Home / Narasi Islam / Artikel Lepas / Karakter Dasar Sebagai Awal Perubahan

Karakter Dasar Sebagai Awal Perubahan

Konten ini adalah kiriman dari pembaca dakwatuna.com. Kirimkan informasi, gagasan, pemikiran, atau pendapat dari Anda dalam bentuk tulisan kepada kami, klik di sini.
Ilustrasi - (wordpress.com/stanvaganza)

dakwatuna.comSiapa yang tak kenal dengan negeri yang kaya akan sumber daya alam yang melimpah ruah? Siapa yang tak kenal dengan negeri yang dikenal dengan istilah “zamrud khatulistiwa”? Siapa yang tak kenal dengan negeri yang dikenal dengan negeri agraris dan kepulauan bahari? Itulah beberapa istilah mengenai negeri yang kita tempati saat ini. Bahkan ada yang bilang jika kita menanam sesuatu di negeri ini akan tumbuh dengan subur. Banyak data yang membuktikan negeri ini benar-benar negeri yang kaya. Namun, dengan berbagai macam istilah tersebut yang juga didukung dengan sejumlah data-data, kenapa Indonesia tak jua menjadi negara yang mampu bersaing dengan negara tetangga kita yang lain. Singapura dan Malaysia. Kenapa masih banyak anak-anak yang tinggal di jalanan dan tidak bersekolah?

Jika kita melirik negara Singapura adalah negeri yang kecil dan minim akan sumber daya alam. Pertumbuhan penduduknya juga rendah. Di sisi lain, teknologi Singapura yang semakin canggih tiap harinya. Bahkan banyak pejabat, public figure yang berobat ke Singapura. Ada apa dengan Singapura? Pesona teknologi medis yang dimilikinya begitu memikat penduduk negeri ini. Rupanya, Singapura benar-benar memanfaatkan SDM dengan baik. Kompetisi yang sportif adalah sebuah kebutuhan untuk terus meningkatkan produk ciptaannya. Dari Singapura kita belajar urgensi kompetitif yang sportif untuk kemajuan negerinya menjadi lebih baik tiap harinya.

Sebuah negeri yang kaya namun penguasa negerinya tidak memiliki karakter, akan percuma. Penggunaan SDA tanpa batas dan mengedepankan ego adalah hal biasa yang kita lihat di negeri ini. Berlomba-lomba untuk mengeruk kekayaan alam tanpa sedikit pun berfikir untuk anak-cucu penerus bangsa ini. Dibutuhkan tenaga-tenaga ahli yang berkarakter agar mampu mengelola kekayaan negeri ini agar tahu rambu-rambu yang harus dipatuhi. Dan tercapailah cita-cita bangsa untuk menyejahterakan rakyat.

Seringkali kita mendengar banyak orang yang membicarakan tentang pembangunan karakter. Pembangunan karakter atau yang biasa dikenal dengan istilah character building. Sebenarnya apakah kita mengetahui maksud dari istilah tersebut? Sejujurnya saya tidak tahu banyak tentang hal itu. Ironisnya, tanpa saya sadari, saya seringkali mengucapkan istilah itu ke orang banyak. Namun sulit untuk menjelaskan definisi secara detail apa itu “character building”. Sampai saya membaca sebuah buku yang berjudul “character building” by Erie Sudewo. Jarang sekali buku yang menceritakan definisi sebenarnya apa itu “character building”.

Karakter merupakan kumpulan dari tingkah laku baik dari seorang anak manusia yang diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Tingkah laku ini diwujudkan dalam bentuk peran, fungsi, dan tugas dalam mengemban amanah. Karakter berhubungan erat dengan pembentukan kualitas manusia. Manusia yang berkualitas adalah manusia yang berkarakter. Karakter adalah fondasi awal kepribadian seseorang. Tanpa adanya karakter semuanya akan berjalan serakah dan liar, tanpa tujuan. Betapa pentingnya peran karakter dalam meningkatkan kualitas diri manusia. Agar kompetensi yang ada menjadi kompetensi yang sesuai pada tempatnya, berjalan dengan teratur dan berguna bagi orang banyak. Itulah pentingnya karakter untuk mengingatkan manusia untuk terus memperbaiki diri. Paling tidak setiap orang, harus memiliki karakter dasar sebagai permulaannya.

Karakter dasar adalah fondasi awal untuk membangun diri. Karakter dasar memiliki 3 nilai di dalamnya. Tidak egois, Jujur, dan disiplin.

