Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Motivasiku Motivasimu

Motivasiku Motivasimu

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (kaskus.us)

dakwatuna.com -Ketika di awal program tahfizh Quran di Al Manar, ditanyalah apa motivasi ikut tahfizh? Semua terdiam. Mungkin bingung dan mencoba menjejaki hati serta bertanya jauh ke lubuk terdalamnya: Kenapa aku berada di sini mengikuti tahfizh Quran?

Hmm… Saat itu, yang terpikir di benak adalah suara rekaman kajian Ustadzah Yoyoh Yusroh. Iri terhadap beliau yang mengajari anak-anaknya Al-Quran bukan sekadar dihafal. Lebih kepada mengenalkan cerita-cerita yang ada dalam Al-Quran, membiasakan diri menjadikan Al-Quran sebagai buku cerita utama. Al-Quran dijadikan rujukan bacaan sang anak sesuai dengan tingkatan usianya. Pertama kali memperkenalkan apa saja nama surah yang merupakan nama hewan, apa saja nama surah yang merupakan benda langit, dan lain sebagainya. Dari pertanyaan-pertanyaan itu, tentu sang anak akan penasaran dan meminta diceritakan apa isi surah dalam Al-Quran itu. Dari sinilah kedekatan dengan Al-Quran terbangun maka akan berlanjut pula untuk tertarik menghafalnya.

Lantas, jika iri dengan Ustadzah Yoyoh Yusroh, apa yang seharusnya dilakukan? Jika seorang ibu ingin mendidik anaknya dengan Al-Quran maka tentunya sang ibu mempersiapkan jauh-jauh hari sebelum anak itu ada bersamanya. Apa yang dipersiapkan? Ya tentu saja bekal hafalan dan pemahaman Al-Quran yang baik dan benar.

Benar kata seorang akhwat bahwa untuk mempelajari dan menghafal Al-Quran harus ikut lembaga tahfizh. Kenapa? Karena di lembaga, ada program yang akan memaksa kita mencapai target, ada ustadzah untuk talaqqi hafalan, ada teman-teman seperjuangan yang punya satu tujuan menghafal Quran. Dari seringnya berinteraksi dengan Al-Quran yang didukung oleh 3 faktor di atas, maka biasanya akan ditemukan metode masing-masing diri untuk menghafal Quran. Setelah menemukan metode yang pas biasanya mudah untuk menghafal.

Dari lembaga tahfizh pula seorang ibu belajar untuk menjadi lembaga tahfizh di rumahnya, membiasakan sang anak dekat dengan Al-Quran. Mungkin banyak orangtua yang menyekolahkan anaknya di SDIT yang mempunyai target hafalan 3 juz setelah lulus SD, tapi kemudian ketika di jenjang sekolah berikutnya berada di SMP / SMA biasa dan tak dijaga oleh lingkungan di rumah, biasanya hafalan akan ludes begitu saja. Pendidikan Al-Quran di dalam rumahlah yang menentukan kualitas dan kuantitas hafalan Quran sang anak. Dan yang sangat berperan besar terhadap pendidikan anak di rumah adalah sang ibu. Di sinilah pentingnya seorang ibu memiliki kedekatan dengan Al-Quran jika ia menginginkan anak-anaknya juga dekat dengan Quran.

Ya, itu hanya segelintir yang ada dalam benak ketika ditanya tentang motivasi berada di lembaga tahfizh Quran.

Sang Ustadz yang bertanya, akhirnya menjawab pertanyaannya sendiri karena tak ada yang berani menjawab.

Motivasi seseorang untuk menghafal Quran adalah menjadikan hafalan qurannya sebagai dzikir hariannya.

Aah, ya! Memang seharusnya dzikrullah adalah motivasi utama dan terbesar yang harus dimiliki seorang penghafal Quran. Bagaimana ia bisa menjaga hafalannya jika tak diniatkan bahwa al-Quran sebagai dzikir hariannya.

Jika Al-Quran dijadikan sebagai dzikir hariannya, maka dirinya akan menyibukkan diri dengan murajaah hafalan yang telah dihafal dan menghafal ayat-ayat yang akan dihafal. Jika tak ada niat untuk menggunakan hafalan itu sebagai dzikir harian maka bisa dipastikan hafalannya akan buyar begitu saja. Karena sesungguhnya menjaga hafalan lebih sulit ketimbang menghafal Quran.

