Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Salah Bekal

Salah Bekal

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Teh manis yang kubuat masih mengepulkan asap ketika kulihat Irfan, salah seorang rekan kerjaku datang. Langkahnya terlihat tergesa-gesa sejak ia membuka pintu, mengundang rasa penasaranku.

“Rapatnya sudah selesai, Fan?” tanyaku ingin tahu.

“Belum,” jawabnya singkat.

“Kok kamu sudah pulang, apa ada yang ketinggalan?” tanyaku makin penasaran. Kulihat ia sibuk membuka beberapa map di atas meja.

“Iya, aku salah membawa bahan laporan” jawabnya sambil terus membolak balik tumpukan map yang semuanya berwarna sama, merah.

Melihat keseriusannya, aku urung bertanya lagi sampai ia menemukan apa yang dicari. Dua menit berikutnya, sambil tersenyum getir ia bercerita bahwa sebenarnya rapat sudah dimulai. Sesuai posisinya di perusahaan ini, Irfan mendapat bagian pertama untuk menyampaikan laporannya. Tapi apa yang akan ia paparkan kalau ternyata ia salah membawa bahan laporan. Big Boss yang siang itu memimpin rapat meminta Irfan mengambil laporan dan kembali secepatnya.

Hanya sampai di sini Irfan bercerita, selanjutnya setengah berlari ia bergegas menuju ruang rapat. Suara sepatunya terdengar jelas saat ia menuruni tangga besi di samping kanan kantor baruku ini.

Salah membawa bekal, itu yang terjadi pada Irfan. Karenanya, ia harus kembali ke ruangan untuk menukar bahan laporan. Karenanya pula, hingga beberapa waktu rapat penting itu ditunda. Beruntung saat itu Big Boss yang memimpin rapat tidak marah, beliau sedang senang hati. Dan beruntungnya lagi, kesalahan Fulan membawa bekal masih terjadi di dunia. Seandainya kesalahan membawa bekal ini terjadi di akhirat kelak, sudah tentu tak ada lagi kesempatan untuk kembali ke dunia, menukar apalagi mengumpulkan perbekalan.

Kejadian Fulan salah membawa bahan laporan menggugah kesadaranku. Siapkah aku dengan perbekalan untuk akhiratku? Benarkah bekal-bekal yang kusiapkan adalah yang aku butuhkan di sana? Jangan-jangan bukan saja tidak mencukupi tapi justru aku salah menyiapkan. Astaghfirullah!

Jangan salah menyiapkan dan membawa perbekalan. Bukan harta, bukan tahta, bukan bagusnya rupa dan bukan pula keluarga yang akan menjadi bekal kita di akhirat kelak. Tapi bagaimana kita menggunakan itu semua untuk beribadah, menggapai keridhaan Nya. Dan satu hal yang jangan sampai kita lupa, jangan terlena dengan perbekalan yang telah dikumpulkan. Apapun yang telah kita siapkan, bisa saja tak terbawa hingga ke akhirat ketika kita berpulang menghadapNya tidak membawa iman dan Islam.

Jadi, kumpulkanlah bekal sebanyak-banyaknya dan pastikan semuanya tidak menjadi sia-sia, berusaha serta berdoalah agar tidak dimatikan kita kecuali dalam keadaan membawa iman dan Islam. Semoga kelak ketika kita hadir di persidangan Nya, kita tidak salah membawa bekal karena apapun dan berapa pun perbekalan yang kita bawa, tidak ada lagi kesempatan untuk kita kembali ke dunia, menukar apalagi mengumpulkan perbekalan.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (7 votes, average: 10,00 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Abi Sabila
Seorang pembaca yang sedang belajar menulis.
  • Perbekalan yang harus di sertai ilumu,,agar tidak keliru…

Lihat Juga

Salah Paham yang Berlanjut