1. Tidak egois

Tidak egois nampaknya sulit bagi setiap orang. Tidak egois adalah sikap untuk mengalah. Mengalah bahwasanya masih ada orang lain yang membutuhkan. Orang yang tidak egois adalah orang yang tidak ingin macam-macam. Tidak mau menyakiti orang lain, dan rela berkorban untuk orang lain. Tidak egois, mengedepankan ketenteraman dan ketenangan. Tidak akan mau mengambil perkara karena sesuatu yang bukan haknya. Tidak egois, memberikan ruang untuk orang lain untuk terus meningkatkan kompetensi diri. Orang yang egois akan merasa semuanya serba kurang. Ingin lebih, lebih dan lebih. Tidak pernah mensyukuri dengan apa yang dimilikinya saat ini. Melihat tetangga yang hidup dengan fasilitas mewah, lantas tidak mau kalah. Berlomba-lomba menunjukkan siapa yang paling kaya. Berlomba-lomba menduduki jabatan yang paling tinggi. Orang egois adalah orang yang selalu menuntut hak. Tanggung jawab diserahkan kepada orang lain. Ketika rapat, tidak memperhatikan suara yang lain. Egois yang tumbuh subur aka n menghasilkan bibit kapitalisme. Kebebasan individu tanpa batas yang menjadi utama.

2. Jujur

“Begitu banyak orang pintar di negeri ini, namun sulit rasanya menemukan orang yang jujur”. Itu adalah salah satu slogan yang seringkali saya ucapkan kepada orang lain. Yang saya kutip dari orang lain. Menjadi pribadi yang jujur tidaklah mudah. Pasti ada saja orang yang tidak menyukai hal ini. Mereka yang tidak menyukai kejujuran adalah mereka yang ingin kebohongan menjadi hal yang biasa dalam hidup. Saya pun pernah mendengar pendapat seseorang “Jika kalian hidup jujur, kalian tidak akan bisa bertahan lama dalam sebuah jabatan, makanya jangan terlalu jujur! Banyak fenomena yang terjadi di negeri ini yang disebabkan oleh krisis kejujuran. Sulitkah berbuat jujur? Di sekolah pun kita sulit menemukan siswa yang jujur. Apakah benar kejujuran telah pergi dari negeri ini? Didukung pula dengan ranking Indonesia di mata dunia tentang kejujuran. Obat yang paling mujarab untuk melawan kebohongan adalah keyakinan diri bahwa masih ada kehidupan setelah ini, dan segala tingkah laku itu akan dipertanggungjawabkan di hadapan yang maha kuasa.

3. Disiplin

“Bangsa yang tidak disiplin, jangan harap bisa maju”. Itulah pendapat dari Mahathir Mohammad dalam buku Character Building ini. Antrian di halte busway, di bank adalah cara untuk melatih kedisiplinan. Pengguna lalu lintas pun banyak yang tidak disiplin, banyak melanggar rambu-rambu. Supir yang ugal-ugalan adalah supir yang tidak disiplin. Menggunakan jalur busway untuk sampai ke tujuan dengan cepat. Kemacetan yang ada di jalan raya adalah buah dari ketidakdisiplinan pengguna jalan. Tidak ada kata mengeluh dalam disiplin. Disiplin rasanya sulit untuk diterapkan di negeri ini. Negeri ini terkenal dengan “Jam karet”. Mari kita belajar dari ayam, yang sebelum adzan subuh dia bangun dan membangunkan manusia. Setelah berkokok, ayam-ayam mencari makan. Karena di pagi hari, rezeki-Nya sedang turun ke muka bumi. Tidak disiplin adalah buah dari kemalasan. Kita butuh istirahat sejenak untuk mengisi bahan bakar dan mengatur strategi bukan untuk bersantai. Karena istirahat yang terlalu lama akan melalaikan.

Tiga karakter dasar di atas adalah hal yang wajib yang harus dimiliki tiap orang. Tidak hanya pemimpin yang harus memilikinya. Bukankah lebih baik jika pemimpin yang berkarakter memiliki masyarakat yang berkarakter pula? Jangan salahkan pemimpin, jangan salahkan pemerintah dan jangan salahkan orang lain mengenai kondisi negeri ini. Tengoklah diri kita apa hal yang harus diperbaiki. Apa yang harus dilakukan untuk membangun negeri ini. Langkah awal yang harus dilakukan adalah jadilah pribadi yang berkarakter!

Referensi: Character Building, Erie Sudewo

Redaktur: Ardne

Beri Nilai:
1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars6 Stars7 Stars8 Stars9 Stars10 Stars (3 votes, average: 9,67 out of 10)
Loading...

Bergabunglah ke Channel @dakwatuna di Telegram, caranya klik di sini.

Tentang

a long life learner, staff humas KAMMI MADANI, Aktivis Forum Remaja Masjid Jakarta Islamic Centre (FORMAS JIC).

Lihat Juga

Ilustrasi. (inet)

Ke Manakah Karakter Umar Bakri di Zaman Modern?