Jenuh

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi

dakwatuna.com “Gue lagi jenuh sama hidup gue”. Itulah balasan pesan singkat yang di kirim seorang kawan saat saya tanya ada apa dengan dia. Pertanyaan saya bermula, tatkala melihat statusnya di sebuah jejaring sosial yang berisi tentang ketidaksemangatannya akan hidup yang ia jalani.

Tak hanya kawan saya yang sering mengalami kejenuhan dalam hidup. Mungkin tiap orang termasuk saya, pernah merasakan kejenuhan.

Seseorang yang sangat mencintai pekerjaannya pun, akan ada masanya dia jenuh terhadap pekerjaannya.  Seseorang yang terlihat selalu bahagia, kapan pun dan dalam kondisi apapun juga pasti pernah mengalami fase kejenuhan. Sepasang suami istri pasti pernah mengalami kejenuhan terhadap pasangannya. Seorang siswa yang pandai sekalipun pernah di hinggapi rasa jenuh untuk belajar.

Roda kehidupan yang terus berputar, kebahagiaan dan kesedihan. Jenuh adalah suatu rasa yang tidak menyenangkan tapi setiap kita pernah mengalaminya.

Jenuh itu alamiah. Jenuh yang terjadi yang merupakan suatu tanda bahwa kita harus melihat kembali tujuan hidup kita. Dengan mengingat kembali untuk apa kita melakukan sesuatu, insya Allah kita akan lebih bersemangat dalam menjalani aktivitas. Jenuh yang bisa menjadi ajang introspeksi kita untuk bersyukur akan kelebihan-kelebihan yang Allah titipkan dan memperhatikan orang-orang yang di lahirkan tidak seberuntung kita. Kejenuhan yang menjadi tanda bahwa tubuh dan pikiran kita sedang meminta sesuatu yang berbeda dari aktivitas yang selama ini kita jalani. Mencoba untuk keluar dari rutinitas dan melakukan sesuatu yang kita suka atau belum pernah kita lakukan sebelumnya.

Rasa jenuh bukan ajang untuk menjadikan diri jauh dari Allah. Ketika jenuh, jangan langsung mengutuk takdir dan membenci kehidupan yang kita jalani sekarang. Allahlah sebaik-baik pembuat rencana hidup hamba-hambaNya. Ketika jenuh, kembalikan lagi rasa itu kepadaNya. Jadikan Ia sebaik-baik tempat mencurahkan isi hati. Ingatlah Allah, satu-satunya kunci penenang hati. Lebih dekatlah kepada Allah, maka Allah akan mendekap kita lebih erat.

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.(QS. Ar Ra’du: 28)

Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.” (QS. Al Ikhlas: 2)

Semangat kawan!!

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (17 votes, average: 9,18 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Ya ALLAH, hidupkanlah aku sebagai orang yang tawadhu', wafatkanlah aku sebagai orang yang tawadhu' dan kumpulkan aku dalam kelompok orang-orang yang tawadhu'
  • selalu bersyukur saja

  • selalu ber syukur saja hidup

  • Sulitnya menjadi iklhas saat hati ini terbebani sakit yg begitu dlm,,,,
    Dosakah ak jika merasakan kejenuhan itu saat ini,,,maafkan ak ya Rabb,,,

  • Ingatlah selalu Allah….. adalah obat dari segala obat & itu aku rasakan sendiri. Subhanallah
     

Lihat Juga

Khandaq dan Semangat Optimisme