Home / Pemuda / Puisi dan Syair / Mungkin Saatnya Kita Menangis

Mungkin Saatnya Kita Menangis

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (RoL)

dakwatuna.com

Ketika menghidupkan malam sudah hilang kelezatannya…
Ketika Masjid Mulai ditinggalkan…
Ketika berkumpul dengan orang shalih terasa hambar…
Ketika Hati tak lagi merindu…
Ketika diri semakin Terbelenggu…

Ketika kegelisahan dan keraguan bercampur menjadi satu…
Dan seolah ingin melepaskan semuanya tapi diri ini merasa berat…
Ketika akal sehat sudah mulai berkarat…
Melepaskan belenggu dengan sesuatu yang tidak bermanfaat…

Ke mana semangat menggebu yang dulu pernah singgah…
Ke mana cita-cita yang pernah hadir…

Jikalau saat ini Pintu dunia sudah mulai terbuka…
Pintu Syurga semakin terlupa…

Mungkin ini saatnya kita menangis kawan…
Merenungi diri yang tak lagi tajam dalam bersikap…
Seolah tumpul termakan nafsu dunia…
Seolah tunduk pada ego diri…

Betul sebagai manusia mungkin kita tidak sempurna…
Mungkin pula selalu lemah…

Tetapi… apakah itu menjadi alasan…
Apakah itu menjadi acuan…
Dalam menyikapi segala keadaan yang membuat kita lalai dalam bertindak…

Ingat, hidup adalah suatu perjalanan panjang yang berliku…
Ujian dan tantangan adalah suatu bumbu manis yang senantiasa hadir dalam langkah kita…
Bila tiba saatnya nanti mungkin kita akan merasakan arti atas perjalanan kita…

Permasalahannya adalah akankah kita kalah dan terpuruk dalam menghadapi segala keadaan saat ini…
Sesungguhnya hanya orang-orang yang sabar yang akan mendapatkan kemenangan…

Mungkin saatnya kita menangis kawan…
Mengapa jarak terentang dan waktu yang berlalu telah mengubah begitu banyak?
Bukan… Bukan berarti aku sudah baik…

Hanya aku rindu melihatmu,
ada di rumah ALLAH,
ada dalam ikatan mulia yang pernah hadir,
ada dalam dirimu yang dulu,

Duhai Rabbi, kembalikan dia yang dulu
agar kami bisa bersama dalam barisan yang mencintai-Mu…

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (35 votes, average: 9,20 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

hadi susanto
Berani belajar dari kebenaran maupun belajar dari kesalahan. Saat ini telah selesai studi S2 di Taipei (Taiwan) program Industrial Management NTUST.Sekarang beraktivitas sebagai entrepreneur di Bandung.
  • apalah_nama

    Bahkan air mata pun sudah terhenti,,,,

  • Tabahkan hatiku ya ALLAH…

  • setuju ustadz, dakwah adalah transaksi pribadi kita dengan Allah. Semakin erat quwwatu shilah billah kita maka akan ringan lisan dan anggota tubuh kita menyambut seruan dakwah. Pun juga sebaliknya, semakin lemah ma’nawiyah kita, akan banyak masalah menghadang kinerja dakwah kita

Lihat Juga

KH Muh. Amin Noer bersama Sa'duddin

KH Muh. Amin Noer Doakan Sa’duddin jadi Bupati Lagi