengan kerudung atau jilbab, entah lah kenapa …., padahal dia juga seorang muslim.

***

Selama lebih dari 2 tahun sejak kelahiran Fadiya, kerudung koleksi Jannah semakin banyak saja, semakin beraneka ragam pula rupa dan warnanya, tetapi kerudungnya itu hanya tersusun rapi di lacinya, tertata dengan baik sesuai dengan jenis dan modelnya.

Semakin lama bukan hanya jumlah kerudungnya saja yang bertambah, tetapi pernak-perniknya, seperti daleman kerudung, pin, bros, dan asesoris lainnya.

Saat itu, hati Jannah memang masih gamang untuk mulai berkerudung, ternyata imannya belum kokoh benar untuk menegakkan kewajiban ini. Hatinya masih belum siap menerima segala konsekuensi yang akan diterimanya di kantor bila dia berkerudung.

Memang, tidak ada aturan di kantornya bahwa seorang karyawati muslimah tidak boleh berkerudung atau berjilbab. Sebenarnya, saat itu di kantornya sudah cukup banyak karyawati muslimah yang berkerudung, kebanyakan dari mereka adalah para sekretaris dan non-management staf lainnya, tapi belum ada seorang pun muslimah yang berkerudung dari kalangan manager.

Suatu ketika, Jannah terhenyak “Ya Allah…., bila ajalku tiba tanpa pernah menggunakan kerudung –kerudungku itu, akankah semua kerudung itu mendakwaku di akhirat kelak? Akankah kerudung-kerudung itu memberikan kesaksian yang memberatkan untukku di akhirat nanti? Ke manakah hilangnya keinginan untuk menjadi ibu shalihah itu?”

Jannah pun menangis dengan jiwa yang bergetar dan hati yang sangat pilu, dia segera beristighfar memohon ampunan kepada Allah, dan bertaubat. Dia takut sekali jika kerudung-kerudungnya itu akan mendakwanya di akhirat kelak, karena mereka dibeli tapi tidak pernah digunakan untuk menutup auratnya. Dia sadar, bila dia tidak segera berkerudung, percuma saja taubatnya.

Maka dia singkirkan segala kegalauan dan keresahan hatinya, dia luruskan niat berjilbabnya semata-mata untuk menyongsong ridha Allah, dia teguhkan hatinya, dia bulatkan tekadnya untuk berjilbab dengan istiqamah. Pikirnya, “Memang atasanku mau menanggung dosaku karena tidak tunduk pada perintah Allah untuk menutup auratku? Pastinya, di akhirat kelak, setiap orang akan sibuk dengan dosanya masing-masing. Memang kalau jadi karyawati teladan yang penurut – tapi tidak nurut pada perintah Allah – lebih punya jaminan masuk surga?”

Akhirnya, 1 Ramadhan 1422 Hijriah – di penghujung tahun 2001, “Bismillahirohmaanirrohim….” Jannah memutuskan mulai berkerudung, saat itu Fadiya baru berusia 3 tahun lebih, Insya Allah belum telat untuk menjadi teladan yang baik baginya, pikirnya.

Ketika melihat Jannah berkerudung, Bang Ihsan yang menyerahkan sepenuhnya keputusan berkerudung atau tidak kepada Jannah, bertanya, “Mama serius mau berjilbab terus? Inget ya…, jangan norak.” Tapi raut wajahnya menampakkan rona kebahagiaan.

“Loh…..kok pesannya jangan norak sih”, pikir Jannah.

Jannah pun berpikir kenapa Bang Ihsan berpesan begitu. Usut punya usut, rupanya Bang Ihsan beberapa kali mengalami kejadian yang kurang menyenangkan dengan oknum ibu-ibu berkerudung atau berjilbab. Dia bercerita, pernah suatu kali di pertokoan yang ramai pengunjung, Bang Ihsan tidak sengaja terdorong sehingga sedikit menyenggol seorang ibu berkerudung, ibu itu lalu marah-marah ke Bang Ihsan, walaupun Bang Ihsan sudah minta maaf, ibu itu tetap marah dan bersungut-sungut bahkan bahasa tubuhnya menunjukkan sepertinya dia jijik betul tersenggol Bang Ihsan.

Bang Ihsan tersinggung dengan sikap itu, dia betul-betul terdorong orang, tidak ada niat secuil pun dalam hatinya untuk bersenggolan, ada kesempatan pun dia tidak mau kok bersenggolan.

Bang Ihsan juga bercerita, beberapa kali masuk bilik kecil sebuah ATM (Automatic Teller Machine) setelah seorang ibu berjilbab keluar, maka aroma bilik kecil tercium kurang sedap.

Jannah hanya tersenyum mendengar cerita itu, dia pun berdo’a semoga Allah selalu membimbingnya untuk memiliki akhlaq yang luhur dan istiqamah.

***

Rayyan yang sejak TK bersekolah di sekolah Islam, terlihat sangat senang dan bahagia melihat sang bunda mulai berkerudung.

