Home / Berita / Opini / Fenomena Partai Masuk Kampung

Fenomena Partai Masuk Kampung

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – “Waah Mba, ga bisa kalo pertemuannya hari Minggu besok soalnya ibu-ibu di sini mau pada jalan-jalan ke Ancol gratis…”

“Ohh gitu bu, semua ibu-ibu yang ada di sini ikut semua?”

“Iya, 500 orang disewain bis dan kita dikasih 25ribu. Lumayan Mba, jalan-jalan ke Ancol gratis, dapet uang lagi… hehe”

“Kok bisa gratis bu? Siapa yang ngajakin emang?”

“Itu katanya dari partai, tapi ga dikasih tau partai apaan. Kemarin juga ada yang bagi-bagiin minyak satu liter untuk dua orang dan harus nunjukin dua KTP…”

“Oh gitu… waah, menjelang pilkada, partai udah mulai masuk ya Bu ke kampung-kampung…”

Yuhuuu… Itulah salah satu percakapanku dengan ibu-ibu pedagang binaan. Ternyata, partai udah mulai masuk kampung euy. Oiya, sekadar ngasih tau, kalo daerah yang aku bina adalah salah satu daerah terkumuh, padat penduduk, rawan tawuran, rawan Narkoba. Jadi, memang pas banget untuk diiming-imingi hal-hal seperti di atas oleh partai-partai untuk meraup suara di ajang pilkada.

Hmm… Ada yang bilang, semua partai sama, masuk kampung kalo menjelang pilkada, pemilu, dan pilgub. Apakah itu benar? Apakah benar bahwa semua partai masuk kampung hanya jika menjelang ajang-ajang seperti itu?

Tidak, Kawan! Tak semua partai seperti itu. Tetap ada partai yang berbeda. Ya, walau kadang banyak orang berpendapat kalo partai yang berbeda ini tak beda dengan yang lainnya. Tapi, menurutku ia tetap beda. Tenang, tenang, tulisan ini bukan untuk mempromokan suatu partai. Lagipula, aku pun bukanlah anggota partai tertentu, secara ga punya kartu anggota partai. Hehe… Ya, tapi boleh donk kalo aku berafiliasi terhadap satu partai tertentu. Partai apakah itu? Mungkin sudah bisa ditebak kalo aku berafiliasi ke partai apa.

Yup! Partai yang sering disebut sebagai partai dakwah terbuka.

Kenapa berbeda?

Aku akan mengangkat tulisan ini dari sisi ‘partai masuk kampung’ bukan yang lainnya. Jadi, yang aku lihat selama ini, partai dakwah ini masuk kampung ga hanya menjelang ajang-ajang pemilihan. Seperti kita tahu, partai dakwah ini punya kader yang banyak dan loyalitasnya ga usah dipertanyakan. Kader-kader itulah yang tersebar di berbagai daerah, sampai tingkat kelurahan dan RW. Nah, dari organ tingkat kelurahan dan tingkat RW-lah, keberadaan kader-kader ini menyebarkan kebermanfaatannya. Ada yang rutin mengadakan baksos, ada yang mengadakan les bahasa Inggris gratis, ada yang mengadakan pelatihan membuat hantaran pernikahan bagi ibu-ibu, ada yang mengadakan periksa kesehatan gratis, ada yang membuat pengajian remaja, dan masih banyak bentuk kebermanfaatan lainnya yang bukan sekadar jangka pendek untuk meraup suara.

Partai dakwah ini masuk kampung bukan pada saat menjelang pemilihan. Karena memang bukan sekadar suara yang menjadi tujuan. Lebih dari itu, bahwasanya partai dakwah ini memang menebar sebanyak-banyaknya kebermanfaatan bagi masyarakat sekitar.

Penilaian orang lain tentang partai dakwah ini mungkin berbeda. Yaa, ini hanyalah apa yang aku lihat, dengar dan rasakan.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (18 votes, average: 9,61 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
seorang perempuan yang suka menulis dengan kepribadian phlegmatis-melankolis dan dreamy idealist
  • nunjukin 2 ktp? btw e-ktp scr nasional kapan selesainya ya?

  • Yanam1199

    ahh bualan doang

Lihat Juga

Ilustrasi - Aksi aktivis dakwah kampus dalam isu Timur Tengah. (Ary)

Kajian Core Competence Dakwah Kampus