Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Yang Muda yang Berkarya

Yang Muda yang Berkarya

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (donialsiraj.wordpress.com)

dakwatuna.comPemuda itu wajarnya identik dengan idealisme dan semangat kerja keras. Dua modal yang akan sangat mubadzir apabila tidak didayagunakan. Sebagaimana mungkin telah kita ketahui bahwa pemuda ialah warga negara Indonesia yang memasuki periode penting pertumbuhan dan perkembangan yang berusia 16 (enam belas) sampai 30 (tiga puluh) tahun (UU No. 40 Th. 2009). Karena memiliki dua hal itulah sepatutnya kita yang notabenenya masih tergolong pemuda sudah mulai melakukan segala aktivitas kita minimal dilandasi dengan dua nilai itu.

Orang-orang besar saat ini adalah mereka yang berjuang keras dengan dibalut idealisme mapan sejak mereka menjadi mahasiswa. Mengacu kepada KBBI, idealisme sangat erat kaitannya dengan patokan, keyakinan, prinsip, atau pedoman dalam hidup yang kita yakini sebagai hal yang sempurna dan benar. Tentu idealisme tertinggi kita sebagai Muslim di sini ialah ajaran Islam yang berlandaskan Al-Qur’an dan Al-Hadits.

Lalu, dari mana kita bisa mengasah sekaligus belajar mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari nilai keras dan bekerja dengan idealisme? Apakah yang kita pelajari dalam perkuliahan sehari-hari tidak cukup untuk itu? Dalam sebuah kesempatan wawancara dengan majalah Sabili, DR. HM. Syahrial Yusuf, MM, MBA, pengusaha dan pendiri LP3i, mengisahkan bahwa ada dua hal yang sebaiknya jadi prioritas kita saat masih diberi kesempatan menjadi salah satu member “kelompok intelektual”, yaitu: AKTIF BERORGANISASI dan ASAH JIWA ENTREPRENEURSHIP.

Sepertinya sudah menjadi rahasia umum bahwa partisipasi aktif kita di organisasi diyakini akan membawa dampak positif terhadap pelakunya. Menurut Ust. Hepi Andi Bastoni, paling tidak ada empat keuntungan dari aktifnya kita di organisasi:

1. Mengetahui Potensi dalam Diri Kita

Kita akan mendapat banyak kesempatan untuk melakukan banyak hal positif. Pada waktunya nanti kita akan menemukan di bidang apakah potensi terbesar yang kita miliki. Dengan mengetahui potensi terbesar dalam diri akan memudahkan kita melangkah menuju masa depan kita.

2. Melatih Berlapang Dada Saat Beda Pendapat

Tidak mudah menerima perbedaan pendapat dalam menyikapi suatu hal. Dalam dinamika organisasi, beda pendapat adalah hal yang biasa. Kita akan selalu berusaha mencari titik temu saat terjadi hal ini. Jika pun belum ditemukan benang merahnya, maka dengan “naluri organisatoris”-nya, maka masing-masing individu tadi akan berusaha saling menghormati. Bahkan apabila pendapat orang lain yang diterima sebagai suara organisasi, kita akan mencoba untuk berlapang dada menerimanya sebagai bagian dari organisasi itu pula.

3. Terbiasa Berargumentasi

Contoh sederhananya ialah masih banyaknya dijumpai politisi dari parpol Islam yang belum lihai berargumentasi ilmiah sehingga bisa meyakinkan rekan sesama politisi. Pernah ada kejadian terjadi debat antara politisi. Karena mungkin kehabisan ‘amunisi’, tiba-tiba seorang politisi membawa argumen yang berdasarkan pada salah satu hadits Rasulullah SAW. Spontan rival debatnya dengan enteng hanya mengatakan, “Ini bukan masjid, Bung!” Memang tidak salah kita membawa Al-Qur’an atau Al-Hadits untuk kita sampaikan sebagai dasar argumen kita. Tapi, harus kita ketahui pula bahwa tidak semua orang bisa menerimanya. Di sinilah letak pentingnya kebisaan kita menyusun argumentasi yang baik, runtut, berbobot, dan kontekstual. Kehidupan organisasi akan melatih kita bagaimana untuk bisa melakukannya. Kata Ust. Hepi Andi, “Pintar itu penting. Tapi, bagaimana cara mengemas argumen kita dengan baik adalah hal lain.”

