Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Segmentasi Keteladanan

Segmentasi Keteladanan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi (forbes.com)

dakwatuna.com – Hidup ini penuh dengan orang besar, mereka menyelesaikan kehidupannya dengan brilian, melegenda atau menginspirasi. Hidup ini penuh dengan orang bervisi besar yang gigih dalam mengupayakan sesuatu dan mewujudkannya dalam gerak-gerak kehati-hatian atau dengan langkah yang membuat orang terperangah di beberapa tempat. Hidup ini dalam kesehariannya pun ditinggalkan orang-orang besar yang pada akhirnya semua tersingkap kala oto-biografi atau biografinya tersebar, lalu menjadi inspirasi kongkret dan membakar semangat mereka yang bergerak di skup parsial yang sama lalu mencoba melihat dari sisi mana yang memiliki aspek keteladanan lalu menyaringnya serta mewujudkannya, yang lagi-lagi penulis sampaikan sebagai langkah-langkah kerja yang implementatif.

Pembaca yang baik, Qudwah hasanah kita hanyalah satu yang aspek-aspek hidupnya harus kita teladani secara keseluruhan, tak ada kecacatan dalam kehidupannya semua berakhir indah dari segala segi; kearifan, kesabaran, kepekaan, kecerdasan, kejujuran dan segala sifat yang diturunkan setelahnya. Semua menjadi aspek indah, kala tulisan-tulisan analisis dalam sirah nabawiyah secara umum serta dalam skup harakah (pergerakan) membuka wawasan dan cakrawala bagi ummat, agar jangan sampai ummat tidak tau qudwah, tidak tau bahwa ada Ia yang telah melakukan segalanya untuk Islam ini lalu memiliki generasi terbaik sepanjang zaman yang tak tertandingi kecekatan beribadahnya. Sehingga qudwah tidak boleh tidak (indispensable) hanyalah Ia, sang Nabi ALLAH yang mulia.

Lalu penulis menawarkan satu konsep yang dilahirkan dengan istilah yang cukup representatif, kala keseharian manusia hari ini harus melihat sisi kekinian dalam beradaptasi dalam skup ilmunya. Sehingga hari ini mereka yang terus bergerak dalam langkah-langkah amal, kerja dan profesionalisme harus pula memahami akan segmentasi sebuah keteladanan. Qudwah yang utama dan selalu menjadi contoh adalah Ia, Rasul kita, namun pada skup parsial, kita harus pula mempelajari cara-cara tokoh pada skup tertentu agar bisa membakar dan menyesuaikan profesionalisme dalam skup yang terbaik. Segmentasi keteladanan adalah ketika kita meneladani seseorang dalam skup yang tersegmentasi, katakanlah mengapa harus memahami jalan seperti Habibie, bagaimana kegigihan dan kecintaan tanah airnya lalu melahirkan konsep keseimbangan Iman dan kefasihan teknologi secara bersamaan. Lalu kita juga harus meneladani kegigihannya dalam ilmu dan membawahi berbagai bidang dan institusi serta melahirkan satu generasi kuat sebuah cendekiawan muslim di eranya.

Selepasnya, mungkin kita juga harus mensegmentasi keteladanan yang difiltrasi dari kehidupan Steve Jobs yang melahirkan konsep “Simplicity is the ultimate sophistication”, lalu melihat kegigihan dan keras kepalanya dalam mewujudkan sesuatu yang brilian, simple dan tak terlupakan bagi konsumennya. Ini bukan masalah loyal, menurut penulis, namun pengemasan produk Apple telah menuntut mereka loyal secara sendirinya sebagai imbas “Empati”, “Fokus” dan “Hubungan” dari setiap produk Apple itu. Kita perlu melihat bagaimana nuansa riset di Palo Alto, membuat start-up company dari garasi hingga beberapa tahun setelahnya menjadi perusahaan top di dunia, polemik antar pribadi serta kesungguhan yang membuat fenomenal pada akhirnya dengan iPadiPhone dan lainnya. Namun yang sekali lagi perlu kita pahami, segmentasi keteladanan bukanlah mengambil mentah-mentah seluruh lika-liku hidup mereka yang selain Rasulullah, karena kehidupan lain yang tidak sinergi dalam menguatkan iman haruslah disingkirkan dan menjadi pelajaran pula bagi kita, bahwa dunia memiliki trik-trik godaan yang “mengejutkan”, aneh dan berbahaya, sehingga iman sepatutnya diperkokoh agar tembok iman itu bisa kuat dalam terjangan badai atau bahkan angin sepoi yang bisa menjatuhkan monyet-monyet di atas pohon kelapa.

Mungkin pembaca juga perlu melihat bagaimana sirah generasi emas sekelas Abu Bakr, mungkin juga pembaca harus memahami beberapa tarikh akan tokoh yang menggerakkan masa secara integral karena kesatuan misi perbaikan aqidah, mungkin pula ilmuwan-ilmuwan abad tengah yang juga turut andil melahirkan konsep ilmu hari ini. Sehingga segmentasi keteladanan pada akhirnya berujung pada pengambilan sisi positif dari mereka selain Rasulullah dan meninggalkan kejelekan yang menyertai mereka, agar segala langkah tetap terpantau oleh akhlaq dan sungguh indah jika nanti kita bersama menjadi salah satu tokoh yang dielu-elukan, berat memang, namun paling tidak nanti di satu masa yang pasti, keturunan kita haruslah menunggu-nunggu kepulangan orang tuanya selepas mencari penghasilan, untuk menjadi teladan di rumah dan mendengar segala tindak-tanduk proses pengembangan anaknya, yang meneladaninya, bukan menjauhinya. Jadi segmentasi keteladanan tidaklah semua besar, keteladanan dalam skup keluarga atau masyarakat kecil dapat pula menjadi parameter dalam segmentasi keteladanan.

Wallahua’lam.

About these ads

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (2 votes, average: 9,50 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.
Sekretaris Jenderal FORMMIT (Forum Mahasiswa Muslim Indonesia di Taiwan) 2011/12. NSYSU, Taiwan

Lihat Juga

Ketika Keteladanan Telah Sirna