16:41 - Rabu, 23 April 2014
Muhammad Arzil Yusri

Pesan Surga dari Sekarang

Rubrik: Artikel Lepas | Oleh: Muhammad Arzil Yusri - 23/02/12 | 08:30 | 29 Rabbi al-Awwal 1433 H

Ilustrasi (endricahyo2safi3.wordpress.com)

dakwatuna.com - “Are we afraid to (of, pen) death…? I’ll be by killing or by cancer… the same thing. We are all waiting for the last day of our life. Nothing will be changed. If it is by cardiac risk or by Apache. But I prefer to be by Apache…!”

Masih ingat kan dengan kata-kata di atas? Kata-kata yang pernah diungkapkan oleh pejuang Islam di era serba mesin ini. Seorang mujahid yang tak rela tanah air dan tempat kelahirannya dirampas oleh zionis Israel dan tak rela kiblat umat Islam yang pertama di jarah oleh binatang –binatang itu.

Yang mana kebanyakan dunia Islam hanya mengutuk, tanpa berbuat untuk kemerdekaan mereka. Tanpa Anda kutuk pun mereka zionis Israel jauh-jauh hari telah dikutuk oleh Allah.

Apa yang beliau ungkapkan? Sebuah kata penyemangat perjuangan beliau, itulah yang beliau ungkapkan sehingga beliau berani berada di garda paling depan untuk menentang musuh-musuh Allah.

“Apakah kita takut dengan kematian? (Sama saja) saya akan mati dengan dibunuh atau dengan kanker. Kita semua menanti saat akhir kehidupan kita. Tidak ada yang berubah. Apakah berakhir dengan berhentinya detak jantung atau dengan helikopter Apache. Tapi saya lebih senang mati dengan Apache.

Sebuah pengakuan dari hamba yang menjadikan Allah tujuan hidupnya di dunia, yang mencintai Allah dan rasul-Nya melebihi cinta kepada selainnya. Sebuah cita-cita suci nan mulia yang terlontar dari mulut para perindu surga.

Percobaan demi percobaan yang dilakukan oleh zionis Israel untuk melenyapkan dirinya dari bumi ini, namun gagal dan beliau belum juga menemui ajalnya, sehingga waktu itu tiba, sebuah harapan dan cita-cita yang pernah ia harapkan, akhir nya beliau temui juga ketika rudal Yahudi menembakkan mobil yang beliau tumpangi pada 17 April 2004 dan beliau sudah membayangkan kematian hingga akhirnya beliau meraih apa yang dicita-citakan: mati dengan Apache. Beliau adalah Asy-Syahid Abdul Aziz Ar-Rantisy.

Di sisi lain kita lihat, seorang pahlawan Islam yang merindukan taman impian (surga) yang juga bercita-cita ingin mati di ujung pedang untuk menegak agama Islam di bumi Allah ini, yang ingin merasakan kedamaian hidup di bawah panji-panji keislaman.

Demi cita-cita yang mulia yang ia emban, ia berperang untuk Allah dan Rasulullah sampai-sampai seratus medan jihad ia jalani sehingga beliau dikenal dengan “Pedang Allah. Beliau adalah sang mujahid Khalid bin Walid.

Kita kenal sosok Khalid Bin Walid, seorang pejuang Islam yang dipecat oleh Khalifah Umar Bin Khaththab sebagai panglima perang, sehingga seorang sahabat bertanya kepada beliau ; Ya Khalid ! Kenapa Anda masih semangat berjuang, sedangkan sekarang Anda telah dipecat oleh Khalifah? Dengan tenang sang mujahid menjawab; Demi Allah, sesungguhnya aku berperang bukan karena Umar dan jabatan, ketahuilah aku berperang hanya karena ingin menegakkan Agama Allah ini.

“I fought in so many battles seeking martyrdom that there is no place in my body but have a stabbing scar by a spear, a sword or a dagger, and yet here I am, dying on my bed like an old camel dies. May the eyes of the cowards never sleep.”

Perencanaan matang telah beliau siap kan untuk menemui ajal nya di ujung tombak yang ingin merasakan nikmat nya syahid itu sendiri namun takdir menjawab keinginannya dengan syahid di tempat tidur.

Dua sosok pejuang yang sama-sama hidup untuk Allah dan rasul-Nya, yang sama-sama berjuang untuk agama Allah dan Rasul-Nya. Pahlawan terikat hati kepada Khaliq, sehingga cinta nya kepada Allah dan Rasul melebihi cinta kepada yang lainnya.

Mereka hidup di zaman yang sangat jauh berbeda, sang Khalid bin Walid hidup di masa Rasulullah, di masa awal tersebarnya Islam, awal dari keikutsertaan sang Khalid di medan tempur adalah ketika dia berperang memusuhi Islam sehingga masuk Islam nya beliau dan ikut di medan jihad sehingga menaklukkan negeri-negeri kafir dan harus takluk di bawah kedamaian Islam.

Di sisi lain, asy-syahid Abdul Aziz Arrantisy seorang pejuang Islam yang hidup di era serba mesin, sehingga yang beliau hadapi adalah dentuman meriam , senjata-senjata api, dan tak asing juga dengan ledakan-ledakan bom dan roket-roket pembunuh yang dimiliki oleh musuh-musuh Allah.

Ini pelajaran berarti bagi kita, bahwa sampai kapan pun musuh-musuh Allah tak akan pernah rela Islam itu jaya, tak akan pernah rela Islam menikmati kedamaian hidup, sehingga mereka berupaya sekuat apapun dan dengan cara bagaimanapun agar umat Islam ini lumpuh dan mudah di ombang ambing oleh musuh-musuh Allah.

Sementara hari ini, umat Islam masih disibukkan oleh perbedaan-perbedaan kelompok, sehingga tak menutup kemungkinan juga umat ini memusuhi saudaranya sendiri, mengikuti hawa nafsu yang dihiasi oleh syaitan dengan mengatakan kelompok dialah yang paling hebat, kelompok dialah yang paling keren, sehingga menganggap remeh kelompok yang lain , bahkan tak ayal lagi terjadi peperangan di antara umat Islam itu sendiri. Na’udzubillah

Perjuangan belum usai, kita lihat di sana berbagai cara akan mereka lakukan untuk menghancurkan Islam ini, buka mata hati, di sana masih ada saudara kita yang terluka, negeri mi`rajnya Rasulullah, sekarang mereka diembargo selama empat tahun, dipenjara dan mereka hidup di bawah derita, ribuan nyawa telah lenyap oleh kekejaman zionis, masih adakah di antara kita yang berbicara, ”emang gue pikirin”. Dimana hatimu kawan, di sana masih ada umat Islam yang terluka.

Semangat dan keikhlasan Khalid bin Walid dan assyahid Abdul Aziz akan sela lalu hidup, mereka jauh hari telah merencanakan seperti apa kematian mereka nanti, dan mau dalam keadaan bagaimana? Telah mereka rencanakan. Semua ini tak lepas dari rasa cinta mereka kepada Allah dan Agama ini. Dan sekarang sudahkah kita merencanakan, mau seperti apa akhir hidup kita nanti?

Wallahu`alam bishowab.

Muhammad Arzil Yusri

Tentang Muhammad Arzil Yusri

Mahasiswa Universitas Al-azhar Cairo Mesir Fakultas Ushuludin-Hadits [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Hendra

Keyword: , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (12 orang menilai, rata-rata: 8,75 dalam skala 10)
Loading ... Loading ...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
  • 1984 hits
  • Email 1 email
Iklan negatif? Laporkan!
90 queries in 0,992 seconds.