“Nah….gitu dong Ma, akhirnya Mama nurut juga sama Rayyan. Mama tambah cantik dengan berkerudung, sekarang Rayyan senang sekali dan tambah sayang sama Mama”, katanya.

“Alhamdulillah…sayang, Mama selalu sayang sama Rayyan sampai kapan pun,” kata Jannah dengan hati tersentuh.

“Iya…., Rayyan kan udah bilang sama Mama supaya berkerudung dari dulu”, kata Rayyan.

“Maafkan Mama, sayang, do’ain Mama selalu ya…Kasep 1) ” jawab Jannah dengan hati bergetar.

“Dulu kalau Mama ke sekolah jemput Rayyan, Rayyan suka malu Ma…” lanjut Rayyan.

“Loh…malu kenapa? Bukannya Rayyan senang kalo Mama jemput?” tanya Jannah heran.

“Rayyan malu …. Karena cuma Mama saja yang tidak pake kerudung. Mama-nya temen-temen Rayyan kan berkerudung semua. Untung Mama gak suka pake celana pendek.

Kalau sampai Rayyan lihat Mama pake celana pendek, Rayyan bakal lebih malu lagi. Rayyan gak mau kenal sama Mama! Rayyan gak bakalan nyapa Mama!” jawabnya dengan serius, dan Jannah menangkap ada letupan amarah di dalamnya.

Deg . . . , hati Jannah serasa akan copot terkaget-kaget, sekaligus merasa sangat terharu mendengar Rayyan bercerita dengan berapi-api.

Masya Allah, ternyata Rayyan yang di matanya hanya seorang anak kecil begitu peduli kepadanya, dia merasa malu karena sang bunda belum berkerudung, bahkan dia mengancam tak mau kenal dengannya bila sampai Jannah nekad pamer aurat dengan bercelana pendek.

Sejatinya sikap ini harus dimiliki oleh para muslimah, oleh para suami bila memang ia mengasihi istrinya, oleh para ayah bila ia mencintai anak gadisnya, juga oleh para pemuda bila ia menyayangi adik atau kakak perempuannya.

Sesungguhnya inilah bentuk kasih sayang yang seharusnya kita persembahkan kepada orang-orang yang kita cintai, sebuah cinta sejati karena Allah semata – yang akan berwujud menjadi suatu kegelisahan hati, kegundahan dan keprihatinan, bahkan berubah menjadi sebuah kemurkaan tatkala menyaksikan orang yang kita kasihi bermaksiat kepada Allah, yaitu melanggar hukum dan perintah Allah.

Mungkin Rayyan merasa cape, marah dan frustasi menunggu Jannah berkerudung. Boleh jadi dia sudah kesal dan ingin menumpahkan kemarahannya kepada sang bunda, namun sebagai anak yang masih kecil, dia merasa tak berdaya menghadapi supremasi orang tua.

“Astaghfirullahal ‘azhim…., jadi selama ini Rayyan menungguku untuk berkerudung, selama ini dia memendam rasa malu karena aku tidak berkerudung. Dan dia yakin bahwa dia sudah memintaku dan membujukku untuk berkerudung sejak dulu. Astaghfirullah…, ke mana saja aku selama ini, aku telah mengabaikan nasihat baik anakku? Ampunilah hamba-Mu yang telah zhalim ini ya Allah” renung Jannah dengan hati sedih.

Bisa jadi ini yang disebut egoisme orang tua, tidak mau mendengar nasihat baik dari anaknya, merasa gengsi dan tidak pantas untuk menuruti anak, merasa tidak perlu memperhatikan kata anak, apalagi seorang anak umur 9 tahun, padahal nasihat itu adalah sebuah perintah wajib dari Allah SWT.

“Rayyan…, anakku sayang, jagoan kecilku yang shalih, betapa sesungguhnya engkau mencintai ibumu dengan cara yang benar, cinta karena Allah. Terima kasih Kasep”, batin Jannah dengan penuh haru dan syukur.

Ternyata seorang anak kecil yang belum memahami arti kata “cinta karena Allah”, dengan kepolosan hati dan kemurnian jiwanya lebih mampu mengamalkan kalimat itu dengan baik. Naluri yang suci telah mendorongnya untuk protes dan marah ketika sang bunda bermaksiat kepada Allah. Subhanallah…..

***

Hari Senin pertama di bulan Ramadhan 1422 H – di penghujung tahun 2001, adalah hari pertama Jannah berangkat ke kantor dengan berkerudung. Jannah menguatkan hatinya untuk siap menghadapi segala kemungkinan yang terjadi di kantornya nanti, Allah pasti akan menolongku, pikirnya dengan keyakinan penuh.

Di depan lift, Jannah bertemu dengan asistennya yang aktivis masjid kantor, dia menyapa “Mbak Jannah…….!” Dari pandangannya Jannah merasa dia seperti terlihat lega dan senang sekali melihatnya berkerudung, mungkin dalam pikirannya, “Akhirnya sadar juga nih si mbak”. Senior manager Jannah saat itu, seorang ekspatriat dari Inggris, tampak tidak terlalu peduli dengan penampilan barunya. Mungkin baginya, yang penting tidak mempengaruhi hasil kerja.

