Home / Pemuda / Cerpen / Kita pun Akan Menyusul Mereka

Kita pun Akan Menyusul Mereka

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (hdipadwallpaper.com)

dakwatuna.com Apa dan bagaimanapun caranya, rasa kehilangan itu sama. Sakit dan menyakitkan. Hanya kesadaran bahwa semua berasal dari Allah dan akan kembali kepadaNya yang membuat kita lebih mudah mempertahankan kesabaran dan juga mengikhlaskan.

Aku masih duduk di depan komputer, mengedit naskah yang akan kupublish di blogku yang sederhana dan serba seadanya ketika handphone di samping keyboard bergetar.

Dari suara tangis yang menjawab salamku, aku bisa menduga akan ada kabar duka yang ingin disampaikan Khoiriyah, sang penelepon. Benar saja, di sela-sela isak tangisnya, terbata ia mengabarkan bahwa Ratimah, salah seorang sahabat sekaligus rekan kerja sewaktu aku masih menjemput rizki di perusahaan farmasi, telah berpulang ke pangkuan Illahi.

I
nnalillahi wa innailaihi rojiun…..

Pantas saja sahabatku ini menangis tersedu karena satu jam sebelumnya kami sempat sms-an, berjanji akan sama-sama membezuk siang itu. Meski masih berada di ruang ICU, beberapa orang yang sudah membezuk mengatakan bahwa Ratih (begitu biasa kami memanggil almarhumah) sudah sadar dari komanya dan bisa diajak bicara. Tapi rupanya Allah berkehendak lain, Ia lebih dulu mengambil almarhumah sebelum kami sempat membezuknya.

Tak kurang dari seratus orang terlihat memenuhi koridor di depan kamar jenazah saat aku tiba di sana. Khoiriyah yang sudah lebih dulu tiba di sana mengantarku ke tempat di mana jenazah disemayamkan, menunggu ambulance siap membawa ke tanah kelahirannya, Purworejo. Bergetar hatiku saat Kang Aip, salah satu rekan kerjaku dulu, membuka kain penutup wajah jenazah yang belum sempat dimandikan.

Bagai api bertemu bensin, secepat kilat ingatanku kembali pada masa di mana almarhumah istriku meninggal dalam pangkuanku, 10 Oktober 2010 lalu. Tak dapat kupungkiri, menatap wajah tenang sahabatku ini sempurna membuka luka lamaku. Hampir saja aku tak bisa menahan perasaan. Pandanganku sedikit membayang oleh air mata yang mulai menggenang. Astaghfirullah! Kehadiranku di sini bukan untuk memperburuk situasi, aku harus sabar dan tabah, batinku menguatkan diri.

Usai membacakan surah Al Fatihah untuk almarhumah, patah-patah aku melangkah meninggalkan ruangan yang masih dipenuhi rekan-rekan kerja yang ingin mendoakan dan melihat almarhumah untuk terakhir kali. Beberapa orang terlihat sedang berusaha menyadarkan sahabat dekat almarhumah yang pingsan, membuat suasana semakin mengharukan.

Beberapa orang menatap bingung melihat kehadiranku. Mungkin mereka bertanya-tanya, siapa aku dan mengapa banyak orang akrab menyapaku. Sama sepertiku yang tak mengenal mereka, mereka juga tidak mengenaliku. Mereka tentu karyawan baru, jadi wajar saja tak mengenalku yang telah keluar dari perusahaan itu sembilan tahun yang lalu.

Sahabatku, Khoiriyah, mempertemukanku dengan dua orang adik almarhumah yang masih terlihat terpukul dengan kenyataan ini. Salah satunya, adik almarhumah yang laki-laki kembali berurai air mata ketika kukenalkan diriku. Hampir tujuh tahun aku menjadi rekan kerja almarhumah. Dan selama itu, aku mengenal almarhumah sebagai seorang sahabat dan rekan kerja yang baik. Karena itu, aku pun merasa sangat kehilangan.

Melihatnya tergugu, menyesali diri mengapa ia tak menemani almarhumah saat detik-detik terakhirnya, membuat hatiku benar-benar terenyuh. Entah sudah berapa orang mengatakan hal ini, tapi aku merasa harus mengatakan padanya. “Tak usah menyalahkan diri, semua sudah menjadi ketetapan Allah, secara detail kapan, di mana dan bagaimana caranya almarhumah kembali kepada penciptaNya.” Aku coba untuk meneguhkan hatinya. Kukatakan aku pernah berada di posisi yang sama untuk orang yang berbeda. Karena itu, aku bisa memahami perasaannya.

