Home / Pemuda / Puisi dan Syair / Ketika Sepi Semakin Menyepi

Ketika Sepi Semakin Menyepi

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com

Kulihat sepinya sebuah peradaban
Ketika sepinya kegiatan dibarengi kesepian semangat
Inilah potret para pengemban peradaban
Yang ukhuwahnya sudah mulai memudar

Kulihat gersangnya semangat pewaris kejayaan
Duduk termenung penuh kesenduan
Seakan-akan habis ikut muhasabah seharian
Lantaran sepinya komitmen kedatangan jundi-jundi pilihan

Kulihat generasi pilihan semakin suka menyendiri
Seakan-akan surga untuknya sendiri
Tak peduli lagi dengan keadaan teman seperjuangan
Yang tertatih letih atasi masalah yang ganas menerjang

Kulihat pewaris tahta dakwah mulai lelah
Menanggung beban yang semakin payah
Kulihat nyali jundi-jundi dakwah tak lagi merah
Karena digerogoti nyali putih yang kuat mewabah

Kulihat lisan-lisan tak lagi berkata
Saudaraku ke mana kau melangkah selama ini
Sudah lama ku tak lihat wajahmu di sisi
Adakah beban-beban yang menggelayut di hatimu
Ceritakanlah dan aku akan setia mendengarkannya
Ungkapkanlah boleh jadi aku bisa meringankannya
Atau minimal berat beban di punggungmu terkurangi

Kulihat HP-HP kita semakin mahal harga belinya
Tapi anehnya semakin murah kegunaannya
Tak lagi HP ini digunakan untuk mengirim sebait taujih
Mengalirkan kesejukan doa untuk sirami hati yang gersang
Mengirimkan secercah cahaya untuk sinari hati yang gulita

Kulihat tangan kita mulai jarang bergandengan
Ku juga mulai melihat kaki jarang berjalan beriringan
Mungkin karena kesibukan yang mulai menggeruskan kebersamaan
Atau keinginan menikmati sepi di tengah keramaian

Kudengarkan curahan hati sebuah masjid
Saudaraku, katakanlah pada yang lainnya
Aku mulai merasa kedinginan dan kesejukan yang meremukkan tulang
Tak ada lagi kebersamaan tamuku yang menghangatinya
Kini tamuku tak betah berlama-lama
Sehabis menumpang shalat mereka segera meninggal kau sendiri
Tak ada lagi tegur sapa di antara tamu-tamuku itu
Bahkan terkadang kudapati sekedar salam pun tak
Sempat diucapkan sesama mereka

Di mana kehangatan ukhuwah mereka dahulu
Saat bersama-sama membersihkan karpet dan lantaiku
Saat bersama-sama saling menanya kabar
Saat bersama-sama mendengungkan lantunan Qur’an
Saat bersama-sama merembukkan suatu persoalan

Kudengarkan kisah mereka yang saling menyalahkan
Tapi tak ada upaya untuk saling membetulkan
Kudengarkan mereka mulai berbicara militansi yang hilang
Tapi tak pernah sungguh-sungguh untuk mengembalikan keadaan

Kudengarkan keluh kesah mereka
Menangisi perubahan keadaan
Kulihat semangat itu mulai kembali menyepi
Sesepi perubahan kehidupan alam saat malam menjelang

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (8 votes, average: 8,25 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Sardini Ramadhan
Staf di Bappeda Kabupaten Ketapang. Alumni FKIP Universitas Tanjungpura Pontianak.
  •  Ya
    Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui bahwa hati-hati ini telah berkumpul
    untuk mencurahkan mahabbah hanya kepada-Mu, bertemu untuk taat kepada-Mu,
    bersatu dalam rangka menyeru (dakwah di jalan)-Mu, dan berjanji setia untuk
    membela syariat-Mu, maka kuatkanlah ikatan pertaliannya, ya Allah, abadikanlah
    kasih sayangnya, tunjukkanlah jalannya, dan penuhilah dengan cahaya-Mu yang
    tidak akan pernah redup, lapangkanlah dadanya dengan limpahan iman dan
    keindahan tawakal kepada-Mu. Hidupkanlah dengan makrifat-Mu dan matikanlah
    dalam keadaan syahid di jalan-Mu. Sesungguhnya Engkau sebaik-baik pelindung dan
    sebaik-baik penolong.

  • Raden Maryantods

    Tak sekedar kata!!!

Lihat Juga

Ilustrasi. (travelhajidanumroh.com)

Khutbah Idul Adha 1436 H: Tiga Pesan Moral Ibadah Haji Sebagai Spirit Kebangkitan