Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Kunci Keberhasilan Dakwah

Kunci Keberhasilan Dakwah

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com Katakanlah: “tidak ada yang kamu tunggu-tunggu bagi kami, kecuali salah satu dari dua kebaikan. Dan Kami menunggu-nunggu bagi kamu bahwa Allah akan menimpakan kepadamu azab (yang besar) dari sisi-Nya. Sebab itu tunggulah, sesungguhnya kami menunggu-nunggu bersamamu.” (QS. At-Taubah: 52)

Kajian bulanan kali ini diawali dengan surat At-Taubah ayat 52 di atas. Dalam ayat tersebut tertulis, bahwasanya ada dua hal (dari keberhasilan dakwah) yang senantiasa ditunggu-tunggu oleh para muharik dakwah. Kedua hal tersebut adalah tamkin (yaitu kemenangan dakwah) dan atau mati syahid di jalan dakwah.

Terealisasikannya salah satu dari dua hal tersebut -yang keduanya adalah sama-sama kebaikan- menunjukkan bahwa telah sampainya kita pada tingkat keberhasilan dakwah. Ketika tombak kekuasaan untuk memimpin dan mengarahkan masyarakat telah ada di tangan para da’i, maka di sanalah dakwah baru bisa dikatakan telah berhasil. Pilihan kedua adalah kesyahidan. Ketika para da’i telah berjuang sepenuh jiwa raganya untuk kemenangan Islam, namun sampai pada titik darah penghabisan dan kesyahidannya dakwah belum juga mendapatkan kemenangan, maka sesungguhnya ini pun sudah dapat dikatakan dakwahnya telah berhasil.

Untuk dapat mencapai keberhasilan dakwah tersebut, tentunya banyak fase-fase dan proses yang harus dilalui lebih dulu oleh para muharik dakwah. Mengenali medan dakwah, mengetahui target-target dakwah, mengetahui pilar-pilar penting kesuksesan dakwah, hingga memahami kriteria dari kesuksesan dakwah itu sendiri.

Poin pertama adalah mengenali medan dakwah. Ada 3 medan dakwah yang disampaikan oleh Ustadz Masturi. Yang pertama adalah dakwah aammah (dakwah umum). Dakwah aammah ini adalah dakwah terhadap masyarakat umum atau masyarakat kampus secara umum jika dalam konteks dakwah kampus. Dakwah dalam tahapan ini lebih sering diwujudkan secara besar-besaran, berupa acara-acara pensyiaran seperti tabligh akbar, seminar-seminar, dan berbagai acara yang bersifat umum lainnya. Kemudian dakwah khashshah, dakwah dalam tahapan ini sudah tidak lagi seperti dakwah aammah yang bersifat ‘keroyokan’ atau besar-besaran dan terlihat. Dakwah khashshah lebih kepada pembentukan karakter para da’i yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah. Untuk membentuk karakter da’i yang baik, tentu tidak dapat secara instan. Semua memerlukan proses yang memakan waktu, menguji keistiqamahan, mendekatkan dan merapatkan, menguatkan pemahaman, hingga mimpi akan pribadi-pribadi yang shalih dan menshalihkan pun tercipta. Semua itu akan tercipta dengan kesabaran kita para da’i berada dalam fase khashshah, dalam lingkaran-lingkaran malaikat, yang biasa kita sebut halaqah.

Di antara kedua medan tersebut, ada fase atau tahapan pertengahan. Kita biasa menyebutnya Rabthul Aam. Pada fase ini komunikasi atau proses dakwah lebih terbatas. Pendekatan yang dilakukan lebih kepada segolongan orang, kelompok atau komunitas tertentu. Berdakwah lebih kepada khudwah hasanah, pendekatan intensif terhadap golongan-golongan yang sudah ada kecenderungan ke arah dakwah, namun masih sulit atau tidak bisa untuk diajak menjadi aktivis dakwah. Orang-orang pada tahapan ini biasanya merupakan kalangan simpatisan dakwah, yang mendukung namun tidak turut dalam gerakan dakwah secara khusus.

Berikutnya Ust. Masturi juga menyampaikan poin-poin targetan dakwah, antara lain; terlaksananya amal, tersosialisasinya program dakwah, tersosialisasinya fikrah, minimalisir perlawanan terhadap dakwah, objek dakwah bisa bersikap objektif dan netral, menyetujui fikrah, mendukung dakwah, menggerakkan dakwah, membela dakwah, hingga berjuang dijalan dakwah. Poin-poin tersebut lah yang wajib kita ‘kejar’ untuk mewujudkan keberhasilan dakwah.

Ada 2 pilar utama yang menjadi kunci kesuksesan dakwah dan tercapainya targetan-targetan dakwah di atas. Dua pilar tersebut adalah Qiyadah Rosyidah (pemimpin yang bijak) dan Jundiyah muthi’ah (pengikut yang taat). Qiyadah Rosyidah di sini berarti adalah pemimpin yang dapat bijaksana dalam mengambil keputusan. Dia tidak pernah meninggalkan syura dan istisyarah dalam setiap keputusannya. Sedangkan Jundiyah muthi’ah di sini pun, bukanlah pengikut yang hanya sekedar mengikuti secara penuh (taqlid buta), tetapi adalah jundi yang taat pada pemimpinnya disertai dengan pemikiran yang tajam dan berpegang pada Al-Qur’an dan Sunnah (‘ala bashirah).

Ketika semua elemen yang diperlukan untuk dapat meraih keberhasilan dalam dakwah dapat bersinergi dengan baik, dapat saling melengkapi dan memahami satu dengan yang lain, maka keberhasilan atau kesuksesan dakwah adalah merupakan sesuatu yang pasti.

Perwujudan asholatul fikrah (kemurnian fikrah), fahmul awaiq (memahami rintangan), muwasholatul ‘amal (kerja yang terus menerus dan berkelanjutan), tauhidushoff (ketahanan barisan), serta wihdatuttaujih (kesatuan komando) adalah sebuah keniscayaan. Maka yakini lah, kemenangan dakwah ada pada kita. Mungkin tidak segera, namun pasti, karena ia adalah janjiNya.

Wallahu’alam bishshowab

Review ta’lim Lembaga Dakwah Kampus oleh Ust. Masturi.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (5 votes, average: 7,80 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

saya suka menulis, dan ingin bermanfaat karenanya. Yakin yakin Smangat!

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Lembaga Dakwah Membina Hubungan dengan Pers