Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Sadarlah, Kita adalah Tokoh Sentral

Sadarlah, Kita adalah Tokoh Sentral

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (donialsiraj.wordpress.com)

dakwatuna.com – Bagaimana jika seorang Rasulullah mengatakan adalah sahabat yang paling mulia dialah Abu Bakar Asshidiq, Abu Bakar meninggalkan barisan ini di waktu itu, membelot apalagi memerangi Islam? Bagaimana jika sahabat sekuat dan setegas Umar bin Khathab meninggalkan barisan ini di waktu itu, membelot apalagi memerangi Islam? Sehebat seorang Khalid bin Walid dalam berperang, Mushab bin Umair yang memiliki karisma luar biasa, berpenampilan menarik idaman wanita di kala itu, meninggalkan barisan ini, melakukan pembelotan apalagi memerangi Islam? Sahabat secerdas Ali bin Abi Thalib, sekaya Abdurrahman bin Auf, sesantun Utsman Bin Affan, pergi dari barisan ini, meninggalkannya lalu berdiri di barisan lain untuk memerangi Islam? Dengan kekuatan mereka, dengan ucapan mereka, dengan pikiran-pikiran mereka, dengan akhlaq mereka, bukankah menjadi suatu hal yang sangat besar membahayakan umat Islam di kala itu jika mereka memerangi Islam? Mereka bukan itu, mereka adalah orang-orang yang mulia, sangat mulia, Allah dan RasulNya memuji mereka dalam banyak firman Allah dan ucapan RasulNya, hingga tak ada hak bagi orang lain untuk menghina mereka.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abbas bahwa Rasul bersabda, “Janganlah kalian mencaci para sahabatku! Demi yang jiwaku di tangan-Nya, seandainya seorang dari kalian berinfak dengan emas sebesar Gunung Uhud, tidak akan menyamai satu mud (raupan tangan) salah satu dari mereka, bahkan tidak setengahnya. (HR Muslim).

Lalu bagaimana dengan diri kita? Diri yang Allah berikan kelebihan, Allah hadirkan kapasitas pada diri untuk mengisi amanah-amanah yang telah Allah berikan, diri ini mengalami kefuturan, kekecewaan dengan barisan ini, meninggalkannya bahkan memeranginya. Begitu banyak orang-orang yang sudah mengalami itu, insya Allah kita berlindung kepada Allah untuk dihindarkan dari hal tersebut. Diberi amanah, ada permasalahan sedikit atau banyak dari, tidak tegar, putus asa, hingga merasakan masalah itu hanya diberikan kepada dirinya seorang, hingga merasakan masalahnya saja yang paling berat, ketika diberi amanah tidak ada yang memberikan perhatian, tidak ada yang memberi pujian padahal dirinya telah berusaha dengan baik dan benar melakukannya tapi yang datang hanya kritikan bahkan cacian, lelah tidak mau melanjutkan perjuangannya.

Berdiri sendiri saja tidak mampu, tidak mau, tidak punya tekad, apalagi membangun orang lain. Ingin rasanya diberi perhatian, ingin rasanya dirinya yang diberikan pertolongan, mengeluh kenapa orang lain tidak mengerti diri ini, kenapa “saya memberi kebaikan tapi tidak dibalas dengan kebaikan pula oleh mereka”, kenapa orang lain yang lebih dipuji, kenapa orang lain yang lebih diperhatikan, lebih disebut-sebut. Kecewa, bicara mana ukhuwah yang telah digembor-gemborkan? Mencari pelarian, mencari tempat lain, masuk ke dalam barisan lain, mengatakan “barisan itu hanya kumpulan orang-orang omong kosong, mengaku saudara tapi ada kesulitan tidak mau bantu, ada musibah mereka tidak mau tau, berharap di sini tidak seperti itu”.

