Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Ketika Diri Ini Membangun Cinta

Ketika Diri Ini Membangun Cinta

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.comMembahas mengenai kata CINTA memang tidak akan ada habisnya. Seperti yang dituliskan Anis Matta dalam bukunya ‘Serial Cinta’, Seperti angin membadai. Kau tak melihatnya. Kau merasakannya. Merasakan kerjanya saat ia memindahkan gunung pasir di tengah gurun. Atau merangsang amuk gelombang di laut lepas. Atau meluluhlantakkan bangunan-bangunan angkuh di pusat kota metropolitan. Begitulah cinta. Ia ditakdirkan jadi kata tanpa benda. Tak terlihat. Hanya terasa. Tapi dahsyat. Seperti banjir menderas. Kau tak kuasa mencegahnya. Kau hanya bisa ternganga ketika ia meluapi sungai-sungai, menjamah seluruh permukaan bumi, menyeret semua benda angkuh yang bertahan di hadapannya. Dalam sekejap ia menguasai bumi dan merengkuhnya dalam kelembutannya. Setelah itu ia kembali tenang. Demikianlah cinta. Ia ditakdirkan jadi makna paling santun yang menyimpan kekuatan besar. Seperti api menyala-nyala. Kau tak kuat melawannya. Kau hanya bisa menari di sekitarnya saat ia mengunggun. Atau berteduh saat matahari membakar kulit bumi. Atau meraung saat lidahnya melahap rumah-rumah, kota-kota, hutan-hutan. Dan seketika semua jadi abu. Semua jadi tiada. Seperti itulah cinta.

Inilah rangkaian peristiwa yang membuat cinta diidentikkan dengan perasaan (feeling). Bahkan tayangan tentang cinta di Indonesia hampir ada di setiap bahasan media cetak dan elektronik dari mulai iklan, sinetron sampai layar lebar. Pagi sampai pagi lagi tayangan sinetron di televisi Indonesia hampir semuanya membicarakan tentang cinta. Ceritanya tak akan ada habisnya. Hingga tak hayal ketika sikap dan perilaku anak-anak dan remaja tidak jauh dari yang digambarkan dalam acara televisi tersebut. Coba perhatikan pengalaman jatuh cinta kita masing-masing. Ada kekuatan maha dahsyat yang ada di dalam diri, yang membuat badan, jiwa dan pikiran ini demikian perkasanya. Seolah-olah disuruh memindahkan gunung pun rasanya bisa. Disuruh mengecat langit pun mampu. Tak ada yang tak mungkin. Tak ada yang mustahil. Itulah cinta.

Tengoklah bukti cinta itu dalam sejarah kemerdekaan Indonesia, dua orang yang gagah berani dan memiliki tekad kuat untuk mendeklarasikan proklamasi, kalau saja tanpa cinta, Bunga Karno dan Bung Hatta terhadap bangsa, negara dan agama, mungkin Indonesia tidak akan seperti sekarang. Belum lagi Jenderal Soedirman yang dengan badannya sakit-sakitan ketika memimpin pasukan dalam perlawanan melawan Belanda, kalau tanpa diiringi modal cinta yang mengagumkan. Seorang Ibu yang merelakan setiap jerih payahnya untuk membahagiakan cinta bersama suami dan anaknya sekalipun hati seorang Ibu sedang sakit tetapi tetap tulus menampakkan kecintaan itu kepada suami dan anak-anaknya. Itulah cinta yang maha dahsyat yang merubah keadaan menjadi lebih indah dengan adanya kekuatan spiritual.

Sebagai umat muslim selayaknya sudah tahu seseorang yang menjadi dambaan Allah ta’ala yaitu Rasulullah Muhammad shalallahu alaihi wassalam, yang dengan kecintaan Allah kepada kekasihnya itu rela membimbingnya setiap saat untuk menjunjung sebuah perubahan besar di dunia. Begitu pun Rasulullah Muhammad shalallahu alaihi wassalam, dengan kecintaannya yang amat besar kepada umatnya hingga akhir hayatnya pun mengatakan, “ummatii, ummatii, ummatti…” yang dibisikkan ke telinga Ali.

Hadits Rasulullah yang inspiratif dan mendalam tentang cinta. Dari Anas RA, dari Nabi SAW beliau bersabda, “Ada tiga perkara barangsiapa tiga hal itu ada pada dirinya, maka ia menjumpai manisnya iman, yaitu jika Allah dan RasulNya lebih dicintainya ketimbang selain keduanya, dan jika cinta kepada seseorang, dimana tidak mencintainya kecuali karena Allah dan jika benci kembali kepada kekafiran sebagaimana benci apabila dilempar ke dalam api neraka.” (Rowahu al-Bukhary Juz I Bab Halawatul Iman).

