16:21 - Rabu, 22 Mei 2013
Prof. Dr. Thomas Djamaluddin

Pelangi dan Hikmahnya

Rubrik: Pengetahuan | Oleh: Prof. Dr. Thomas Djamaluddin - 08/02/12 | 14:30 | 14 Rabbi al-Awwal 1433 H

Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa.” (QS 49:13).

Kombinasi proses pembiasan dan pemantulan cahaya matahari oleh butir-butir air hujan menghasilkan pelangi yang indah melengkung di langit. Merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, dan ungu adalah warna lengkapnya yang mengungkapkan hakikat warna cahaya matahari. Keragaman warnanya hanya ditampakkan untuk menunjukkan keindahan. Hijaunya daun, merahnya mawar, kuningnya emas, putihnya melati, serta birunya langit dan laut tampak karena sifat pantulan, serapan, atau hamburan warna cahaya matahari oleh masing-masing zat tersebut.

Dari segi spektrum energinya, komponen cahaya matahari yang paling kuat adalah cahaya kuning. Tetapi hal itu tidak menjadikan seluruh alam jadi tampak kuning. Masing-masing komponen warna punya perannya masing-masing untuk menunjukkan keindahan alam raya. Ketika bersatu dalam satu berkas cahaya, kita tidak mengenali bahwa cahaya matahari sesungguhnya terdiri dari banyak komponen. Semuanya tampak menyatu. Pelangi menunjukkan keberagaman komponen cahaya matahari dalam keharmonisan dan keindahan.

Pelangi dan cahaya matahari adalah suatu pelajaran tentang persatuan yang hakiki. Karakteristik masing-masing komponen tidak harus ditonjolkan, dihilangkan, atau diseragamkan, karena keanekaragaman adalah suatu kekayaan. Masing-masing komponen punya peran dan keunggulan tersendiri. Kekuatan mayoritas pun tidak boleh memaksakan atau mendominasi.

Allah menciptakan manusia berkelompok-kelompok (QS 49:13). Dengan kekhasannya masing-masing, anggota kelompok bisa saling mengenal lebih dekat karena kemiripan tradisi, visi, dan misi mereka. Masing-masing kelompok punya karakteristik yang tidak harus dibaurkan atau diseragamkan demi persatuan. Berbangsa-bangsa dan berkelompok-berkelompok itu agar saling mengenal dalam kelompok kecil tersebut, demikian firman-Nya. Bukan untuk berpecah dengan kelompok lain. Bukan untuk membanggakan kelompoknya atau merendahkan lainnya.

Bersuku-suku, berpartai-partai, atau berkelompok-kelompok adalah sunatullah. Biarlah ada suku A, B, atau C. Biarlah ada partai K, L, atau M. Biarlah ada ormas X, Y, atau Z. Keanekaragamannya seindah pelangi. Tetapi ketika dipersatukan dalam memperjuangkan tegaknya agama Allah, semua menyatu seperti seberkas cahaya matahari yang cemerlang.

Tidak ada suku, partai, atau kelompok yang merasa paling unggul, paling kokoh, paling banyak pendukungnya, paling reformis, atau paling baik dengan merendahkan lainnya. Kelompok yang direndahkan bisa jadi lebih baik (QS 49:11). Sesungguhnya keunggulan hakiki hanyalah Allah yang paling tahu dari kadar ketaqwaannya (QS 49:13).

Persatuan adalah perwujudan keharmonisan masing-masing komponen yang menerima perbedaan sebagai suatu kekayaan yang memperindah kehidupan. Menyeragamkan sering menghasilkan persatuan yang semu. Ibarat pelangi, perbedaan warna muncul hanya untuk menunjukkan keindahan, bukan untuk bercerai berai.

Prof. Dr. Thomas Djamaluddin

Tentang Prof. Dr. Thomas Djamaluddin

Djamaluddin, lahir di Purwokerto, 23 Januari 1962, putra pasangan Sumaila Hadiko, purnawirawan TNI AD asal Gorontalo, dan Duriyah, asal C... Selengkapnya.

Redaktur: Hendra

Keyword: , , , , ,


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (12 orang menilai, rata-rata: 6,83 dalam skala 10)
Loading ... Loading ...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
  • Abdullah

    izinkan kami memberikan pandangan kami dalam tulisan di atas, semoga Allah memberikan kita dan selalu mengarahkan kita dalam kebaikan.

    [--Bersuku-suku, berpartai-partai, atau berkelompok-kelompok adalah sunatullah--] 
    Bukankah adanya Iblis, adanya dajjal, adanya firaun semuanya ketetapan dari Allah?? tapi jelas itu hal yang buruk. dan berpecah belah termasuk hal yang buruk, bukankah Allah berfirman dalam Ali Imran:103:  ”Dan berpeganglah kalian semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah bercerai-berai”.
    tidak bisa dipungkiri bahwa adanya berbagai partai, kelompok adalah realisasi perbedaan pemahaman,  dan sudah seharusnya masing-masing kelompok dalam islam yang terpecah belah tadi merasa dirinya paling benar, dan harusnya seperti itu, hal yg logis (karena untuk apa membela sesuatu yang dirasa biasa saja atau bahkan buruk). Sebagaimana kita yakin betul agama Islam adalah agama yang benar, satu-satunya agama di sisi Allah dan pastinya agama yang lain salah, maka kelompok2 tadi wajar menganggap dirinya yang paling sesuai dengan tuntunan agama Islam.  Tapi tidak semua yang merasa pintar adalah orang pintar, tidak semua yang merasa benar adalah orang benar. Maka wahai kelompok yang berpecah belah kembalilah kepada Al-Qur’an dan Sunnah sebagaimana yang dipahami oleh Rasulullah dan para Sahabatnya, dan para ulama-ulama besar Islam, telaah ulang kitab-kitab para ulama bagaimana mereka bersikap terhadap suatu masalah, baca kembali, bacalah kembali kitab-kitab ulama besar Islam, Imam Syafi’i, Imam Ahmad bin Hambal, Imam Malik, Imam Ibnul Qayyim, Imam Ibnu Taimiyyah, Imam Bukhari, Imam Muslim, Ibnu Hajar Al-Atsqalaniy, dan para ulama besar lainnya dari zaman ke zaman Allah bangkitkan para Ulama besar Islam untuk tetap menjaga keutuhan agama kita.

  • Anandastoon

    Oh tidak,,, sekali lagi tidak,,, artikel ini subhanallah bagusnya…
    Orang Islam dituntut untuk berfikir, begitu juga yang banyak disebut dalam Al-Qur’an Al-Kariim.
    Jangan selalu memandang sesuatu hanya dari satu segi saja.. Karena di dalam Al-Qur’an itu Allah juga memberikan permisalan2. Tentu saja ini dapat membuat muslim menjadi lebih cerdas memecahkan masalah, dan bukan malah terjerumus kedalam suatu perdebatan bodoh yang tak berdasar berisikan orang2 yang hanya bersikeras dengan argumen mereka tersebut.
    Barakallaah.. Teruslah membuat artikel luar biasa ini.
    Wallaahu a’lam bish-shawaab… :) 

Iklan negatif? Laporkan!
72 queries in 0,662 seconds.