4. Memiliki Banyak Kenalan

Saat ini sudah terbukti, mereka yang survive ialah mereka yang menggenapi skill pribadi dengan luasnya networking (jaringan). Mungkin inilah salah satu bukti sabda Rasulullah SAW. : “Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezkinya, dan ingin dipanjangkan usianya, maka hendaklah dia menyambung silaturahim.”(HR. Bukhari)

Saking pentingnya keberadaan pengusaha/ wirausaha (entrepreneur), sampai-sampai dijadikan salah satu indikator maju atau tidaknya suatu negara. Berdasarkan apa yang Ust. Hepi Andi sampaikan dan ternyata Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah, Syarifuddin Hasan (26/2/2011), pernah menyampaikan melalui surat kabar Kompas bahwa jumlah wirausaha Indonesia baru mencapai 0,24% dari seluruh jumlah penduduk Indonesia. Saat ini jumlah penduduk Indonesia mengacu pada apa yang disampaikan oleh Menteri Dalam Negeri, Gamawan Fauzi, ialah sekitar 259 juta jiwa (19/9/2011). Bisa kelihatan betapa sedikitnya jumlah entrepreneur negeri ini. Sebagai gambaran kita saja, Amerika Serikat sebagai negara maju 11% penduduknya ialah entrepreneur. Sementara itu, jumlah entrepreneur di negeri tetangga kita, misalnya Singapura sudah mencapai 7% dan Malaysia 5% dari total penduduknya. Sekadar untuk diketahui, ternyata suatu negara akan bisa menjadi negara maju jika jumlah entrepreneur mencapai angka minimal 2%. Apakah kita akan diam saja?

Perlu kita ketahui pula bahwa ada sebuah riset menyimpulkan bahwa rata-rata ambang batas kesuksesan secara materi seseorang ialah antara umur 40-50 tahun. Artinya, ketika sudah berumur 40 tahun dan belum banyak yang bisa kita dapatkan di dunia ini, maka hidup kita bisa dianggap tidak sukses secara materi. Padahal idealnya seorang Muslim itu kuat iman, keilmuan, jasmani, dan juga ekonominya. Satu sama lain akan saling menunjang optimalnya peran kita sebagai bagian dari barisan penyeru kebaikan (da’i). Riset ini seakan mengamini apa yang Allah SWT nyatakan dalam QS Al-Ahqaf: 15. Secara eksplisit di ayat ini digambarkan bahwa pada usia 40 tahun seorang Muslim sebaiknya sudah mapan secara ekonomi, tinggal saatnya bersyukur terhadap karunia tersebut saja.

Sebagai tambahan, bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, ada 4 hal yang menjadi parameter kebahagiaan seorang Muslim, yaitu:

1. Istri/ suami yang shalih/ shalihah

2. Rumah yang luas

Dr. Yusuf Qaradhawi: Yang dimaksud “rumah yang luas” ialah rumah dengan minimal memiliki 6 kamar.

3. Kendaraan yang nyaman

4. Tetangga yang shalih dan shalihah

Di sinilah peran kita diperlukan untuk partisipasi aktif dan berinisiatif tinggi dalam upaya menciptakan lingkungan rumah yang kondusif untuk menjalankan keislaman kita.

Kita tidak tahu kapan malaikat maut akan menjemput kita, jadi jangan terlena dalam masa menunggu dan menunggu. Manfaatkan masa muda kita untuk masa depan kita. Jangan sampai kita tersadar saat usia diri ini sudah kembali lemah seperti saat anak-anak atau bayi dahulu. Ust. Hepi Andi berujar, “Salah satu hakikat manusia itu ialah lemah dan pada saatnya nanti akan kembali lemah”. Akan tetapi, tetap harus kita usahakan untuk menyeimbangkan antara kepentingan pribadi dan umat. Hal ini penting karena sebagai ciri khas seorang Muslim untuk selalu mengupayakan menjadi pribadi yang bermanfaat bagi sebanyak mungkin makhluk Allah SWT yang lain. Kesimpulan sederhana dari itu semua ialah: Mari mulai gelorakan semangat “Yang Muda Yang Berkarya” saat ini juga! Hari esok adalah misteri yang hanya Allah mengetahui secara pastinya. Tugas kita ialah berkarya dulu untuk hari ini. Biarkan Allah Azza Wajalla dengan iradah-Nya menentukan apa yang akan terjadi nanti.

Keep Hamasah.

Allahu Akbar….!

Tulisan ini dikompilasikan dari berbagai sumber dan banyak mutiara hikmah yang disampaikan Ust. Hepi Andi Bastoni (penulis dan mantan jurnalis Islam) pada agenda Rihlah dan Silaturahim KAMMI Komisariat Madani pada tanggal 9 Dzulhijjah 1432 H/ 5 November 2011 M bertempat di Pendopo rumah beliau di Perum Taman Kenari, Bogor. 

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (7 votes, average: 9,71 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Nur Afilin
Aktivis Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI).

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Pendidikan Pemuda dan Penyakit Sekolahisme