Saudaraku, sesungguhnya generasi sahabat punya potensi keadaan yang lebih besar untuk kelelahan, untuk kecewa, untuk membelot, untuk memerangi Islam. Ingatkah kisah ketika kaum Anshar dan Muhajirin memenangkan peperangan Hunain (baca sirah perang Hunain)? Harta rampasan perang Rasulullah berikan semua kepada kaum Muhajirin, kepada Quraisy dan kabilah Arab lainnya, tapi kaum Anshar tidak mendapatkan harta rampasan perang hingga ada yang mengatakan, Muhammad telah lupa ketika berkumpul dengan keluarganya (orang-orang Muhajirin). “Rasulullah bersabda Hai kaum Anshar, masihkah ada pada diri kalian kecenderungan pada dunia, padahal aku telah melunakkan suatu kaum agar mereka masuk Islam. Sedangkan, aku telah percaya keislaman kalian. Tidakkah kalian ridha, ketika orang lain pulang membawa kambing dan unta, sementara kalian pulang bersama Rasulullah?”

Para pendahulu, generasi sahabat pertama. Dirinya dan keluarganya terancam bahkan disiksa oleh musuh-musuh Islam, ditinggalkan dan meninggalkan keluarganya bahkan dimusuhi, perhatikan kisah Saad bin Abi Waqash

“Ibu! Sesungguhnya aku sangat mencintai ibu. Tetapi aku lebih cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Demi Allah! Seandainya ibu memiliki seribu jiwa, lalu jiwa itu keluar dari tubuh ibu satu per satu (untuk memaksaku keluar dari agamaku) sungguh aku tidak meninggalkan agamaku karenanya.”

Ibu sahabat Saad, memintanya untuk kembali ke agama nenek moyangnya, mengancam dan benar-benar melakukan mogok makan, sangat dilema sekali posisi seperti itu, dan turunnya surat QS Luqman ayat 14-15 (baca Al-Qur’an) karena begitu santun Saad bin Abi Waqash menolak ajakan ibunya untuk keluar dari Islam.

Kisah Summayah syahidah pertama, anak dan suaminya dihadapkan dengan kematiannya. Mereka tetap bersabar.

Sabda Nabi,

“Bersabarlah wahai keluarga Yasir! Bersabarlah! Sesungguhnya balasan kalian adalah surga.”

Bagi kalian yang memiliki peranan sentral wahai para pelaku dakwah, dan memang pasti kalian memiliki peranan sentral, bagaimanapun, di manapun dan kapan pun, bukan hanya karena posisi jabatan, bukan hanya karena tidak ada lagi orang dalam amanah tersebut, tapi memang masing-masing diri para pelaku dakwah adalah tokoh sentral, jangan sampai futurnya diri ini, kecewanya apalagi membelotnya diri ini setidaknya menambah satu masalah bagi para pelaku dakwah lainnya. Jadilah pribadi yang menyelesaikan tidak hanya satu masalah, tapi seribu bahkan lebih. Pesan ini untuk kalian yang masih hidup dengan senantiasa memperbaiki diri, dan saya termasuk dalam kalian. Insya Allah

Di saat kasih sayang manusia tak datang kepada kita, apakah ada satu waktu Allah tak memberi kasih sayangNya?

Di saat kepedulian manusia tak datang kepada kita, apakah ada satu waktu Allah tak peduli kepada kita?

Di saat perhatian manusia tak datang kepada kita, apakah ada satu waktu kita lepas dari perhatianNya?

Di saat manusia lupa kepada kita, apakah ada satu waktu Allah lupa kepada hambaNya?

Di saat ada manusia yang meninggalkan kita, apakah ada satu waktu Allah meninggalkan diri ini?

Di saat manusia berpisah dari kita, apakah ada satu waktu terpisahkan antara Allah dengan hambaNya?

Di saat manusia tak mengetahui apa yang terjadi pada diri kita, apakah ada satu waktu Allah tak tau?

Di saat manusia terbatas bantuannya, apakah ada satu waktu yang membatasi Allah?

Di saat manusia begitu sulit berikan maaf kepada kita, apakah ada satu waktu Allah seperti itu?

Di saat ada waktu pada manusia tentang semua itu, tapi tak ada satu waktu pun bagi Allah akan hal itu.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (15 votes, average: 8,27 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Mahasiswa Aktif Fisika UGM 2010 @adamputras

Lihat Juga

Lembaga Dakwah Membina Hubungan dengan Pers