Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Nikmat-Nya Jauh Lebih Banyak

Nikmat-Nya Jauh Lebih Banyak

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi - Berdagang (mimisikembar.blogspot.com)

dakwatuna.com – Bercerita tentang “nikmat” dari kacamata seorang pedagang, hal baru yang saya dengar dari seorang kawan. Menjalani profesi berdagang ada beberapa kondisi yang akan di hadapi, untung, rugi dan seimbang. Untung yaitu ketika uang yang di dapatkan lebih besar dari modal, rugi yaitu ketika yang di dapat kurang daripada modal, seimbang yaitu ketika uang yang di dapat sama dengan modal atau kembali modal.

Bagi seorang pedagang sejati, menghadapi ketiga kondisi di atas adalah hal yang biasa. Namanya berdagang, pasti ada waktunya untung, pasti ada waktunya rugi. Pedagang sejati tidak akan marah atau merasa kesal saat berada dalam kondisi merugi, karena mereka tahu bahwa rugi itu pasti akan di alami oleh semua pedagang. Kerugian akan di sikapi pedagang untuk koreksi diri apakah dirinya telah baik dalam berdagang, apakah barang dagangannya telah cenderung memenuhi selera pasar, apakah barang dagangannya berkualitas baik, apakah pedagang sudah cukup baik berinteraksi dengan pedagang dan hal-hal lainnya. Kondisi tersebut secara kasat mata merugi tetapi sebenarnya tidak.

Keuntungan lainnya sebenarnya telah di dapat, meskipun bukan berbentuk materi. Keuntungan pada kearifan berfikir untuk memberikan sinyal positif bagi otak, bahwa saat rugi adalah saat pembelajaran di mana nantinya pedagang bisa jauh berubah menjadi lebih baik lagi. Jumlah kerugian bila di bandingkan dengan keuntungan, maka akan jauh berbeda. Kerugian hanyalah setitik dari banyaknya keuntungan yang di dapat oleh seorang pedagang. Jika saat ini pedagang mengalami kerugian, ia yakin bahwa keuntungan yang di dapat ke depannya akan lebih banyak.

Meskipun kita bukan pedagang, kita bisa belajar dari filosofi berdagang. Bahwa nikmat yang Allah limpahkan kepada hambaNya, senantiasa mengalir deras. Adakalanya nikmat itu terasa tersendat alirannya. Secara fisik memang seperti itu, tapi hakikatnya Allah sedang memberikan kenikmatan kita untuk lebih meresapi makna bersabar dan bersyukur. Jadi, tersendatnya nikmat Allah sejatinya bukan merupakan tanda bahwa Allah tidak sayang kepada hambaNya tapi sebagai ajang untuk pembelajaran diri menjadi pribadi muslim yang jauh lebih baik.

Kita akan merasa yakin, bahwa sebenarnya kenikmatan yang Allah berikan terus mengalir. Bukan hanya kenikmatan yang berbentuk materi, lebih dari itu ketenangan hati, merasa cukup dengan apa yang ada, perlindungan Allah dari segala gangguan buruk dan lainnya adalah nikmat yang jauh lebih besar jika di bandingkan dengan materi. Seorang muslim sejati akan terus berfikir bahwa ujian itu tak lebih dari setetes air hujan dan nikmatNya adalah hujan deras yang terus mengalir. Tak akan mampu kita menghitung aliran nikmat Allah.

Maka nikmat Allah manakah yang kita dustakan??

Allahua’lam

Catatan pengingat diri

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (13 votes, average: 9,54 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ya ALLAH, hidupkanlah aku sebagai orang yang tawadhu', wafatkanlah aku sebagai orang yang tawadhu' dan kumpulkan aku dalam kelompok orang-orang yang tawadhu'

Lihat Juga

Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan