Home / Pemuda / Cerpen / Bukan Merayakan,Tapi Memperingati

Bukan Merayakan,Tapi Memperingati

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (wallpapermixs.blogspot.com)

dakwatuna.com – “Bunda…Bunda! Di depan mushalla aku lihat ada tenda, memangnya ada yang mau hajatan, Bunda?” tanya Ade yang baru pulang dari sekolah.

“O… itu bukan tenda untuk hajatan, Sayang! Tapi untuk pengajian nanti malam.” jawab Bunda yang sedang menyiangi tanaman hias di halaman.

“O, iya. Ade lupa! Nanti malam kan kita akan merayakan hari kelahiran nabi Muhammad SAW. Benar kan, Bunda?”

“Bukan merayakan, tapi memperingati.” Bunda mengoreksi

“Apa bedanya, Bunda?”

“Ya jelas beda, Sayang. Dalam Islam hanya ada dua hari raya, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Di luar itu tidak ada lagi perayaan. Yang ada peringatan, seperti maulid nabi dan Isra mi’raj.” Bunda yang sudah selesai menyiangi tanaman menghampiri bungsunya yang duduk di teras, melepas sepatu.

“Pengajian nanti malam diadakan bukan untuk merayakan hari kelahiran nabi, karena hal ini tidak pernah dicontohkan apalagi diperintahkan oleh nabi. Yang kita lakukan adalah mengadakan pengajian umum dengan menjadikan kelahiran nabi sebagai tema dan topik pembicaraan. Meski secara khusus hal ini juga tidak pernah dilakukan oleh para sahabat, tapi tidak ada salahnya jika kita menjadikan momen bersejarah ini untuk mengadakan satu kegiatan yang bermanfaat, dan tentu saja bernilai ibadah. Memperingati bertujuan agar kita ingat. Ingat akan sesuatu yang penting, terlebih sejarah nabi Muhammad saw yang kita cintai. Aneh bila kita mengaku cinta nabi, tapi sejarah hidup beliau, mulai dari lahir hingga wafat, kita tak tahu. Profil selebritis saja banyak yang hafal, masa nabi sendiri malah tidak tahu atau justru tidak mau tahu. Astaghfirullah!” panjang lebar Bunda menjelaskan.

“Nanti malam kita datang ke pengajian di mushalla kan, Bunda?”

“Insya Allah. Ayah dan Kakak juga.”

“Aku nda bisa, Bunda. Ada banyak PR yang harus secepatnya dikumpulkan.” Merasa dirinya disebut-sebut, Kakak yang sedang asyik membaca buletin olah raga, spontan menyela.

“Kakak…sekarang baru jam tiga, masih banyak waktu untuk menyelesaikan PR mu. Kerjakan sekarang, biar nanti malam kita bisa sama-sama datang ke pengajian!”

“Nanti malam aku juga harus belajar, Bunda” Kakak kembali beralasan.

“Seingat Bunda kamu tidak pernah belajar kalau malam Minggu. Khusus di malam Minggu, Ayah selalu membebaskan kalian untuk istirahat dari kegiatan belajar. Jangan cari-cari alasan lagi!”

Mendengar Kakak dimarahi Bunda, Ade cekikikan. Menjulurkan lidah ke arah Kakak lalu sembunyi di balik Bunda. Dalam situasi lain, Kakak pasti akan mengejar Ade dan mengitik-itik pinggangnya sampai teriak minta ampun, kegelian. Tapi kali ini Kakak hanya bisa geram, bahkan sekedar melotot pun ia tak berani. Otaknya kembali bekerja, sibuk mencari-cari alasan.

“Kita hanya mau mendengarkan pengajian kan, Bunda? Kalau begitu aku ndengerin dari rumah saja. Rumah kita kan dekat, tak lebih dari seratus meter, pasti kedengeran. Malah enakan di rumah, bisa sambil tiduran dan nonton TV. Ups!” Kakak keceplosan. Buru-buru ia menutup mulutnya, berharap Bunda tidak mendengar alasan terakhirnya.

Sayangnya Bunda sangat jelas mendengar apa yang baru saja ia ucapkan.
Ade kembali cekikikan, menertawakan alasan Kakak yang justru membuat Bunda melotot. Kakak tersenyum kecut, menyesali kepolosan keceplosannya.

“Kakak ini bagaimana, masa ikut pengajian sambil tiduran, malah nonton tivi segala. Suara pengajian memang bakal sampai ke rumah ini, tapi jika kita hanya mendengarkan dari rumah, kita akan melewatkan banyak kesempatan, kehilangan banyak keuntungan.”

Ade berhenti cekikikan, menatap Bunda, menunggu penjelasan.

“Pertama, setiap langkah menuju majelis ilmu dan pengajian akan dihitung sebagai ibadah, dibalas dengan satu pahala kebaikan, dihapus satu keburukan. Kedua, dengan mendatangi majelis ilmu dan pengajian, kita dapat bersilaturahim dengan saudara dan tetangga kita. Kesibukan sehari-hari sering menjadi kendala untuk saling mengunjungi. Di majelis inilah saat dan tempat yang tepat untuk bersilaturahim. Ketiga, selama kita duduk di majelis ilmu dan pengajian, malaikat akan mendoakan dan Allah akan merahmati kita. Keempat, dengan mengikuti majelis ilmu dan pengajian, rezeki kita akan bertambah. Kalian bisa lihat kan, banyak makanan yang dihidangkan untuk para jamaah yang datang? Tentu saja ini jangan dijadikan tujuan utama. Tapi yang jelas keberkahan rezeki akan lebih terasa jika dinikmati bersama-sama. Dan masih banyak keuntungan serta keutamaan lainnya. Masihkah Kakak akan melewatkan kesempatan berharga ini?”

“Iya deh, Bunda. Insya Allah nanti Kakak ikut.” akhirnya Kakak nyerah. Bukan nyerah, tapi Kakak sadar bahwa apa yang Bunda jelaskan adalah benar.

“Yes!” Ade berteriak girang.

“Nah, begitu dong! Ayah dan Bunda tidak mau anak-anak Bunda kelak terpisah dari kami di surga.” Bunda tersenyum, mengemasi gunting dan sapu untuk disimpan kembali di gudang.

Masih agak kesal, Kakak hanya mengangguk menanggapi Ade yang langsung rusuh, sibuk mengajak Kakak pakai sarung dan baju koko kembar, lupa bahwa badan Kakak tak lagi sekecil tahun lalu. Bila dilihat dari fisiknya, Kakak dan Ayah terlihat seperti saudara, adik kakak.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (18 votes, average: 8,72 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Abi Sabila
Seorang pembaca yang sedang belajar menulis.
  • Ana

    Assalamualaikum, sebagai umat muslim yang taat dan beriman kepada Allah 
    Allah  سبحانه و تعالى‎ Rasulullah 
    صلى الله عليه وسلم dan agar terus mengingat beliau ketika masa hidup dan ketika menjelang wafatnya karena dengan menghapal hadist2 yg beliau utarakan keharmonisan serta perasaan dan hati seorang muslim akan menjadi besar terhadap Nabi kita yang mulia. 

    Dari Zuhrah bin Ma’bad dari kakeknya berkata: Kami bersama Rasulullah –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam dan tangan beliau memegang tangan Umar ibnul Khaththab, lalu berkata (Umar): “Demi Allah! Sungguh engkau wahai Rasulullah lebih aku cintai daripada segala sesuatu kecuali diriku.”

    Lalu bersabda Rasulullah–Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam : “Tidak beriman seorang dari kamu sehingga aku lebih ia cintai daripada dirinya.”

    Berkata Umar: “Demi Allah! Engkau sekarang lebih aku cintai daripada diriku.”
    Bersabda Rasulullah –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam: “Sekarang, wahai Umar.”
    (HR. Imam Ahmad dan Bukhari). 

    Tanda atau Bukti Cinta Allah Ta’ala dan Cinta RasulNya –Shallallahu ‘Alaihi Wa ‘Ala Alihi Wa Sallam:Apabila kita dihadapkan pada dua perkara, yang satu dicintai Allah dan RasulNya dan diri kita tidak mempunyai keinginginan terhadapnya dan perkara yang lain diri kita menginginkan  dan menyukainya akan tetapi menyebabkan kita kehilangan perkara yang dicintai Allah dan RasulNya atau menguranginya. Jika kita mendahulukan perkara yang diinginkan oleh diri kita atas perkara yang dicintai Allah maka ini adalah bukti kita berlaku dzalim, meninggalkan apa yang wajib atas kita.

  • Oh iya Bunda, kalau untuk datang ke pengajian tidak perlu membuat makanan yang akhirnya pas dibawa ke tempat acara itu malah mubadzir tidak dimakan ya… Terus juga tidak perlu ada hiburan2 lainnya, kan bukan perayaan. Yang penting ilmunya bisa diterima dan diamalkan dengan baik.

    Dan semoga kegiatan utk majelisnya bisa rutin tidak hanya pas maulid saja ya… jadi biar ilmunya terus bertambah untuk mengenal lebih jauh kepribadian Nabi dan Shohabatnya… Terima kasih Bunda.

  • Singgih Pranowo

    “..setiap langkah menuju majelis ilmu dan pengajian akan dihitung sebagai ibadah, dibalas dengan satu pahala kebaikan, dihapus satu keburukan..”
    kalau jaman sekarang gimana, menuntut ilmu bisa didepan komputer tanpa harus kemana2, membaca dan diskusi pun sudah merupakan memnuntut ilmu, bukan? :D
    intinya sih niat dari kita untuk belajar dan memperbaiki hidup, urusan reward biar Allah yang tentukan ^^

Lihat Juga

Ilustrasi. (dakwatuna)

Respons Ulama Sunni Terhadap Pengkafiran Sahabat Rasulullah SAW