Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Bagaimana Bisa?

Bagaimana Bisa?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.comSuatu malam, selesai belajar di kampus tercinta, kutemui keluargaku sedang bercengkerama di ruang tengah sambil menonton suatu acara di salah satu stasiun televisi swasta. Sudah tak asing lagi kalau yang tersaji adalah pameran kurang bahan dan atraksi berlebihan dari para manusia-manusia di belakang layar teve itu. Langsung saja aku meminta mereka memindahkan saluran, karena ku sadari ada adik sepupuku yang masih duduk di SD dan itu, tayangan seperti itu, sudah jelas akan merecoki pikiran polosnya.

Namun permintaanku tak ada yang menggubris. Ketika hendak meminta untuk ke dua kali, aku sempat terpaku dengan diputarnya sebuah lagu zaman dulu yang baru ku dengarkan lagi kini. Simaklah:

‘Ku duduk dalam sepi, ‘ku melamun sendiri
Mau apa aku ini, tak kupahami
Semua orang pasti ingin dapat raih bahagia
Kalau hanya itu aku pun t’lah mengerti

Kadang ingin pergi, kadang ingin sendiri
Sampai kini ‘ku tak tahu pasti

Aku hanya bisa bermimpi
‘Ku hanya ingin hidup bahagia oh…
Aku hanya bisa bernyanyi
Aku tak tahu apa yang kucari di muka bumi

Kita pun mungkin familiar dengannya. Namun cobalah simak sekali lagi. Apakah ada perbedaan, ketika kita rajin melantunkannya dulu, dengan saat ini, setelah sekian lama tak terdengar lagi gaungnya.

Ya!

Dulu, mungkin kita enteng saja menyanyikannya sepenuh hati-di kamar mandi pula-tanpa mungkin memahami betul maknanya. Yang penting asyik saja. Begitu kalau temanku bersua. Namun, sobat, seiring perjalanan hidup kita, seperti yang ku alami saat ini-seperti kataku tadi-aku terpaku dan terdiam sejenak sambil menceracau kecil: Ya, Bagaimana Bisa?

Bagaimana bisa kita meraih bahagia, jika di dunia ini saja kita tak tahu ’mau apa’?

Lantas, bagaimana dengan ungkapan di dalamnya yang mengatakan, Aku tak tahu apa yang ku cari di muka bumi…?

Oh, bukankah sungguh malang? Sia-sia sajakah kita hidup dan hadir di bumi Allah Swt ini, tanpa makna, dan tanpa tahu apa yang sebenarnya harus kita lakukan, lebih jauh, tanpa mengerti untuk apa sebenarnya Rabbul ’Alamin mengirim kita ke salah satu tempatnya-bernama bumi-yang terhampar begitu luas di antara banyaknya tempat di jagat raya ini?

Atau jangan-jangan, masih ada di antara kita yang ’menganut’ sistem hidup seperti dalam lagu di atas? Naudzubillahimindzaalik.

Jika ya jawabannya, jadi, ke mana saja selama ini? Bukankah sudah terpampang dengan sangat jelas bahkan sejak 14 abad yang lalu lewat manusia mulia baginda Rasul Muhammad Saw:

“Dan Aku tidak menjadikan Jin dan Manusia melainkan untuk menyembah-Ku.” (QS. Adh-Dhāriyāt: 56)

Lalu, masih mau bilang, kalau kita di bumi ini tidak tahu mau apa?

Tidakkah semua yang terpampang di depan mata kita merupakan banyak hal yang dapat kita renungi, mengenai kekuasaanNya, ke-Maha Hebat-anNya, Maha Sempurnanya Ia dalam menciptakan semua yang ada di alam ini?

Tak pernahkah barang sedikit saja, kita membuka mata kita, dan bertanya dalam hati tentang penciptaan langit dan bumi yang begitu luasnya? Bukankah Ia adalah yang Maha Luas?

Betapa indahnya bunga-bunga nan ranum dan beraneka warna yang membuat hati kita menjadi senang karena keindahannya?

Bagaimana dengan Al-Aziz? Ia pastilah yang Maha Indah. Melebihi keindahan bebungaan dan pesona purnama di langit malam yang menyejukkan mata.

Sobat, jangan sampai kita termasuk orang-orang yang merugi. Merugi karena waktu. Merugi karena segala potensi yang di rahmatkan kepada kita tak kita gunakan untuk semakin memujiNya. Tersungkur di hadapanNya karena bergetarnya hati kita melihat setiap jengkal tanda-tanda kekuasaanNya yang begitu nyata.

Setelahnya, dengan otomatis, keinginan berikutnya-seperti dalam bait lagu di atas- yaitu meraih kebahagiaan, akan tercapai. Lihatlah:

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra`d: 28)

Bukankah hati (Quluub) adalah barometer kualitas kehidupan kita? Jika hatinya baik, maka baik pula kehidupan kita. Maka tepatlah apa yang dikatakan Yang Maha Mengetahui kepada kita semua, bahwa hanya dengan mengingatNya, maka hati kita menjadi tenteram, sehingga kita pun merasakan kebahagiaan karenanya.

Lalu bagaimana jika ada orang yang mengatakan, bahwa kebahagiaan itu selalu berkaitan dengan materi, atau kekuasaan, atau nama besar?

Mungkin sepotong petuah dari seorang bijak Indonesia dapat kita jadikan bahan perenungan:

Aku tahu itu salah, karena …
Jika aku hanya akan berbahagia setelah berharta,
aku harus ingat bahwa tidak semua orang kaya – berbahagia.

Jika aku mensyaratkan adanya belahan jiwa
agar aku merasa lengkap dan bahagia, aku harus ingat
bahwa banyak pernikahan yang rusak dan memedihkan hati.

Jika aku mengharuskan semua orang baik kepadaku,
agar aku merasa diterima di dunia ini, aku harus ingat bahwa tidak semua orang yang popular dan keren itu –
damai dalam kesendirian mereka.

Jadi ketika kita tahu, bahwa kualitas hati, menentukan keseluruhan kualitas hidup kita, sehingga orang yang merindukan kualitas kehidupan yang lebih baik, maka harus mau membaikkan dulu hatinya.

Lantas, masih haruskah mencari kebaikan-kebaikan kepada selain dari Allah Swt, padahal Rabb Semesta Alam itu sendiri adalah Yang Maha Baik?

Ia menyediakan segala kebutuhan makhlukNya, bahkan tak ada hewan melata pun, yang melainkan Rizkinya ada di tangan Allah Swt.

Untuk apa susah-susah menggantungkan kebahagiaan kepada selainNya? Padahal sudah sangat jelas anjuran yang Ia ungkapkan kepada kita, hanya dengan mengingatNya lah (Dzikrullah) saja hati-hati kita menjadi tenteram.

Bagaimana bisa, kita merasakan kebahagiaan tanpa MengingatNya?

Tanpa Menghamba kepadaNya?

Bagaimana bisa kita tahu, apa yang sebenarnya kita cari di muka bumi ini, selama kita tidak mau tahu tentang yang menciptakan bumi dengan segala isinya-padahal Ia menciptakan semua ini adalah untuk kesenangan kita?

Bagaimana bisa?

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (7 votes, average: 8,29 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Azizah Ardhaningtias
Azizah Ardhaningtias, Mahasiswi PT Swasta Jurusan Manajemen Informatika, salah satu anggota aktif FLP Bogor.

Lihat Juga

Ilustrasi (inet)

Bahagia Itu Sederhana