09:40 - Senin, 21 April 2014

Motivasiku Motivasimu

Rubrik: Artikel Lepas | Oleh: Lhinblue Alfayruz - 11/02/12 | 10:30 | 17 Rabbi al-Awwal 1433 H

Ilustrasi (kaskus.us)

dakwatuna.com - Ketika di awal program tahfizh Qur’an di Al Manar, ditanyalah apa motivasi ikut tahfizh? Semua terdiam. Mungkin bingung dan mencoba menjejaki hati serta bertanya jauh ke lubuk terdalamnya: “Kenapa aku berada di sini mengikuti tahfizh Qur’an?”

Hmm… Saat itu, yang terpikir di benak adalah suara rekaman kajian Ustadzah Yoyoh Yusroh. Iri terhadap beliau yang mengajari anak-anaknya Al-Qur’an bukan sekadar dihafal. Lebih kepada mengenalkan cerita-cerita yang ada dalam Al-Qur’an, membiasakan diri menjadikan Al-Qur’an sebagai buku cerita utama. Al-Qur’an dijadikan rujukan bacaan sang anak sesuai dengan tingkatan usianya. Pertama kali memperkenalkan apa saja nama surah yang merupakan nama hewan, apa saja nama surah yang merupakan benda langit, dan lain sebagainya. Dari pertanyaan-pertanyaan itu, tentu sang anak akan penasaran dan meminta diceritakan apa isi surah dalam Al-Qur’an itu. Dari sinilah kedekatan dengan Al-Qur’an terbangun maka akan berlanjut pula untuk tertarik menghafalnya.

Lantas, jika iri dengan Ustadzah Yoyoh Yusroh, apa yang seharusnya dilakukan? Jika seorang ibu ingin mendidik anaknya dengan Al-Qur’an maka tentunya sang ibu mempersiapkan jauh-jauh hari sebelum anak itu ada bersamanya. Apa yang dipersiapkan? Ya tentu saja bekal hafalan dan pemahaman Al-Qur’an yang baik dan benar.

Benar kata seorang akhwat bahwa untuk mempelajari dan menghafal Al-Qur’an harus ikut lembaga tahfizh. Kenapa? Karena di lembaga, ada program yang akan ‘memaksa’ kita mencapai target, ada ustadzah untuk talaqqi hafalan, ada teman-teman seperjuangan yang punya satu tujuan menghafal Qur’an. Dari seringnya berinteraksi dengan Al-Qur’an yang didukung oleh 3 faktor di atas, maka biasanya akan ditemukan metode masing-masing diri untuk menghafal Qur’an. Setelah menemukan metode yang pas biasanya mudah untuk menghafal.

Dari lembaga tahfizh pula seorang ibu belajar untuk menjadi lembaga tahfizh di rumahnya, membiasakan sang anak dekat dengan Al-Qur’an. Mungkin banyak orangtua yang menyekolahkan anaknya di SDIT yang mempunyai target hafalan 3 juz setelah lulus SD, tapi kemudian ketika di jenjang sekolah berikutnya berada di SMP / SMA biasa dan tak dijaga oleh lingkungan di rumah, biasanya hafalan akan ludes begitu saja. Pendidikan Al-Qur’an di dalam rumahlah yang menentukan kualitas dan kuantitas hafalan Qur’an sang anak. Dan yang sangat berperan besar terhadap pendidikan anak di rumah adalah sang ibu. Di sinilah pentingnya seorang ibu memiliki kedekatan dengan Al-Qur’an jika ia menginginkan anak-anaknya juga dekat dengan Qur’an.

Ya, itu hanya segelintir yang ada dalam benak ketika ditanya tentang motivasi berada di lembaga tahfizh Qur’an.

Sang Ustadz yang bertanya, akhirnya menjawab pertanyaannya sendiri karena tak ada yang berani menjawab.

“Motivasi seseorang untuk menghafal Qur’an adalah menjadikan hafalan qur’annya sebagai dzikir hariannya.”

Aah, ya! Memang seharusnya dzikrullah adalah motivasi utama dan terbesar yang harus dimiliki seorang penghafal Qur’an. Bagaimana ia bisa menjaga hafalannya jika tak diniatkan bahwa al-Qur’an sebagai dzikir hariannya.

