02:56 - Rabu, 01 Oktober 2014

Di Balik Rasa Syukur

Rubrik: Artikel Lepas | Oleh: kiptiah hasan - 02/02/12 | 08:30 | 08 Rabbi al-Awwal 1433 H

Ilustrasi (tonitok.blogspot.com)

dakwatuna.com – Secara fisik kehidupan saya terlihat sangat sederhana, bahkan jauh berbeda di banding dengan orang kebanyakan sekarang. Jauh lebih sederhana. Saya hanya bertempat tinggal di kontrakan, dengan perabotan yang sederhana pula. Hanya di atas karpetlah tempat saya merebahkan diri kala lelah menghampiri bukan di atas kasur empuk pastinya. Bus dan angkutan umum adalah kawan-kawan pendamping saya ketika saya hendak beraktivitas setiap hari. Itulah yang dapat saya lihat dari kehidupan saya sekarang.

Sering terbesit dalam pikiran saya, tatkala melihat rumah-rumah yang layak, ingin memilikinya. Rumah milik sendiri dimana akan terasa jauh lebih nyaman di banding kontrakan saya pastinya. Toh, ketika berada di kontrakan, saya merasa sangat nyaman dan saya mampu beradaptasi dengan segala keterbatasan yang ada. Jika tak di dunia, mudah-mudahan saya akan mendapatkan tempat istimewa kelak di akhirat.

Juga saat saya harus bersusah payah berjalan kaki, harus bersabar menunggu angkutan umum yang datangnya tak bisa di duga. Dalam keadaan seperti itu saya merasa enjoy, saya belajar kesabaran yang lebih saat menunggu bus, saat merasakan ketidaknyamanan di dalam angkutan dan sebagainya. Dari sisi lain, saya mampu mengamati kehidupan yang berbeda manakala berada di jalan atau di dalam angkutan umum. Terlalu banyak hikmah yang bisa di ambil. Dalam balutan kesederhanaan.

Bukan tak mampu saya untuk membeli semua kemewahan yang akan membuat saya nyaman atau memudahkan aktivitas saya. Sebagai manusia, saya pun memiliki iri. Namun rasa itu hanya menjadi sebuah bisikan yang tak pernah saya hiraukan. Manakala saya memang butuh barang tersebut, maka saya akan membelinya. Kebutuhan yang menjadi prioritas utama saya bukan keinginan.

Saya selalu berusaha merasa kaya, saya selalu berusaha merasa cukup. Meskipun kemewahan lalu lalang di hadapan saya dan rasa iri kadang menghinggapi. Alhamdulillah, segala puji hanya untuk Allah Rabb semesta alam. Semoga perasaan qana’ah (merasa cukup dengan rizki yang Allah berikan) selalu hadir dalam hati kita sebagai hambaNya. Allah yang maha baik, yang kita inginkan ketika kita ingat kepada Allah seolah itu sudah cukup. Tak ada yang lain. Allahlah Penggenggam manusia hati manusia, Yang Maha membolakbalikkan hati manusia. Tetapkan hati kami selalu dalam ketaatan padaMu. Aamiin.

Mukjizat syukur, di mana kata tersebut mampu melebihi segala kemewahan yang terdapat di muka bumi. Tak mudah mengucap syukur, manakala saat kita berada lebih sulit di banding orang lain. Hakikatnya, sebagai manusia kita akan merasa ingin seperti dia tapi kenyataannya kita belum mampu. Dengan perlahan belajar untuk selalu bersyukur dengan apa yang Allah berikan, akan menjadikan hati kita selalu tersenyum dengan apa yang di tetapkanNya. Tak perlu kita selalu menatap ke atas, melihat orang lain yang jauh lebih beruntung dari kita, karena hal itu akan membuat kita selalu merasa kurang dan kurang. Padahal syukur itu adalah selalu berusaha merasa kaya bahkan dalam kondisi yang kurang sekalipun. Sering-sering menatap ke bawah, memperhatikan kehidupan jalanan atau yang kurang mampu, karena di sana jika kita memiliki kepekaan hati maka secara otomatis kita akan bersyukur memiliki kehidupan yang lebih baik di banding mereka. Rasa syukur yang dominan akan menggeser keluh kesah yang fitrah di miliki manusia. Bersandarlah hanya kepada Allah.

Paling tidak, bukan dari banyaknya harta yang Allah lihat dari seorang hamba, melainkan ketaatannya. Dan semoga dengan kesederhanaan tak membuat kita merasa rendah diri, terlebih menyalahkan takdir. Karena harta adalah warna warni dunia yang menyilaukan. Manakala manusia ingin memiliki harta, maka itu adalah hawa nafsunya yang berkata, bahkan saat dia merasa ingin dan ingin lagi menambah hartanya itu.

Harta dunia hanya titipan, tak perlu ada rasa iri akannya. Kemegahan akan melalaikan kita dari mengingatNya. Belajarlah untuk belajar hidup sederhana bahkan susah, dengan demikian kita akan lebih menghargai apa yang kita miliki. Harta yang banyak tak menjamin seseorang hidup tenang tanpa merasa gelisah. Rasa takut kehilangan harta akan selalu menghantuinya. Tapi jika hati yang kaya, siapa pun tak akan mampu mencurinya. Kuncinya hanya dengan bersyukur.

Allahua’lam.

Tentang kiptiah hasan

Ya ALLAH, hidupkanlah aku sebagai orang yang tawadhu', wafatkanlah aku sebagai orang yang tawadhu' dan kumpulkan aku dalam kelompok orang-orang yang tawadhu' [Profil Selengkapnya]

Redaktur: Hendra

Keyword:


Beri Nilai Naskah Ini:

Nilai 1Nilai 2Nilai 3Nilai 4Nilai 5Nilai 6Nilai 7Nilai 8Nilai 9Nilai 10 (12 orang menilai, rata-rata: 8,08 dalam skala 10)
Loading...Loading...


Akses http://m.dakwatuna.com/ dimana saja melalui ponsel atau smartphone Anda.
Iklan negatif? Laporkan!
Iklan negatif? Laporkan!
84 queries in 1,599 seconds.