Teman-teman dekatnya, terutama para sekretaris yang berkerudung, tampak senang, mereka memberi selamat dan mendoakannya semoga istiqamah.

Salah satu rekan kerjanya, bertanya dengan serius, “Berjilbabnya for good 2) mbak?”

“Iya, Insya Allah, mohon do’anya ya”, jawab Jannah.

Jannah mengira dia bertanya demikian, karena ada beberapa kejadian dimana seorang muslimah berjilbab atau berbusana lebih sopan dan tertutup hanya selama bulan Ramadhan saja dengan dalih menghormati bulan Ramadhan yang suci atau orang-orang yang sedang berpuasa, selepas Ramadhan mereka kembali dengan gaya busananya yang tidak islami.

Ada juga wanita yang berkerudung atau memakai scraf untuk menutup rambutnya sekedarnya saja selama 40 hari setelah kepulangannya dari beribadah haji. Pada hari ke-41, dia lepas kembali kerudung itu. Entah dari mana asal pemikiran ini, Jannah benar-benar terheran-heran dibuatnya.

Saat itu, Jannah adalah muslimah pertama yang berkerudung dari kalangan manager di kantornya yang berjumlah sekitar 300 orang. Rupanya, hal itu menarik perhatian orang nomor satu di kantornya hingga dia bertanya kenapa Jannah berkerudung. Direktur atasannya pun sampai perlu khusus memanggilnya ke ruangannya, dan menanyakan hal yang sama.

Sebelum Jannah menjawab lebih jauh, dia bertanya, “Di sini tidak ada larangan untuk berkerudung bukan?”

“Oh….tidak ada”, jawabnya.

Jannah pun merasa senang dan lega mendengarnya, sambil berpikir tampaknya kekhawatirannya agak berlebihan.

Jannah menjawab, “Alhamdulillah, saya sudah menyadari wajibnya seorang muslimah untuk menutup auratnya. Dengan berkerudung, saya berusaha untuk lebih baik lagi dalam segala hal, saya akan sangat malu bila tidak memberikan hasil kerja yang terbaik, saya akan malu kalau shalat saya ada yang terlewat, saya akan malu kalau ada perilaku saya yang buruk”.

***

Namun tak berapa lama kemudian, kekhawatiran Jannah mulai tampak. Mbak Ari, sekretaris di bagiannya, ketika ada kesempatan berdua saja dengan Jannah, mengajaknya bicara dan membesarkan hatinya.

“Jannah, yang sabar ya…” kata Mbak Ari dengan lembut.

Dengan terheran-heran Jannah menjawab, “Emang kenapa mbak…? Serius amat kelihatannya”.

“Tampaknya ada yang tidak berkenan melihatmu berjilbab, kamu tidak perlu tahu siapa orangnya. Dia bilang, ngapain sih si Jannah pake jilbab begitu, nanti kalau dipanggil nggak denger. Dan beberapa ungkapan lain yang tidak nyaman untuk didengar, saya tak sampai hati untuk menyampaikannya kepadamu.”

Ternyata walaupun Jannah sudah menyiapkan mental, tetap saja hatinya merasa sedih dan sedikit terguncang mendengarnya. Tapi tentu saja, hal itu tidak akan membuatnya mundur dengan keputusannya.

“Ya Allah, hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan. Kuatlah iman kami, teguhkan hati kami di atas agama-Mu, tundukkanlah hati kami agar senantiasa taat kepada-Mu.

Ya Allah…ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau, karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi”.

Catatan Kaki:

1) Kasep adalah istilah bahasa Sunda yang artinya “ganteng atau cakep”.

2) Selamanya

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (14 votes, average: 9,07 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Saat ini saya dan sekeluarga bermukim di Vancouver, BC, Kanada, setelah hampir 6 tahun kami meninggalkan kampong halaman di Bandung-Bekasi. Alhamdulillah, saya sekeluarga dan masyarakat muslim Indonesia di sini telah mendapat kesempatan bertemu dan mendapatkan siraman rokhani dari 3 tokoh redaksi dakwatuna.com, yaitu: - Ustadz Dr. H. Atabik Luthfi, M.A (Agustus 2009), - Ustadz Dr. Amir Faishol Fath (April 2010), - Ustadz Aidil Heryana S.Sosi. (Oktober 2011) saat beliau-beliau berkunjung ke Vancouver, Kanada dan Amerika Serikat. Bahkan kami sekeluarga memperoleh kehormatan dengan berkenannya para ustadz yang kami hormati ini untuk menginap di rumah kami.Dengan kemudahan teknologi dan sarana komunikasi di masa sekarang, walaupun saya tinggal ribuan kilometer jauhnya dari tanah air, di antara waktu istirahat saya di kantor atau kala senggang di rumah, saya tetap bisa membaca banyak artikel agama Islam dari website islami, yang membuat khazanah ilmu agama saya semakin bertambah. Dan dakwatuna.com adalah salah satu website favorit yang sering saya kunjungi.

Lihat Juga

Peringatan International Hijab Solidarity Day di CFD Jakarta