22:18 - Sabtu, 23 Agustus 2014
Sardini Ramadhan

Hidup Untuk Ibadah

Rubrik: Artikel Lepas | Oleh: Sardini Ramadhan - 13/02/12 | 13:30 | 19 Rabbi al-Awwal 1433 H

Ilustrasi (jr-photos.com)

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ﴿٥٦﴾

dakwatuna.com – Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS. Adz Dzariyaat: 56)

Saudaraku,

Hadirnya kita di dunia ini adalah untuk menyembah Allah SWT. Betapa lemahnya kita sebagai seorang hamba. Jantung, paru-paru, hati, peredaran darah, usus, lambung dan segala organ dalam tubuh kita sendiri kita tak punya kuasa untuk mengaturnya. Semuanya bekerja berdasarkan perintah dari yang menciptakannya. Betapa bergantungnya kita kepada Allah SWT, dan sepantasnyalah kita tiada pernah sombong walau sedetikpun. Umur kita sampai saat ini juga merupakan kemurahan pemberian Allah SWT

Saudaraku,

Kenapa belum juga tergerak hati kita untuk kembali kepada Allah. Memantapkan azzam kita menjadi hamba pengabdi, yang selalu memberikan amal terbaik kepada sang pencipta. Semua energy yang kita miliki, hendaknya dipergunakan sebanyak-banyaknya untuk kemaslahatan perjalanan kita menuju ridha-Nya. Ketahuilah, perjalanan kita tak selamanya mulus. Selalu ada riak-riak yang menyebabkan perjalanan tersendat. Maka siapkan bekal sebanyak-banyaknya untuk hilangkan kepenatan dan kelelahan. Seorang hamba tiada pernah beristirahat mempersiapkan bekalnya, sebelum perjalanan yang panjang harus berakhir. Sungguh merugi mereka yang mengisi hari tanpa beramal. Melewati hari tanpa ibadah. Bukankah perjalanan kita pasti akan berakhir? Maka bagaimana mungkin dalam perjalanan selanjutnya kita tak mempersiapkan bekal?

Ingat sahabat, kita bukan hewan dan tumbuhan, yang kehadirannya hanya di dunia ini saja. Maka wajar kalau kerjaan mereka hanya makan, tidur dan kawin. Mereka tidak mempertanggungjawabkan apa yang mereka lakukan di dunia ini. Sementara kita diberikan akal pikiran untuk mencapai kesempurnaan pengabdian. Betapa banyak kita temui mereka yang menjalani aktivitas kehidupan tak ubahnya aktivitas yang dilakukan binatang. Makan, minum, kawin. Roda kehidupannya senantiasa berputar di kisaran aktivitas itu. Tanpa aktivitas lain. Tanpa ibadah, tanpa amal, tanpa baca Qur’an, tanpa shalat, tanpa amal sosial dan tanpa aktivitas mengabdikan diri pada Tuhannya.

Sungguh menyedihkan, hidup yang singkat ini diisi dengan tidur-tiduran. Diisi dengan aktivitas keduniaan tanpa menyisakan sedikit pun aktivitas menjemput pundi amal untuk dibawa ke negeri akhirat. Bukankah akhirat itu kekal, tiada berakhir? Surga terlalu sayang dilewatkan dengan mengisi hidup tanpa amal. Maka selagi nafas masih di kerongkongan, mari beramal dengan penuh kesungguhan. Ada begitu banyak peluang amal yang Allah sediakan setiap harinya, yang sayang sekali untuk dilewatkan. Jangan jadi orang yang miskin di akhirat nanti karena ketiadaan bekal amal yang dibawa. Jangan sampai kita jadi orang yang menderita di dunia dan terlempar ke neraka.

Jadilah pribadi bahagia di dunia, sentosa di surga. Lenyapkan segera riak-riak kemalasan. Lempar jauh-jauh kelalaian. Mari genggam surga dengan cinta pada sang Pencipta. Rengkuh keridhaanNya dengan amal terbaik yang mampu kita persembahkan. Setiap perputaran waktu adalah masa dimana memutarkan amal-amal terbaik yang sanggup kita kerjakan .Sudah saatnya kita kembali ke jalur penciptaan yang sesungguhnya. Cukuplah dosa yang kita lakukan di masa lalu, sebagai kenangan kekonyolan kita sebagai seorang hamba. Kita perbaiki dan tutupi lubang-lubang aibnya dengan amal terbaik kita. Mari bersama buat sejarah kehidupan yang dipenuhi dengan amal unggulan. Sejarah kehidupan yang dipenuhi dengan amal kebaikan kepada siapa pun. Setiap kita pasti ditanya tentang apa yang kita dilakukan di dunia. Maka selagi ada waktu dan nafas masih di tenggorokan tak ada waktu terlambat untuk kembali berlayar, mengudara, menempuh perjalanan untuk menjemput pundi-pundi pahala yang Allah sediakan. Setiap kita istimewa, maka jadilah pribadi istimewa di hadapan manusia, terlebih di hadapan sang Pencipta.

Sardini Ramadhan

Tentang Sardini Ramadhan

Pendiri KPK (Komunitas Pena Khatulistiwa). Seorang pembelajar yang belajar dari siapa saja. Berusaha setiap hari menulis, dan bercita-cita menerbitkan buku yang bisa dibaca banyak orang. Saat ini bekerja sebagai Publik… [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Hendra

Keyword: ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (11 orang menilai, rata-rata: 8,27 dalam skala 10)
Loading ... Loading ...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
Iklan negatif? Laporkan!
66 queries in 1,720 seconds.