“Kematian adalah sebuah kepastian yang dirahasiakan. Sakit hanyalah salah satu perantaranya. Jerit tangis tak akan merubah ketetapan Nya, mengembalikan almarhumah yang telah tenang di sisi Nya. Bukan derai air mata yang almarhumah harapkan, tapi ikhlaskan kepergiannya, maafkan segala salah dan khilafnya, doakan semoga Allah menerima iman islamnya, amal ibadahnya dan menempatkan almarhumah di tempat terbaik di sisi Nya. Menangislah, karena dulu saat putranya meninggal, Rosululloh pun menangis. Tapi sekedarnya saja, jangan larutkan diri dalam kesedihan. Bersabarlah, dukamu adalah dukaku juga. Kehilangan yang kalian rasakan, juga kami rasakan.”

Ada satu hal yang membuatku salut pada dua kakak beradik ini. Sejak almarhumah dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi koma, mereka kompak, bahu membahu untuk menjalani ujian ini dengan sabar dan tabah. Termasuk tidak memberitahukan hal ini kepada kedua orang tuanya karena kabar yang kudengar ayah mereka di kampung juga sedang sakit. Sungguh ujian yang tidak ringan. Ujian di atas ujian.

Tiga puluh menit berlalu begitu cepat. Bertemu banyak rekan kerja untuk pertama kalinya semenjak berpisah sembilan tahun silam membuat hatiku benar-benar terharu. Aku merasa seperti kembali berada di tengah-tengah keluarga besar yang telah lama kutinggalkan. Seandainya pertemuan ini terjadi bukan di depan kamar jenazah, tentu terasa sangat menyenangkan. Bukan reuni semacam ini yang aku inginkan. Tapi Allah Maha Berkehendak. Melalui kejadian ini Allah mempertemukan kami sekaligus mengingatkan bahwa sesungguhnya kami yang masih tersisa akan menyusul almarhumah juga. Entah kapan, di mana dan dengan cara seperti apa, tak ada yang tahu kecuali Allah swt.

Selamat jalan sahabatku, beristirahatlah dengan tenang di sisiNya. Doa kami menyertaimu. Semoga Allah menerima amal ibadahmu, mengampuni segala dosa dan khilafmu, menempatkanmu di tempat terbaik di sisiNya, dan menjadikanmu ahli syurgaNya. Semoga pula, keridhaan kami selaku sahabat dan rekan kerjamu mempermudah pertemuanmu dengan Sang Khaliq. Sesungguhnya kami pun akan menyusulmu. Entah siapa dulu, entah kapan, hanya soal waktu. Dan kelak bila tiba masanya kita kembali bertemu, bukan tangis dan air mata yang akan mewarnainya, tapi senyum dan sapa ramah di tengah-tengah indahnya taman surga. Amin, ya Rabb.

Ya Allah, kuatkanlah keluarga almarhumah. Luaskanlah kesabaran mereka, teguhkanlah ketegaran di hati mereka. Karena belum kering luka dan air mata di hati mereka, kabar duka kembali kuterima. Beberapa menit sebelum ku mulai menulis kisah ini, sebuah sms masuk ke handphoneku. Ayahanda almarhumah, bapak Ahmad Maolan bin fulan juga telah berpulang ke rahmatullah, hanya berselang 37 jam dari kepulangan almarhumah. Innalillahi wa innailaihi rojiun…..Semoga keduanya Allah jadikan ahli-ahli surga Nya. Amin.

Sungguh berat duka yang dirasakan keluarga ini. Dua hari berturut-turut mereka memakamkan orang-orang yang mereka cintai. Tapi begitulah ketetapan Allah. Bukan kejam, sesungguhnya Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Barangkali saat ini kita belum menemukan, tapi pasti ada satu hikmah yang Allah siapkan untuk keluarga ini. Dan semoga kita bisa mengambil ibrah dari kisah mengharukan ini, bahwa kita pun akan menyusul mereka…

Mengenang almh. Ratimah binti Ahmad Maolan dan alm. Ahmad Maolan bin Fulan, teriring Al Fatihah untuk keduanya.

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (11 votes, average: 8,64 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

Abi Sabila
Seorang pembaca yang sedang belajar menulis.
  • sakid memank di tinggal pergi oleh orang yang kita syangi,,

Lihat Juga

Ilustrasi - Rokok dapat membunuh (inet/Miika Ahvenjarvi)

Rokok Sang Pembunuh