Ada banyak bentuk penjagaan diri terhadap hafalan. Salah satunya adalah menggunakan hafalan Quran pada saat shalat. Namun jika biasanya shalat berjamaah, kadang tak sesuai dengan surah yang ingin atau sedang dihafal, maka shalat-shalat sunnah-lah tempat yang pas untuk murajaah hafalan Quran. Terlebih lagi, jika bisa mengisi waktu di tiap sepertiga malam; mengisi malam-malam dengan murajaah hafalan dalam setiap rakaat yang ditegakkan.

Apapun motivasi sekunder kita, jadikan motivasi primer menghafal Quran sebagai dzikir harian kita. Jika Allah saja yang menjadi tujuan, maka seberat apapun rintangan yang menghadang, akan bisa dilalui bahkan walau badai sekalipun menerjang.

Dan ingat!

Ada 5 hak yang harus kita penuhi terhadap al-Quran agar ia bisa menjadi petunjuk bagi kehidupan di dunia dan syafaat di hari akhir nanti.

1. Membaca dengan tartil sesuai tajwid

Untuk hal ini, coba kita belajar tahsin Quran untuk membenarkan bacaan al-Quran kita, apakah sudah sesuai dengan makharijul huruf dan hukum tajwid lainnya. Jika bacaan kita sudah benar biasanya semakin betah untuk berlama-lama membaca al-Quran.

2. Memahami artinya

Untuk hak ini, selain membaca Arabnya, coba dibaca juga terjemahan artinya, lebih bagus lagi kalo membaca tafsirnya, agar apa yang dibaca bisa kita mengerti dan pahami. Jika kita memahami al-Quran maka hal inilah yang bisa menjadi petunjuk bagi kehidupan kita di dunia. Terhadap ayat-ayat muhkamat diyakini dengan sepenuh hati tanpa perlu memerlukan alasan pasti secara logika, terhadap ayat-ayat mutasyabihat mengikuti pendapat ulama yang diyakini dan bijak dalam perbedaan pendapat.

3. Menghafalnya

Untuk hak ini, seperti yang telah diuraikan di atas, mencari lembaga tahfizh Quran agar memaksa diri kita untuk menghafalnya. Dengan menjadi penghafal Quran, kita diakui sebagai keluarganya Allah loh.

“Dari Anas RA ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah itu mempunyai keluarga yang terdiri dari manusia.” Kemudian Anas berkata lagi, lalu Rasulullah SAW bertanya: “Siapakah mereka itu wahai Rasulullah. Baginda menjawab: “yaitu ahli Quran (orang yang membaca atau menghafal Al- Quran dan mengamalkan isinya).Mereka adalah keluarga Allah dan orang-orang yang istimewa bagi Allah.(H.R Ahmad)

4. Mengamalkannya

Untuk hak ini, setelah memahami dan menghafal, kita juga berusaha mengamalkan apa-apa yang terkandung dalam Al-Quran, apa yang menjadi perintahNYA dilaksanakan, apa yang menjadi laranganNYA dihindari.

5. Mengajarkannya

Untuk hak ini, sebaiknya apa yang telah kita dapatkan dengan keutamaan al-Quran maka diajarkan juga ke orang lain agar orang-orang di sekitar juga merasakan apa yang kita rasakan, merasakan indahnya dekat dengan Quran.

Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar al-Quran dan mengajarkannya.(H.R Bukhari)

Semoga kita terus termotivasi untuk dekat dengan Quran, dekat dengan Allah…

Buat yang belum menghafal Quran, coba mulai mencari lembaga tahfizh Quran…

Buat yang sudah dan sedang berproses menghafal Quran, semoga tetap istiqamah…

Jika sudah cinta, apapun akan dilakukan…

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (25 votes, average: 9,28 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
seorang perempuan yang suka menulis dengan kepribadian phlegmatis-melankolis dan dreamy idealist

Lihat Juga

Ketua Majelis Syuro PKS periode 2010-2015 KH Hilmi Aminuddin saat menyampaikan taujih (amanat) dalam Rakornas PKS di Depok, Jawa Barat, Senin (12/1/2016). (ist)

Hilmi Aminuddin: Kader PKS Harus Selalu Konsolidasi Motivasi, Orientasi, dan Integrasi