Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Process Oriented, Seriuskah?

Process Oriented, Seriuskah?

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (endricahyo2safi3.wordpress.com)

dakwatuna.com – Untuk berubah dari kebiasaan lama yang miskin iman menuju kebiasaan baru yang kaya iman, mungkin kita merasa Tuhan itu sangat bersabar untuk menunggu kita berproses perlahan-lahan.

Mungkin terbesit kata-kata dalam hati:

“Besok kan masih ada waktu, Allah itu baik sekali koq”,

“Tahun depan aku akan lebih iman, karena sekarang timingnya belum pas, kan Allah maha tahu kesulitanku”,

“Setelah menikah aku pasti bisa lebih baik. Maafkan aku ya Allah yang baik…”,

“Maaf ya Allah, kalau aku berbuat maksiat saat ini. Besok-besok aku tak akan mengulangi hal ini lagi ya Allahku…”

“Ya wajar lah kalau saat ini aku belum bisa shalat 5 waktu, kan butuh proses untuk berubah. Aku yakin Allah tetap menyayangi aku…”

Tapi mari kita koreksi, apakah betul hati kecil kita mengatakan begitu (bahwa Tuhan itu sangat sabar untuk menunggu kita berproses)? Jangan-jangan itu timbul lantaran hawa nafsu kita yang menghalang-halangi kemauan untuk berubah? Dan pertanyaannya, sampai kapankah penundaan-penundaan / proses itu betul-betul berbuah?

Allah maha bijaksana. Dia memberi waktu kepada hambanya untuk berubah, dan Allah memiliki perhitungan yang teliti, kapan saatnya teguran / hukuman yang sepadan itu didatangkan.

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al Hadiid: 16 ﴿

“Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku jika Allah mencabut pendengaran dan penglihatan serta menutup hatimu, siapakah Tuhan selain Allah yang kuasa mengembalikannya kepadamu?” Perhatikanlah bagaimana Kami berkali-kali memperlihatkan tanda-tanda kebesaran (Kami), kemudian mereka tetap berpaling (juga).” (QS. Al An’am: 46)

“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Adz Dzaariyaat: 55)

“Kami tidaklah mengutus seseorang nabi pun kepada sesuatu negeri, (lalu penduduknya mendustakan nabi itu), melainkan Kami timpakan kepada penduduknya kesempitan dan penderitaan supaya mereka tunduk dengan merendahkan diri. Kemudian Kami ganti kesusahan itu dengan kesenangan hingga keturunan dan harta mereka bertambah banyak, dan mereka berkata: “Sesungguhnya nenek moyang kami pun telah merasai penderitaan dan kesenangan”, maka Kami timpakan siksaan atas mereka dengan sekonyong-konyong sedang mereka tidak menyadarinya.” (QS. Al A’raf: 94-95)

Jadi, apabila sejenak kita dibiarkan oleh Allah dalam keadaan tetap menjalani kebiasaan yang buruk, tidak semestinya kita merasa tenang, apalagi sampai lupa. Bahkan saat kita seolah ditimpa kesuksesan hidup, belum tentu itu menandakan kita disayang Tuhan. Apabila kesuksesan itu didapat dari kebiasaan-kebiasaan yang buruk, mungkin itu berarti Tuhan sudah tidak mempedulikan kita, dan kita dalam situasi “danger”. Pada saat itu, berarti kita sendiri yang harus sadar dan berusaha mendekatiNya dengan serius (sepenuh hati).

“Itu hanyalah kesenangan sementara, kemudian tempat tinggal mereka ialah Jahannam; dan Jahannam itu adalah tempat yang seburuk-buruknya.” (QS. Ali Imran: 197)

“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al An’am:44)

Yang terbaik dari kita adalah segera berubah, karena jalan keimanan itu jelas-jelas membawa kebahagiaan di dunia dan akhirat. Lagi pula kita semua tidak tahu dengan ketelitian perhitungan Allah dalam menentukan seberapa lama kita diberikan batas penundaan, seberapa dekat hukuman atas ketidaktaatan itu akan menimpa. Nabi Muhammad sebagai hamba juga tak tahu, hanya Allah yang tahu.

“Jika mereka berpaling, maka katakanlah: “Aku telah menyampaikan kepada kamu sekalian (ajaran) yang sama (antara kita) dan aku tidak mengetahui apakah yang diancamkan kepadamu itu sudah dekat atau masih jauh?” Sesungguhnya Dia mengetahui perkataan (yang kamu ucapkan) dengan terang-terangan dan Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan. Dan aku tiada mengetahui, boleh jadi hal itu cobaan bagi kamu dan kesenangan sampai kepada suatu waktu.” (QS. Al Anbiyaa: 109-112)

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa.” (QS. Ali Imran: 133)

Dengan demikian, ada baiknya bila kita tidak berlindung di balik kata-kata “sedang berproses” padahal dalam masa itu tidak ada perubahan sama sekali. Jelas lebih baik kita berubah meskipun perubahan itu sedikit demi sedikit. Karena Allah maha teliti, sebagaimana firmanNya:

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. Az Zalzalah: 7-8)

Wallahu a’lam.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (9 votes, average: 9,89 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Karyawan distributor telekomunikasi. Belajar memperkuat tauhid diri.

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Mengapa Harus Kita?