Beliau sudah jauh-jauh hari memberikan makna cinta yang ada dalam diri manusia dengan hanya ditujukan kepada Allah ta’ala. Sejatinya cinta bukan saja hanya berkutat dengan permasalahan duniawi saja melainkan cinta yang sesungguhnya bagaimana ia menghubungkan hati dengan sang Khaliq. Kalau saja seseorang rela berbuat apapun dengan tidak mengindahkan segala macam rintangan dan bersikap baik terhadap orang yang dicintainya, seharusnya cinta yang maha dahsyat itu juga bisa diwujudkan ketika kecintaan kita kepada Allah dan Rasulullah. Ketika kecintaan dan keimanan itu beriringan, maka jangan heran keindahan cinta akan menjadikan hidup ini begitu mulia. Hidup yang dijalankan menjadi merendah kepada Allah ta’ala dengan cara menjalankan semua perintah dan menjauhi laranganNya. Selalu bangun, bersimpuh di 1/3 malam yang akhir. Semua itu berakar karena cinta dan diliputi kerinduan yang sangat, sehingga berulang dan mendalam. Apalagi jika sudah benar – benar jatuh cinta. Jika kematian pun datang maka yang dirasa adalah bahagia dengan penuh kesyukuran dan kepasrahan yang mendalam karena akan bertemu Sang Kekasih yang Maha Mengasihi; Allah ta’ala.

Perlu perjuangan tersendiri untuk memahatkan kata cinta dalam hati kepada sang Khaliq. Perjuangan itu harus dimulai dan diniatkan, bukan saja menjadi angan-angan belaka yang menjadi derai pikiran kita setiap waktu. Marilah, mulai sekarang sadarilah bahwa jatuh cinta bukan sekedar masalah perasaan saja, temukan dan bangunlah jatuh cinta sebagai kekuatan spiritual. Jatuh cinta bisa digunakan sebagai sarana bagi orang yang berjalan menekuni lorong – lorong keimanannya untuk menemukan manisnya iman. Sehingga tidak ada satu kata pun yang mewakili untuk menggambarkan rasa cinta yang telah kita bangun hanya kepada Allah ta’ala. Dari Zaid bin Tsabit RA, dia mengatakan, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya orang yang menjadikan dunia sebagai niatnya, Allah akan menjadikan kefakiran di depan matanya dan Allah akan cerai – beraikan kebutuhannya. Dan dunia tidak akan datang kepadanya, kecuali yang telah ditetapkan baginya. Dan barang siapa yang menjadikan akhirat sebagai niatnya, Allah akan menjadikan kekayaan di dalam hatinya, Allah akan mencukupi kebutuhannya dan dunia datang kepadanya dalam keadaan tunduk.” (Rowahu Ibnu Majah)

Oleh karenanya, mari kita bangun cinta. Seperti kecintaan kita kepada seseorang, dimana semua unsur badan dan jiwa begitu dahsyatnya dalam menuangkan rasa cinta itu tanpa memikirkan segala macam tantangan yang ada, demikian juga kita tunjukkan dengan jatuh cinta kepada Allah dan Rasulullah Muhammad shalallahu alaihi wassalam, yang berbuah keimanan seperti yang Allah ta’ala janjikan. Berangkat dari sini kemudian Allah ta’ala mengangkat pribadi kita setinggi-tingginya ke rangkaian realita yang nantinya disebut Luar Biasa. Ya, itulah cinta, Ia mendamaikan, menggembirakan, mencerahkan, mengagumkan dan menakjubkan. Sudahkah kita bangun cinta secara benar dan ikhlas, setelah kita mendambakan diri ini termasuk orang-orang beriman?  Jika belum, mari kembangkan diri lebih baik lagi, bukan target dan pencapaian – pencapaian tahunan yang kita cari, tetapi kematangan diri dalam persiapan kembali ke surgawi. Dan jalan – jalan cinta sudah menunggu, dengan sabarnya mereka menanti, kapan kita jatuh cinta di jalan Allah dan RasulNya ini.

di sana, ada cita dan tujuan
yang membuatmu menatap jauh ke depan
di kala malam begitu pekat
dan mata sebaiknya dipejam saja
cintamu masih lincah melesat
jauh melampaui ruang dan masa
kelananya menjejakkan mimpi-mimpi

lalu disengaja malam terakhir
engkau terjaga, sadar, dan memilih menyalakan lampu
melanjutkan mimpi indah yang belum selesai
dengan cita yang besar, tinggi, dan bening
dengan gairah untuk menerjemahkan cinta sebagai kerja
dengan nurani, tempatmu berkaca tiap kali
dan cinta yang selalu mendengarkan suara hati

teruslah melanglang di jalan cinta para pejuang

menebar kebajikan, menghentikan kebiadaban, menyeru pada iman
walau duri merantaskan kaki,
walau kerikil mencacah telapak
sampai engkau lelah, sampai engkau payah
sampai keringat dan darah tumpah

tetapi yakinlah, bidadarimu akan tetap tersenyum
di jalan cinta para pejuang

(Salim A. Fillah)

Referensi:

  1. Al-Qur’anul Kariim
  2. Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfury “Sirah Nabawiyah”
  3. Anis Matta “Serial Cinta”
  4. Salim A. Fillah “Jalan Cinta Para Pejuang
  5. Ustadz Faizunal Abdillah “Jatuh Cinta”

 

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (9 votes, average: 9,89 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Haris Dianto Darwindra
Kepala Departemen Syiar Islam Media, Forum Komunikasi Dakwah Islam Fakultas (FKDF) Universitas Padjadjaran 2012

Lihat Juga

Ilustrasi. (dreamstime.com)

Khutbah Idul Fitri 1437 H: Tiga Pilar Utama Membangun Peradaban Islam yang Agung