Home / Pemuda / Puisi dan Syair / Memoar Mukena Lusuh

Memoar Mukena Lusuh

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (vivink.blogspot.com)

dakwatuna.com

Sehelai mukena tua terbengkalai di sudut rumah mewah
Putihnya kini berganti coklat lusuh
Mungkin termakan usia renta
Bersama tikus-tikus yang berlomba melahapnya

Dahulu…
Bukanlah istana yang megah
Yang menjadi ruang untuk mukena lusuh
Hanya sepetak gubuk reot yang hampir roboh
Penghuni-penghuninya senantiasa sujud
Dengan mukena lusuh itu
Menjadi sahabat di sepertiga malamnya
Mengagungkan Tuhannya
Meminta belas biar hidup tak hanya memelas

Detik pun memetik doa si penghuni
Lalu robohlah gubuk reot itu terinjak buldozer
Berganti megahnya rumah bak istana
Seiring berganti jua isi hati sang penghuni
Tak ada lagi Tuhan dalam deru nafasnya
Dalam detik hidupnya, dalam detak jantungnya
Semuanya sirna karena sinar dunia

Kini mukena itu mungkin telah lenyap
Menjadi santapan tikus-tikus
Seperti hati penghuni itu
Putihnya kini menuai kusam
Karena dunia yang telah di genggam

 

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (11 votes, average: 9,18 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ya ALLAH, hidupkanlah aku sebagai orang yang tawadhu', wafatkanlah aku sebagai orang yang tawadhu' dan kumpulkan aku dalam kelompok orang-orang yang tawadhu'
  • Qana’ah disaat sempit.,Kufur saat Lapang

Organization