Jika Al-Qur’an dijadikan sebagai dzikir hariannya, maka dirinya akan menyibukkan diri dengan muraja’ah hafalan yang telah dihafal dan menghafal ayat-ayat yang akan dihafal. Jika tak ada niat untuk menggunakan hafalan itu sebagai dzikir harian maka bisa dipastikan hafalannya akan buyar begitu saja. Karena sesungguhnya menjaga hafalan lebih sulit ketimbang menghafal Qur’an.

Ada banyak bentuk penjagaan diri terhadap hafalan. Salah satunya adalah menggunakan hafalan Qur’an pada saat shalat. Namun jika biasanya shalat berjama’ah, kadang tak sesuai dengan surah yang ingin atau sedang dihafal, maka shalat-shalat sunnah-lah tempat yang pas untuk muraja’ah hafalan Qur’an. Terlebih lagi, jika bisa mengisi waktu di tiap sepertiga malam; mengisi malam-malam dengan muraja’ah hafalan dalam setiap rakaat yang ditegakkan.

Apapun motivasi sekunder kita, jadikan motivasi primer menghafal Qur’an sebagai dzikir harian kita. Jika Allah saja yang menjadi tujuan, maka seberat apapun rintangan yang menghadang, akan bisa dilalui bahkan walau badai sekalipun menerjang.

Dan ingat!

Ada 5 hak yang harus kita penuhi terhadap al-Qur’an agar ia bisa menjadi petunjuk bagi kehidupan di dunia dan syafaat di hari akhir nanti.

1. Membaca dengan tartil sesuai tajwid

Untuk hal ini, coba kita belajar tahsin Qur’an untuk membenarkan bacaan al-Qur’an kita, apakah sudah sesuai dengan makharijul huruf dan hukum tajwid lainnya. Jika bacaan kita sudah benar biasanya semakin betah untuk berlama-lama membaca al-Qur’an.

2. Memahami artinya

Untuk hak ini, selain membaca Arabnya, coba dibaca juga terjemahan artinya, lebih bagus lagi kalo membaca tafsirnya, agar apa yang dibaca bisa kita mengerti dan pahami. Jika kita memahami al-Qur’an maka hal inilah yang bisa menjadi petunjuk bagi kehidupan kita di dunia. Terhadap ayat-ayat muhkamat diyakini dengan sepenuh hati tanpa perlu memerlukan alasan pasti secara logika, terhadap ayat-ayat mutasyabihat mengikuti pendapat ulama yang diyakini dan bijak dalam perbedaan pendapat.

3. Menghafalnya

Untuk hak ini, seperti yang telah diuraikan di atas, mencari lembaga tahfizh Qur’an agar ‘memaksa’ diri kita untuk menghafalnya. Dengan menjadi penghafal Qur’an, kita diakui sebagai keluarganya Allah loh.

“Dari Anas RA ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah itu mempunyai keluarga yang terdiri dari manusia.” Kemudian Anas berkata lagi, lalu Rasulullah SAW bertanya: “Siapakah mereka itu wahai Rasulullah. Baginda menjawab: “yaitu ahli Quran (orang yang membaca atau menghafal Al- Quran dan mengamalkan isinya).Mereka adalah keluarga Allah dan orang-orang yang istimewa bagi Allah. (H.R Ahmad)

4. Mengamalkannya

Untuk hak ini, setelah memahami dan menghafal, kita juga berusaha mengamalkan apa-apa yang terkandung dalam Al-Qur’an, apa yang menjadi perintahNYA dilaksanakan, apa yang menjadi laranganNYA dihindari.

5. Mengajarkannya

Untuk hak ini, sebaiknya apa yang telah kita dapatkan dengan keutamaan al-Qur’an maka diajarkan juga ke orang lain agar orang-orang di sekitar juga merasakan apa yang kita rasakan, merasakan indahnya dekat dengan Qur’an.

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar al-Qur’an dan mengajarkannya.” (H.R Bukhari)

Semoga kita terus termotivasi untuk dekat dengan Qur’an, dekat dengan Allah…

Buat yang belum menghafal Qur’an, coba mulai mencari lembaga tahfizh Qur’an…

Buat yang sudah dan sedang berproses menghafal Qur’an, semoga tetap istiqamah…

Jika sudah cinta, apapun akan dilakukan…

Tentang Lhinblue Alfayruz

seorang perempuan yang suka menulis dengan kepribadian phlegmatis-melankolis dan dreamy idealist [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Hendra

Keyword: , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (23 orang menilai, rata-rata: 9,30 dalam skala 10)
Loading ... Loading ...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
Iklan negatif? Laporkan!
85 queries in 1,052 seconds.